Kabupaten Ponorogo langsung merespons status barunya sebagai bagian dari Jejaring Kota Kreatif UNESCO (UNESCO Creative Cities Network/UCCN) dengan percepatan agenda kebudayaan. Pemerintah Kabupaten Ponorogo bersama Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) telah menyiapkan ratusan kegiatan seni dan budaya yang akan digelar sepanjang tahun 2026.
Top 10 Karisma Event Ponorogo Siap Ramaikan Kalender Budaya
Dari puluhan agenda yang direncanakan, sejumlah event unggulan telah ditetapkan masuk dalam Top 10 Karisma Event Ponorogo (KEPO). Mureks mencatat bahwa beberapa di antaranya adalah Ritual Adat Selan Gong Gumbeng di Desa Wringinanom, Kecamatan Sambit yang dijadwalkan pada 15 Mei 2026, serta Bedingin Bungah Desa di Kecamatan Sambit pada 15 Juni 2026.
Simak artikel informatif lainnya di Mureks melalui mureks.co.id.
Agenda lainnya meliputi Puja Astungkara Desa Bancangan, Kecamatan Sambit pada Juni 2026, dan Festival Lokangan di Desa Senepo, Kecamatan Slahung pada 15 Agustus 2026. Rangkaian kegiatan berlanjut dengan Sedekah Budaya Ngendut di Desa Ngendut, Kecamatan Balong yang dimulai 20 Agustus 2026, serta Kirab Tirta Amerta Suci Desa Tugurejo, Kecamatan Slahung pada 30 Agustus 2026.
Masih di bulan Agustus, Kirab Pusaka Boyong Keprabon di Desa Sawoo turut meramaikan kalender budaya. Selanjutnya, Hastungkara Brata Desa Klepu, Kecamatan Sooko akan digelar pada September 2026, disusul Festival Plunturan di Kecamatan Pulung serta Carangrejo Culture Fest di Kecamatan Sampung pada November 2026.
Komitmen Pemda di Tengah Efisiensi Anggaran
Plt Bupati Ponorogo Lisdyarita menjelaskan, dari keseluruhan agenda tersebut telah diseleksi sejumlah event prioritas yang masuk kalender resmi daerah hingga nasional. “Top ten-nya ada 10 desa terbaik. Selain itu ada 10 event yang masuk kalender event Kabupaten Ponorogo dan satu event yang sudah menjadi Karisma Event Nasional,” ujar Lisdyarita pada Kamis (1/1/2026).
Lisdyarita menegaskan, pengakuan sebagai kota kreatif UNESCO menjadi tanggung jawab besar yang harus dijaga bersama, meskipun pemerintah daerah dihadapkan pada kebijakan efisiensi anggaran. “Kita tetap harus menjalankan komitmen UCCN ini. Temanya boleh sederhana, tapi kemasannya harus bisa wow,” kata Bunda Rita, sapaan akrabnya.
Menurutnya, maraknya agenda budaya sepanjang 2026 diharapkan mampu menggerakkan roda perekonomian lokal, khususnya di desa-desa. Selain itu, event-event tersebut menjadi sarana memperkenalkan kekayaan budaya Ponorogo yang lebih luas. “Bukan hanya Reog, Ponorogo punya banyak potensi budaya lain yang layak dikenal,” jelasnya.
Festival Nasional Reog Ponorogo Kembali Masuk KEN
Sementara itu, Kepala Disbudparpora Ponorogo Judha Slamet Sarwo Edi menambahkan, Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) kembali masuk Karisma Event Nusantara (KEN) yang digagas Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. “Tahun 2026 menjadi tahun ke-6 FNRP berturut-turut masuk kalender KEN,” kata Judha.
Selain Top 10 KEPO, tercatat sedikitnya 60 agenda budaya dan festival lain akan digelar di berbagai wilayah Ponorogo sepanjang 2026. Dua agenda paling ikonik, yakni Grebeg Suro 2026 dan Festival Nasional Reog Ponorogo, dijadwalkan berlangsung pada Juni 2026 dan menjadi magnet utama kunjungan wisatawan.






