Keuangan

Pengamat UGM: Invasi AS ke Venezuela Berpotensi Picu Lonjakan Harga Minyak Dunia

Langkah Amerika Serikat (AS) menginvasi Venezuela dan menggulingkan Presiden Nicolas Maduro diperkirakan akan memicu kenaikan harga minyak mentah global. Venezuela dikenal sebagai salah satu negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia, sehingga setiap gejolak di sana memiliki dampak signifikan terhadap pasar energi.

Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, menilai bahwa upaya Presiden AS Donald Trump untuk mengontrol produksi dan suplai minyak Venezuela akan berdampak langsung pada pasar minyak global. Menurut Fahmy, pola ini bukan hal baru bagi AS.

Baca liputan informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id

Kepentingan AS atas Sumber Minyak

“Kalau kita lihat, kebiasaan AS itu kan ingin menguasai sumber-sumber minyak, terutama di Timur Tengah dan sekarang di Amerika Selatan. Venezuela kan juga termasuk penghasil minyak,” ujar Fahmy kepada Kompas.com pada Senin, 5 Januari 2026.

Besaran kenaikan harga minyak dunia, menurut Fahmy, sangat bergantung pada sejauh mana invasi AS memengaruhi stabilitas Venezuela dan kawasan sekitarnya. Mureks mencatat bahwa persoalan Venezuela juga tidak dapat dilepaskan dari kepentingan negara-negara besar lain seperti China dan Rusia, yang merupakan mitra ekonomi utama Venezuela dan penentang dominasi AS.

China diketahui menjadi salah satu pengimpor minyak terbesar dari Venezuela, sementara Rusia memiliki kepentingan geopolitik yang kuat di kawasan tersebut. Fahmy memprediksi, selama konflik tidak berkembang menjadi perang terbuka yang melibatkan banyak negara, kenaikan harga minyak dunia cenderung tidak akan ekstrem.

Dua Skenario Kenaikan Harga Minyak

Dalam skenario ini, penguasaan Venezuela oleh AS hanya akan membuat suplai minyak dari negara tersebut berada di bawah kendali Washington. “Kalau misalnya konflik tadi meluas, itu sudah pasti akan berpengaruh pada harga minyak. Tapi kalau misalnya tidak meluas, tetapi penguasaan oleh AS yang artinya suplai dari Venezuela itu kan ditentukan oleh AS, maka saya perkirakan itu berpotensi meningkatkan harga minyak dunia,” jelasnya.

Jika konflik tidak melibatkan China maupun Rusia secara langsung, Fahmy menuturkan, harga minyak dunia berpeluang naik sekitar 10-20 dollar AS per barrel. Namun, situasinya akan berbeda drastis apabila konflik meluas dan menyeret kekuatan besar lainnya, terutama Rusia yang juga merupakan salah satu produsen minyak mentah terbesar dunia.

“Kalau eskalasinya meningkat dan melibatkan China serta Rusia, tidak menutup kemungkinan harga minyak dunia bisa menembus di atas 100 dollar AS per barrel,” ucap Fahmy Radhi.

Mureks