Microsoft mengonfirmasi penghentian dukungan untuk Windows 11 SE pada tahun 2026, sebuah sistem operasi yang dirancang khusus untuk sektor pendidikan. Keputusan ini menandai berakhirnya eksperimen Microsoft dalam menyediakan OS ringan dan terjangkau bagi siswa tingkat K–8, yang sebelumnya digadang-gadang sebagai solusi ideal untuk sekolah.
Windows 11 SE pertama kali diperkenalkan pada tahun 2021. Setahun kemudian, Microsoft menyebutnya sebagai awal dari “era baru PC” dengan pengalaman penggunaan berbasis web yang lebih ringan dibandingkan Windows 10 S Mode. Untuk mendukung konsep tersebut, Windows 11 SE dibuat jauh lebih terbatas dibandingkan versi standar Windows. Siswa tidak dapat mengunduh aplikasi secara bebas, sementara pemasangan perangkat lunak hanya dapat dilakukan oleh administrator IT. File aplikasi berformat .exe yang dijalankan tanpa izin pun otomatis gagal terbuka.
Selengkapnya dapat dibaca melalui Mureks di laman mureks.co.id.
Raksasa teknologi yang bermarkas di Redmond ini juga meluncurkan Surface Laptop SE dengan harga terjangkau, sekitar USD 249, serta menggandeng mitra seperti Dell dan HP untuk menyediakan perangkat murah bagi sekolah. Namun, arah kebijakan kini berubah drastis.
Dokumen dukungan terbaru Microsoft mengungkap bahwa Windows 11 SE tidak lagi menerima pembaruan fitur utama, dengan versi 24H2 menjadi rilis terakhir. Setelah Oktober 2026, perangkat yang masih menggunakan sistem ini tidak akan lagi mendapatkan pembaruan keamanan maupun dukungan teknis. Bagi sekolah, kondisi ini berpotensi menjadi tantangan serius. Tanpa pembaruan keamanan, perangkat Windows 11 SE dinilai rentan dan berisiko terhadap perlindungan data siswa.
Microsoft pun menyarankan institusi pendidikan untuk beralih ke perangkat yang mampu menjalankan versi Windows 11 reguler. Bagi pihak sekolah dan administrator TI, keputusan ini memicu tantangan anggaran baru. Sekolah yang sebelumnya berinvestasi pada Windows 11 SE kini harus menyiapkan dana tambahan untuk meng-upgrade perangkat, atau bahkan mempertimbangkan beralih ke platform lain. Mureks mencatat bahwa pengumuman ini muncul bersamaan dengan dirilisnya daftar produk Microsoft yang akan “dipensiunkan” pada tahun 2026, termasuk Office 2021.
Microsoft Perkuat Ekosistem AI dengan Anthropic dan Investasi Triliunan Rupiah
Di sisi lain, Microsoft secara signifikan memperluas ekosistem kecerdasan buatan (AI) mereka melalui kemitraan strategis dengan Anthropic, sebuah perusahaan rintisan AI terkemuka. Kesepakatan ini membawa rangkaian model Claude buatan Anthropic, termasuk Claude Sonnet 4.5, Claude Opus 4.1, dan Claude Haiku 4.5, ke platform Azure AI Foundry.
Dengan langkah ini, Azure menjadi satu-satunya layanan cloud yang menyediakan ChatGPT dan Claude secara bersamaan dan di satu platform. Ini membuka peluang lebih luas bagi pengembang untuk membangun agen AI, chatbot real-time, hingga sistem riset skala besar. Presiden Replit, Michele Catasta, menjelaskan manfaat dari ketersediaan dua model besar dalam satu platform.
“Menggunakan Claude yang dipadukan dengan GPT dalam satu platform memberikan keleluasaan besar untuk membuat alur kerja yang stabil dan siap dipakai perusahaan,” ujar Catasta.
