JAKARTA – Perbandingan model pembangunan ekonomi antara Penang, Malaysia, dan Bali, Indonesia, kembali menjadi sorotan. Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), Abdul Sobur, menegaskan bahwa sebuah pulau kecil dapat mencapai kekuatan ekonomi signifikan jika ditopang oleh sistem yang disiplin dan struktur ekonomi yang terdiversifikasi, bukan semata bergantung pada sektor pariwisata.
Penang Ungguli Bali dalam PDRB dan Pendapatan Per Kapita
Abdul Sobur membandingkan Penang dan Bali sebagai dua pulau yang sama-sama dikenal dunia. Secara geografis dan demografis, Bali jauh lebih besar dengan luas sekitar 5.780 kilometer persegi dan jumlah penduduk lebih dari 4,4 juta jiwa. Sementara itu, Penang hanya seluas sekitar 1.048 kilometer persegi dengan populasi sekitar 1,8 juta jiwa.
Temukan artikel informatif lainnya melalui Mureks. mureks.co.id
Namun, menurut Mureks, dari sisi ekonomi, kondisi justru berbalik. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Penang diperkirakan berada di kisaran 30-35 miliar dollar AS, melampaui Bali yang berada di kisaran 20-25 miliar dollar AS. Pendapatan per kapita Penang juga jauh lebih tinggi, yakni sekitar 17.000-20.000 dollar AS, dibandingkan Bali yang berada di kisaran 5.000-6.000 dollar AS.
Data tersebut, Mureks mencatat, menunjukkan bahwa luas wilayah dan jumlah penduduk tidak otomatis menentukan kekuatan ekonomi sebuah daerah. “Sistem, disiplin kebijakan, dan diversifikasi ekonomi justru jauh lebih menentukan dampaknya terhadap kemakmuran warga,” ujar Sobur melalui keterangan pers pada Senin (5/1/2026).
Pelajaran dari Penang: Ketertiban Sistem dan Diversifikasi Industri
Sobur menuturkan pengamatannya selama empat malam lima hari di Penang, di mana ia menetap di kawasan Gurney dan banyak berjalan kaki di pusat kota, termasuk George Town, kawasan yang telah ditetapkan sebagai warisan dunia UNESCO. Tanpa agenda resmi atau kunjungan industri, Sobur memilih mengamati kehidupan kota dari sudut pandang pengunjung biasa.
Menurutnya, Penang memang tidak memiliki pesona spiritual sekuat Bali. Tidak ada lanskap dramatis seperti Ubud atau Tanah Lot, dan ritual budaya tidak hadir setiap harinya. Namun, yang terasa sangat kuat adalah ketertiban sistem. Transportasi publik berjalan baik dan terjangkau, ruang kota tertata rapi, kawasan heritage tetap hidup tanpa tercekik pariwisata massal, dan kota terasa nyaman bagi warga maupun wisatawan.
Yang paling menarik, lanjut Sobur, pariwisata bukanlah tulang punggung ekonomi Penang. Di balik tenangnya George Town, Penang justru menjadi basis industri manufaktur berteknologi tinggi, mulai dari elektronik hingga alat kesehatan, serta layanan kesehatan berkelas yang terhubung dengan rantai pasok global. “Pariwisata hadir sebagai pelengkap, bukan penentu hidup-matinya ekonomi,” tegasnya.






