Pangeran Harry kembali menggegerkan publik dengan pengakuannya mengenai kehidupan di balik tembok Kerajaan Inggris. Dalam memoar terbarunya, Spare, ia secara blak-blakan membongkar sisi kelam perayaan akhir tahun yang seharusnya penuh kehangatan, namun justru diwarnai tekanan dan kompetisi.
Harry mengenang momen kepulangannya dari ekspedisi ekstrem di Kutub Selatan pada tahun 2013, yang bertepatan dengan libur Natal di Sandringham. Ia berharap dapat mempertahankan ketenangan batin yang telah ia raih dari perjalanan tersebut.
Artikel informatif lainnya dapat dibaca di Mureks mureks.co.id.
“Saya berkata pada diri sendiri untuk memanfaatkan situasi ini sebaik mungkin, menggunakan waktu ini untuk melindungi ketenangan yang telah saya raih di Kutub Utara,” beber Harry, seperti yang Mureks catat dari kutipan memoarnya.
Namun, harapan itu pupus. Harry justru dihadapkan pada ketegangan yang bersumber dari Court Circular, dokumen tahunan berisi daftar kegiatan resmi anggota keluarga kerajaan. Dokumen ini diterbitkan Istana St. James dan rutin dimuat di media-media besar Inggris.
Harry menggambarkan obsesi keluarganya terhadap laporan tersebut sebagai sesuatu yang tidak sehat, bahkan menyebutnya sebagai “malware” yang menginfeksi. “Hard drive saya telah dibersihkan. Sayangnya, keluarga saya pada saat itu terinfeksi oleh beberapa malware yang sangat menakutkan,” sambungnya.
Ia mengungkap bahwa isi Court Circular kerap disusun secara subjektif. Beberapa anggota keluarga bahkan memasukkan kegiatan nonresmi demi terlihat lebih produktif, mengabaikan esensi kerja kemanusiaan.
“Semuanya berdasarkan laporan pribadi, semuanya subjektif. Sembilan kunjungan pribadi dengan para veteran, membantu kesehatan mental mereka? Nol poin. Terbang dengan helikopter untuk meresmikan peternakan kuda? Pemenang!” tulis Harry, menyoroti ketimpangan penilaian.
Adik Pangeran William ini juga menyoroti ketimpangan struktural dalam pembagian tugas dan anggaran. Menurutnya, kendali penuh berada di tangan Raja Charles, yang menentukan seberapa jauh anak-anaknya dapat berkontribusi secara resmi.
“Tak seorang pun dari kamu memutuskan sendiri berapa banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Hanya Ayah yang mengendalikan dana kami, kami hanya bisa melakukan apa yang mampu kami lakukan dengan sumber daya dan anggaran apa pun yang kami dapatkan darinya,” kata bapak dua anak itu.
Situasi tersebut, menurut Harry, menimbulkan rasa frustrasi. Publik kerap menghakimi tanpa mengetahui batasan dan sumber daya yang sebenarnya ia alami sebagai anggota keluarga kerajaan.