Anthropic menegaskan, Claude dirancang untuk penggunaan perusahaan, mulai dari integrasi dengan aplikasi produktivitas, analisis dokumen, hingga pengembangan perangkat lunak berbasis agen. Mengandalkan konsep Constitutional AI, semua model dipastikan aman untuk digunakan pada berbagai kebutuhan, termasuk layanan pelanggan, agen coding, dan asisten penelitian. Di industri, agen berbasis AI disebut dapat meningkatkan efisiensi waktu hingga 30 persen.
Tantangan terbesar perusahaan bukan pada pembuatan aplikasi, tetapi pada proses integrasi ke alur kerja perusahaan. Microsoft menyatakan Azure AI Foundry hadir untuk mengisi kekosongan tersebut melalui model penalaran canggih, platform terbuka, serta fondasi Responsible AI. Co-founder Manus AI, Tao Zhang, menyambut baik langkah ini.
“Kami memanfaatkan model Claude karena kemampuannya dalam coding dan perencanaan tugas jangka panjang. Kini bisa menggunakan Azure menjadi langkah besar,” kata Zhang.
Kemampuan Claude dalam Foundry Agent Service
- Menyusun alur kerja secara bertahap untuk tugas kompleks.
- Terhubung otomatis ke data pipeline, API eksternal, dan alat produktivitas melalui Model Context Protocol (MCP).
- Mengolah dokumen, mulai dari merangkum hingga mengklasifikasi.
- Memilih model yang paling efisien secara otomatis menggunakan model router.
- Mengelola kinerja, biaya, dan perilaku seluruh agen dalam satu dasbor.
Dengan kemampuan ini, Claude dapat menjalankan proses teknis, seperti memeriksa log Azure DevOps, hingga memberi rekomendasi perbaikan secara otomatis ketika terjadi kegagalan deployment.
Claude API: Fondasi Otomasi yang Bisa Digabungkan
Melalui Claude API, pengembang dapat membuat “Skills”—blok kemampuan modular berisi instruksi natural, kode Python/Bash, serta data yang terhubung. Keterampilan ini dapat disusun, dipakai ulang, dan dihubungkan dalam alur kerja AI yang lebih besar. Seluruh Skills di Foundry bersifat terkendali dan dapat dilacak versinya, sehingga konsisten digunakan sepanjang tim dan proyek. Dengan cara ini, perusahaan dapat menciptakan otomasi cerdas tanpa harus menuliskan logika rumit dalam prompt, sekaligus memastikan standar dan hasil kerja AI tetap konsisten saat digunakan secara luas.
Kesepakatan penting ini mencakup komitmen Anthropic untuk membeli kapasitas komputasi Microsoft Azure senilai USD 30 miliar (sekitar Rp 501 triliun) dan menyewakan kapasitas komputasi tambahan hingga satu gigawatt. Pelanggan Microsoft Foundry kini akan memiliki akses ke model-model frontier milik Anthropic. Meskipun model-model AI ini akan tersedia di server AI Microsoft, Amazon akan tetap menjadi penyedia cloud utama dan mitra pelatihan Anthropic.
Selain Microsoft, Nvidia juga ikut serta dalam kesepakatan ini untuk mengoptimalkan model-model Anthropic agar mencapai kinerja terbaik pada arsitektur Nvidia di masa depan. Anthropic berkomitmen menggunakan kapasitas komputasi hingga satu gigawatt, memanfaatkan sistem Nvidia Blackwell dan Vera Rubin. Sebagai bagian dari kemitraan ini, Nvidia dikabarkan berinvestasi hingga USD 10 miliar (sekitar Rp 167 triliun) di Anthropic, sementara Microsoft juga menanamkan modal sebesar USD 5 miliar (sekitar Rp 83,6 triliun). Menurut Mureks, kemitraan strategis ini menegaskan posisi Microsoft sebagai pemain kunci dalam perlombaan AI global.






