Nasional

Presiden Prabowo Setujui Operasi Besar Normalisasi Sungai Berlumpur di Sumatera Pasca-Bencana

Presiden Prabowo Subianto menyetujui rencana dilakukannya operasi besar untuk menormalisasikan aliran sungai di daerah yang terdampak bencana di Sumatera. Keputusan ini diambil untuk mengatasi pendangkalan sungai akibat endapan pasir dan lumpur yang terbawa arus banjir.

Persetujuan tersebut disampaikan Prabowo dalam rapat koordinasi di Aceh Tamiang pada Jumat, 02 Januari 2026. “Saya kira itu usul yang baik. Itu juga yang diusulkan Gubernur kepada saya sebenarnya. Jadi kuala-kuala (muara sungai) itu yang kita akan normalisasi, kita bongkar itu ya. Beliau sudah berapa saat yang lalu sudah sampaikan, saya sudah setuju,” kata Prabowo.

Klik mureks.co.id untuk tahu artikel menarik lainnya!

Mureks mencatat bahwa operasi ini menjadi krusial mengingat kondisi sungai-sungai yang mengalami pendangkalan masif pasca-bencana. Prabowo juga mengungkapkan adanya ketertarikan dari pihak swasta untuk membeli endapan lumpur hasil pengerukan. “Ada perusahaan-perusahaan besar yang punya keahlian di bidang ini, ya. Dredging (pengerukan) untuk pelabuhan dan sebagainya ya,” ungkapnya.

Ia menambahkan, “Dan nanti juga bermanfaat itu. Kalau bisa lumpurnya kalau ada yang mau, kalau ada swasta mau beli ya monggo, silakan. Langsung dinikmati oleh daerah-daerah.”

Usulan operasi besar ini datang dari Menteri Pertahanan Jenderal (Purn.) Sjafrie Sjamsoeddin. Sjafrie menjelaskan, normalisasi kuala-kuala yang banyak bermuara di laut akan memungkinkan kapal-kapal TNI melintas, sehingga pergerakan logistik dan alat berat menjadi lebih mudah dan efisien.

“Dan ini saya sudah bicara dengan Wapang, Angkatan Darat, kita harus upayakan ini besar-besaran. Tidak hanya Tamiang, tapi di Bireuen juga harus kita kerjakan. Jadi di Aceh kita lakukan itu, kita lihat lagi kalau ada di Sibolga umpamanya,” jelas Sjafrie.

Ia melanjutkan, “Jadi, dari laut kita sudah lakukan pendalaman sampai ke sungai. Sehingga kapal tidak perlu lagi taruh itu alat berat, digendong pakai jalur darat, tapi dia langsung ke titik terdekat. Ini usul kami, Bapak Presiden.”

Sjafrie juga menegaskan telah dibentuk Satuan Tugas (Satgas) Kuala. Satgas ini memiliki dua komposisi tugas utama, yaitu pendalaman sungai dan pemanfaatan air. “Setelah saya koordinasi dengan Wakil Panglima dan KSAD. Hari ini sudah kita bentuk Satgas Kuala,” ujar Sjafrie.

“Di dua komposisi kapal ini, akan kita naikkan water treatment system sehingga air yang ada di kuala kita ambil, kita olah, sehingga menjadi air jernih,” tambahnya. Satgas Kuala direncanakan mulai efektif bertugas dalam dua pekan ke depan, dengan sasaran pertama Kuala Simpang di Aceh Tamiang. “Kita akan hari ini, siang ini terbentuk satgas dua Minggu kemudian kami akan operasional mulai dari Kuala Simpang,” ungkapnya.

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian turut merespons ide tersebut. Tito menyarankan penggunaan kapal penyedot lumpur yang biasa digunakan dalam penambangan. “Kami juga berkomunikasi dengan teman-teman yang di biasa nambang-nambang itu, Pak. Jadi untuk sungai-sungai terutama di kuala-kuala ini sedemikian besar, lebar, dan masif sedimennya. Sehingga kalau menggunakan alat bekhoe atau ekskavator itu lambat pasti, Pak,” kata Tito.

“Saran kami kapal-kapal yang untuk dredging itu, tambang yang banyak di Bangka Belitung gitu, Pak. Itu daya sedotnya luar biasa, mereka cepat sekali, Pak. Demikian, Bapak. Makasih, Pak,” pungkasnya.

Mureks