Internasional

Presiden Donald Trump Ancam Gempur Iran Jika Otoritas Bunuh Warga dalam Demonstrasi Berdarah

Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan ancaman keras terhadap Iran, menyatakan akan “menggempur” negara tersebut jika rezim mulai membunuh warga yang berunjuk rasa dalam demonstrasi berdarah yang telah berlangsung beberapa waktu terakhir.

Ancaman tersebut disampaikan Trump menyusul gelombang demonstrasi besar-besaran di Iran yang dipicu oleh krisis ekonomi akut, berujung pada kerusuhan sipil.

Artikel informatif lainnya tersedia di Mureks melalui laman mureks.co.id.

Dalam wawancara dengan penyiar radio konservatif Hugh Hewitt pada Kamis (8/1), Trump menegaskan, “Saya sudah memperingatkan mereka bahwa jika mereka mulai membunuh orang-yang biasanya mereka lakukan saat kerusuhan, karena mereka sering mengalami kerusuhan, jika itu terjadi, kami akan menghantam mereka dengan sangat keras.”

Menurut pantauan Mureks, sebanyak 36 orang dilaporkan tewas dalam demonstrasi berdarah yang pecah di 92 kota Iran selama 10 hari terakhir. Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA), yang dikutip Iran International pada Rabu (7/1), melaporkan bahwa 34 demonstran dan dua anggota pasukan keamanan Iran tewas sejak kerusuhan dimulai pada 28 Desember.

Empat dari korban tewas berusia di bawah 18 tahun. Puluhan demonstran lainnya juga dilaporkan terluka, banyak di antaranya akibat peluru karet dan peluru plastik.

Sejak akhir Desember lalu, Iran memang dilanda demonstrasi besar-besaran akibat kekecewaan warga terhadap inflasi yang sangat tinggi. Pihak berwenang Iran disebut menggunakan kekuatan berlebih dalam merespons massa. Isu demonstrasi kemudian meluas hingga menuntut perubahan rezim Ali Khamenei. Kini, protes telah menyebar ke 27 provinsi dan ribuan orang telah ditangkap.

Pemerintah Iran sendiri mengancam akan melancarkan serangan antisipasi, menuding Amerika Serikat memanas-manasi demonstrasi di Teheran. Sekretariat Dewan Pertahanan Tertinggi Iran pada Selasa (6/2) menyatakan bahwa keamanan, kemerdekaan, dan integritas teritorial Iran sama sekali tak boleh dilanggar.

Ancaman Trump terhadap Iran ini muncul setelah AS melancarkan serangan ke Venezuela, yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro yang kini mendekam di penjara New York. Langkah AS di Venezuela memicu kritik dan protes dari berbagai negara karena dinilai melanggar hukum internasional dan kedaulatan sebuah negara. Aksi AS ini juga menimbulkan kekhawatiran di kalangan pemimpin negara lain, terutama yang selama ini bertentangan dengan Washington, terlebih setelah Presiden Donald Trump memberi isyarat bahwa langkah serupa bisa terjadi pada sejumlah negara lain seperti Kolombia hingga Iran.

Mureks