Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya ditangkap oleh pasukan elite Amerika Serikat, Delta Force, di New York City pada Sabtu (3/1/2026). Penangkapan ini menyusul serangan besar-besaran yang dilancarkan AS terhadap Venezuela, termasuk ibu kota Caracas.
Maduro telah memimpin Venezuela dengan gaya ‘tangan besi’ selama lebih dari satu dekade, sejak pertama kali berkuasa pada tahun 2013. Di bawah pemerintahannya, negara tersebut terperosok dalam krisis multidimensional, mulai dari penindasan politik hingga kehancuran ekonomi.
Klik mureks.co.id untuk tahu artikel menarik lainnya!
Mureks mencatat bahwa selama masa kepemimpinannya, sekitar tujuh juta warga Venezuela bermigrasi ke luar negeri. Situasi ini terjadi di tengah tudingan penahanan sewenang-wenang, praktik penyiksaan, dan hilangnya kebebasan berpendapat bagi warga negara.
Secara ekonomi, Venezuela juga mengalami keruntuhan parah dengan empat tahun berturut-turut hiperinflasi. Produk Domestik Bruto (PDB) negara itu anjlok hingga 80 persen dalam satu dekade terakhir.
Penindasan terhadap oposisi kembali mencuat usai Maduro mengeklaim kemenangan dalam pemilu Juli 2024. Dalam penumpasan aksi protes pasca-pemilu tersebut, lebih dari 2.400 orang ditangkap, 28 orang tewas, dan sekitar 200 lainnya terluka. Kekerasan serupa juga terjadi pada tahun 2014, 2017, dan 2019.
Maduro terpilih kembali pada tahun 2018 dan kembali mengeklaim kemenangan pada tahun 2024 dalam pemilu yang secara luas dinilai curang oleh komunitas internasional. Ia sempat dilantik untuk masa jabatan ketiga pada Januari 2025, yang seharusnya membuatnya berkuasa hingga 18 tahun, melampaui masa kepemimpinan Hugo Chavez selama 14 tahun.
Sepanjang berkuasa, Maduro bertahan dengan dukungan militer dan aparat keamanan, serta sekutu internasional seperti China, Kuba, dan Rusia. Ia membungkus kepemimpinannya dengan citra damai lewat slogan “Tidak ada perang, ya untuk perdamaian!”, sebuah narasi yang kontras dengan praktik represif di negara tersebut.
Trump Tegaskan AS Akan Ambil Alih Venezuela
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa negaranya akan mengambil alih pengelolaan Venezuela usai penangkapan Maduro. Trump mengatakan Amerika Serikat akan menjalankan Venezuela untuk sementara waktu demi memastikan proses transisi berjalan aman dan terkendali.
“Kita akan menjalankan negara ini sampai kita dapat melakukan transisi yang aman, tepat, dan bijaksana. Jadi kita tidak ingin terlibat dengan orang lain yang masuk dan kita memiliki situasi yang sama seperti yang kita alami selama bertahun-tahun terakhir,” ujar Trump dalam konferensi persnya, Minggu (4/1/2026).
“Jadi kita akan menjalankan negara ini sampai kita dapat melakukan transisi yang aman, tepat, dan bijaksana. Dan itu harus bijaksana karena itulah tujuan kita,” tandasnya.
Serangan Militer AS di Caracas
Militer Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap ibu kota Venezuela, Caracas, pada Sabtu dini hari (3/1/2026). Pantauan Mureks mencatat bahwa ledakan terdengar hingga setidaknya tujuh kali di kota tersebut, menandai eskalasi signifikan dalam konflik ini.






