Keuangan

Miliarder Kanada Peringatkan Bitcoin Bisa Anjlok Drastis di 2026 Akibat Tekanan Investor Institusi

Miliarder asal Kanada, Frank Giustra, mengeluarkan peringatan serius mengenai potensi kejatuhan harga Bitcoin pada tahun 2026. Ia menilai tekanan besar bisa datang dari perusahaan-perusahaan yang membeli aset kripto tersebut dengan dana pinjaman, yang berisiko terpaksa menjual kepemilikan mereka secara massal jika menghadapi masalah keuangan.

Giustra, yang dikenal sebagai pengusaha tambang, finansier, dan filantropis, menjelaskan bahwa penjualan besar-besaran oleh perusahaan-perusahaan treasury ini dapat memicu penurunan harga yang signifikan di pasar. “Jika perusahaan treasury Bitcoin mengalami masalah, akan terjadi pelepasan aset, dan Bitcoin akan diperdagangkan jauh lebih rendah,” tulis Giustra, dikutip dari coinmarketcap pada Sabtu (3/1/2026).

Liputan informatif lainnya tersedia di Mureks. mureks.co.id

Ia menambahkan dengan nada santai, “Jika saya salah, itu tidak akan mengubah hidup saya.” Pernyataan ini dilontarkan Giustra dalam perdebatan sengit di platform X (sebelumnya Twitter) pada Kamis malam. Diskusi tersebut bermula dari unggahan komentator politik Bo Hines, mantan penasihat Gedung Putih, yang menyatakan, “siapa pun yang pesimistis terhadap Bitcoin menjelang 2026 adalah orang bodoh.”

Menanggapi Hines, Giustra menegaskan bahwa sikap hati-hati bukanlah bentuk pesimisme, melainkan upaya perlindungan dari perilaku spekulatif atau yang ia sebut sebagai “judi.”

Kinerja Saham dan Sinyal Teknis Mengkhawatirkan

Kekhawatiran Giustra diperkuat oleh beberapa indikator. Salah satunya adalah kinerja saham Strategy, perusahaan treasury Bitcoin terbesar di dunia, yang dilaporkan anjlok lebih dari 50 persen sepanjang tahun 2025. Giustra bahkan sebelumnya sempat menyebut CEO Strategy, Michael Saylor, sebagai “Bitcoin charlatan.”

Dari sisi teknikal, sinyal tekanan terhadap Bitcoin juga mulai terlihat. Analis senior Bloomberg Intelligence, Mike McGlone, memprediksi Bitcoin berpotensi menghadapi “tahun penurunan” berdasarkan indikator rata-rata pergerakan 50 pekan. Indikator ini mencerminkan harga rata-rata Bitcoin selama satu tahun terakhir.

Menurut McGlone, posisi harga Bitcoin saat ini terhadap rata-rata tersebut tergolong rawan. Mureks mencatat bahwa berdasarkan data historis, kondisi serupa sering kali diikuti oleh koreksi yang lebih dalam. McGlone bahkan memproyeksikan kemungkinan terbentuknya titik terendah baru di kisaran “diskon 55 persen” dari level rata-rata.

Potensi Anjlok hingga USD 45.000

Jika skenario tersebut terjadi, harga Bitcoin berpotensi turun dari kisaran USD 87.000 menuju area USD 45.000 hingga USD 50.000. Kondisi ini tentu akan memberikan tekanan besar bagi perusahaan-perusahaan treasury yang menyimpan Bitcoin dalam jumlah masif, karena nilai aset mereka bisa menyusut tajam.

McGlone juga menarik perbandingan dengan pasar perak (silver). Ia memprediksi logam mulia tersebut juga berpotensi mengalami tahun yang sulit, seraya mengingatkan pada gelembung perak terkenal pada 1980 yang melibatkan Hunt Brothers. Saat itu, harga perak yang dianggap terlalu “menarik” atau overvalued akhirnya runtuh hingga 52 persen dalam satu tahun. Menurut McGlone, pola ekstrem serupa bisa menjadi pelajaran bagi aset lain, termasuk Bitcoin.

Mureks