Kinerja pasar modal Indonesia sepanjang tahun 2025 menunjukkan pertumbuhan positif, namun Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat masih ada ruang perbaikan yang signifikan. Sorotan utama tertuju pada saham-saham unggulan yang tergabung dalam indeks LQ45, yang dinilai belum sepenuhnya mencerminkan penguatan pasar secara keseluruhan.
IHSG Menguat, LQ45 Tertinggal
Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, menyampaikan bahwa berdasarkan data penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 30 Desember 2025, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan penguatan signifikan sepanjang tahun. Namun, ia menekankan adanya disparitas kinerja.
Mureks menghadirkan beragam artikel informatif untuk pembaca. mureks.co.id
“Namun demikian, kita juga melihat bahwa masih banyak ruang perbaikan yang harus dilakukan. Indeks LQ45 yang berisi saham-saham perusahaan terbesar dan menjadi rujukan investasi fund manager global maupun domestik hanya tumbuh 2,41% jauh di bawah kenaikan IHSG,” ujar Mahendra dalam sambutannya pada acara pembukaan perdagangan perdana pasar modal Indonesia 2026, Jumat (2/1/2026).
Kontribusi Pasar Saham ke PDB Masih di Bawah Kawasan
Mahendra juga menyoroti peningkatan kontribusi pasar saham terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia yang naik tajam dari 56% pada akhir 2024 menjadi 72% pada akhir 2025. Peningkatan ini dinilai luar biasa, namun menurut Mureks, posisi Indonesia masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara di kawasan.
“Sekalipun demikian, angka itu masih berada di bawah negara-negara di kawasan kita seperti India 140%, Thailand 101%, dan Malaysia 97% dari PDB mereka masing-masing,” katanya.
Peningkatan kontribusi pasar modal terhadap PDB tersebut, menurut Mahendra, menunjukkan masih besarnya potensi pengembangan pasar modal nasional ke depan. Ia menyebut ruang pertumbuhan masih terbuka lebar dibandingkan negara-negara lain di Asia.
Perlindungan Investor Ritel Mendesak
Selain itu, Mahendra mencatat porsi transaksi investor ritel di pasar saham domestik terus meningkat signifikan, dari 38% pada akhir 2024 menjadi 50% berdasarkan data terakhir. Komposisi investor ini didominasi oleh generasi Y dan Z.
Kondisi ini menuntut penguatan perlindungan investor, integritas pasar, serta literasi dan edukasi agar partisipasi investor ritel tetap sehat dan berkelanjutan.
BEI Targetkan Masuk Top 10 Bursa Dunia pada 2030
Sementara itu, Bursa Efek Indonesia (BEI) menargetkan dapat masuk ke jajaran 10 bursa terbesar dunia dalam lima tahun ke depan. Target ambisius ini tertuang dalam Master Plan BEI 2026–2030 yang disiapkan untuk menjaga momentum pertumbuhan pasar modal Indonesia.
Direktur Utama BEI, Iman Rachman, menyampaikan bahwa pengembangan pasar modal diarahkan untuk membangun pasar yang semakin inovatif, transparan, inklusif, serta memiliki keterhubungan global.
“Melalui Master Plan BEI 2026-2030, kami menetapkan tujuan besar pada tahun 2030, yaitu membangun pasar modal Indonesia yang semakin inovatif, transparan, inklusif, dan terhubung secara global. Harapannya Indonesia dapat masuk ke jajaran Top 10 Bursa Dunia berdasarkan kapitalisasi pasar atau nilai transaksi, sekaligus memberikan manfaat optimal bagi investor, emiten, dan perekonomian nasional,” kata Iman dalam sambutannya pada acara pembukaan perdagangan perdana pasar modal Indonesia 2026, Jumat (2/1/2026).
Sasaran BEI untuk Tahun 2026
- Rata-rata Nilai Transaksi Harian (RNTH): Rp 15 triliun.
- Pencatatan Efek: Total 555 pencatatan efek, termasuk 50 saham baru.
- Investor Baru: Menambah 2 juta investor baru melalui pemanfaatan berbagai kanal distribusi informasi.
Iman menegaskan, pencapaian visi jangka panjang tersebut memerlukan dukungan dan kolaborasi dari seluruh pemangku kepentingan pasar modal. “Kami percaya agar terwujud visi ini dibutuhkan sinergi seluruh stakeholder, untuk itu kami sangat mengharapkan dukungan dan kolaborasi dari emiten, anggota bursa, dan seluruh pemangku kepentingan agar Master Plan BEI 2026-2030 dapat terlaksana dengan baik dan memberikan manfaat yang nyata bagi pasar modal Indonesia,” pungkasnya.






