Operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Bina Bangsa Semarang 03 dihentikan sementara. Keputusan ini menyusul dugaan keracunan yang menimpa 152 santri dan siswa di Kecamatan Kutorejo, Mojokerto, Jawa Timur, pada Sabtu, 10 Januari 2026. Para korban diduga mengalami keracunan setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disediakan oleh SPPG tersebut.
Dandim 0815 Mojokerto, Letkol Inf Abi Swanjoyo, menyatakan bahwa TNI/Polri, Pemerintah Kabupaten Mojokerto, dan Badan Gizi Nasional (BGN) akan segera melakukan evaluasi serta investigasi mendalam untuk memastikan penyebab pasti keracunan massal ini. “Kami setop (operasional SPPG Yayasan Bina Bangsa Semarang 03), kita evaluasi dan diadakan investigasi,” kata Letkol Abi kepada awak media di Pondok Pesantren An-Nur Desa Singowangi, Kecamatan Kutorejo, Mojokerto.
Baca artikel informatif lainnya di Mureks melalui laman mureks.co.id.
Penghentian sementara operasional SPPG akan berlangsung hingga hasil investigasi dan uji laboratorium terhadap sampel makanan MBG yang diduga menjadi penyebab keracunan keluar. Letkol Abi menegaskan, jika ditemukan unsur kelalaian atau pidana, pihaknya tidak akan segan untuk memproses hukum. “Kalau memang ada unsur kelalaian kita sesuaikan, kalau dari unsur pidana memang ada, otomatis akan kita proses,” ujarnya.
Menurut catatan Mureks, data sementara menunjukkan total 152 orang yang terdampak keracunan. Mereka tersebar di beberapa lokasi dan rumah sakit. “Untuk sementara data yang kami terima total 152 orang yang terbagi di beberapa tempat dan rumah sakit. Kepastiannya jumlah anak-anak yang terdampak akan kami dalami lagi,” tambah Letkol Abi.
Ratusan siswa dan santri yang menjadi korban berasal dari berbagai institusi pendidikan di Mojokerto, meliputi SMP/MTs dan SMA/MA Pondok Pesantren Al Hidayah Desa Wododadi, MTs dan MA Pondok Pesantren An-nur Desa Singowangi, serta SMPN 2 Kutorejo. Saat ini, mereka mendapatkan perawatan intensif di sejumlah fasilitas kesehatan, termasuk Puskesmas Kutorejo, Gondang, Pacet, Bangsal, serta Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Prof dr Soekandar di Kecamatan Mojosari.
Koordinator wilayah BGN Kabupaten Mojokerto, Rosidian Prasetyo, mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan investigasi awal di SPPG Yayasan Bina Bangsa Semarang 03. Hasil investigasi awal menunjukkan bahwa para pekerja SPPG telah beroperasi sesuai standar operasional prosedur (SOP) yang ditetapkan. Meski demikian, Rosidian menyatakan akan tetap menunggu hasil kajian resmi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto dan pihak kepolisian.
“Untuk indikasinya sampai saat ini belum bisa kami simpulkan. Karena penyajiannya (MBG) Jumat sedangkan gejala muncul ada yang Jumat malam tetapi secara keseluruhan Sabtu. Kita tidak tahu selama rentan waktu itu mereka makan apa,” beber Rosidian, menyoroti kompleksitas dalam menentukan penyebab pasti keracunan.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto, Dra Dyan Anggrahini, menjelaskan bahwa gejala yang dialami para santri dan siswa bervariasi, mulai dari mual, muntah, pusing, hingga diare. Dari total korban, 15 orang di antaranya telah dirujuk ke RSUD Prof dr Soekandar untuk penanganan lebih lanjut.






