Internasional

Proyeksi IMF, Bank Dunia, dan ADB: Ekonomi Indonesia Bertahan di Kisaran 5% hingga 2026

Jumat, 02 Januari 2026 – Sejumlah lembaga keuangan internasional terkemuka memproyeksikan laju pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tetap berada di kisaran 5% hingga tahun 2026. Meskipun ada sedikit peningkatan dibandingkan tahun 2025, angka ini masih di bawah target pemerintah.

Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan ekonomi Indonesia akan tumbuh sebesar 5% pada tahun 2025, kemudian sedikit naik menjadi 5,1% pada tahun 2026. Proyeksi ini lebih rendah dari target pemerintah dalam APBN 2025 dan 2026, yang masing-masing sebesar 5,2% dan 5,4%.

Temukan artikel informatif lainnya melalui Mureks. mureks.co.id

Indonesia ‘Titik Terang’ di Tengah Ketidakpastian Global

Meski demikian, IMF menyoroti Indonesia sebagai negara “bright spot” atau titik terang di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih tinggi. Penilaian ini disampaikan setelah misi konsultasi Pasal IV 2025 di Indonesia yang dipimpin Kepala Misi IMF Maria Gonzalez pada 3-12 November 2025.

“Indonesia tetap menjadi titik terang global, dengan pertumbuhan ekonomi yang kuat di tengah lingkungan eksternal yang menantang, dan inflasi diperkirakan tetap stabil dalam kisaran sasaran,” demikian dikutip dari siaran pers IMF No. 25/375, Jumat (2/1/2025).

IMF juga mencatat bahwa inflasi umum di Indonesia masih terkendali dengan baik, diproyeksikan akan konvergen menuju titik tengah kisaran sasaran 2,5% plus minus 1%. Defisit transaksi berjalan juga diperkirakan tetap terkendali pada 2025-2026, didukung oleh cadangan devisa yang memadai.

Terkait kebijakan moneter, IMF menilai pelonggaran melalui pemangkasan suku bunga acuan BI Rate, dengan penyelarasan instrumen Bank Indonesia (BI) ke arah yang suportif, merupakan langkah tepat. Pemotongan suku bunga kumulatif 150 basis poin (bps) dan langkah peningkatan likuiditas diharapkan secara bertahap memperkuat pertumbuhan kredit.

“Ke depannya, mungkin ada ruang untuk beberapa pemotongan suku bunga kebijakan lebih lanjut. Tingkat dan laju pemotongan tersebut harus terus bergantung pada data, mempertimbangkan efek tertunda dari tindakan BI yang telah diambil, dan memperhitungkan impuls fiskal yang suportif serta kebutuhan untuk menjaga ruang terhadap guncangan eksternal,” kata IMF.

Bank Dunia Kerek Proyeksi, Pertumbuhan Tetap di 5%

Sementara itu, Bank Dunia dalam laporan Indonesia Economic Prospects (IEP) edisi Desember 2025 mengerek naik proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Meskipun demikian, Bank Dunia memperkirakan ekonomi Indonesia masih akan bergerak di kisaran 5%.

Dalam ramalan terbarunya, Bank Dunia memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5% pada 2025-2026, serupa dengan proyeksi 2023-2024. Pertumbuhan baru akan mencapai 5,2% secara tahunan pada 2027. Angka ini naik pesat dibanding proyeksi sebelumnya dalam IEP edisi Juni 2025 yang hanya 4,7% (2025), 4,8% (2026), dan 5% (2027).

“Pertumbuhan PDB bertahan di kisaran 5% per tahun secara tahunan, sejalan dengan tahun-tahun sebelumnya dan melampaui rata-rata negara berpendapatan menengah. Ini merupakan kabar baik,” ujar Direktur Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor Leste, Carolyn Turk, saat peluncuran IEP edisi Desember 2025 di Jakarta, Selasa (16/12/2025).

Bank Dunia mendasari proyeksi pertumbuhan 5% ini dari kinerja ekspor dan investasi yang kuat. Hal ini didukung oleh percepatan pengiriman ekspor dan meningkatnya permintaan global terhadap komoditas seperti minyak kelapa sawit, besi, baja, dan emas.

“Pertumbuhan tersebut didorong oleh investasi dan ekspor yang mampu mengimbangi tren konsumsi swasta yang sedikit melemah. Pertumbuhan juga relatif berbasis luas, dengan sektor jasa yang didukung oleh stimulus fiskal serta produksi pertanian yang kembali meningkat secara signifikan,” ucap Carolyn.

Bank Dunia juga mengapresiasi kebijakan moneter BI yang memangkas suku bunga acuan sebesar 150 basis poin (kumulatif sejak September 2024) menjadi 4,75%, turut berkontribusi pada percepatan pertumbuhan.

Secara keseluruhan, Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan 5% pada 2025-2026 ditopang oleh kinerja ekspor yang tumbuh 7% (2025) dan 5,6% (2026), serta investasi yang tumbuh 6,1% (2025) dan 6,2% (2026). Konsumsi swasta diproyeksikan tumbuh 4,9%, sementara konsumsi pemerintah 0,1% (2025) dan 5,8% (2026).

ADB Juga Revisi Naik Proyeksi, Namun Masih Kalah dari Tetangga

Asian Development Bank (ADB) turut merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk 2025-2026. Dalam Asian Development Outlook (ADO) Desember 2025, pertumbuhan ekonomi Indonesia direvisi menjadi 5% (dari 4,9%) untuk 2025 dan 5,1% (dari 5%) untuk 2026.

Kenaikan proyeksi ini didasari kinerja ekspor yang kuat, perbaikan belanja pemerintah, dan konsumsi dalam negeri yang ditopang stimulus fiskal dan moneter.

“PMI (Purchasing Manager’s Index) naik di atas level 50 dari Agustus hingga Oktober, menandakan ekspansi aktivitas industri. Belanja pemerintah meningkat melalui pelaksanaan anggaran yang lebih baik dan stimulus, meskipun investasi dan konsumsi rumah tangga mengalami moderasi setelah kenaikan pada periode sebelumnya,” demikian laporan terbaru ADB, Rabu (10/12/2025).

Mureks mencatat bahwa laju pertumbuhan ekonomi Indonesia, meskipun stabil, masih kalah dibandingkan beberapa negara tetangga di Asia Tenggara dan Asia secara keseluruhan.

NegaraProyeksi 2025Proyeksi 2026
Vietnam7,5% (dari 6,7%)6,4% (dari 6%)
Filipina5% (dari 5,6%)5,3% (dari 5,7%)
India7,2% (dari 6,5%)6,5% (tetap)
China4,8%4,3%
Malaysia4,5%4,3%
Thailand2%1,6%
Singapura4,1%2,1%

ADB menjelaskan, pertumbuhan pesat Vietnam didorong oleh sektor manufaktur berorientasi ekspor dan sektor jasa domestik yang kuat, ditambah peningkatan investasi publik dan reformasi proyek transportasi prioritas nasional.

Filipina, dengan pertumbuhan 5% (2025) dan 5,3% (2026), ditopang tingkat pengangguran rendah (3,8% pada September 2025) dan remitansi stabil. Inflasi rendah dan pelonggaran moneter berkelanjutan juga mendukung permintaan domestik.

Sementara itu, India diproyeksikan tumbuh 7,2% (2025) dan 6,5% (2026), berkat ekspansi kuat sektor manufaktur dan jasa, serta konsumsi dan investasi. Ekspor India juga tangguh karena peningkatan produksi dan diversifikasi pasar.

Mureks