Kementerian Pekerjaan Umum (PU) memprioritaskan percepatan pembangunan sumur bor air bersih di berbagai fasilitas umum di Provinsi Aceh. Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya pemulihan pascabencana banjir bandang, dengan fokus utama pada lokasi ibadah, fasilitas pendidikan, huntara, pasar, serta kantor pemerintahan.
Menteri PU Dody Hanggodo pada Sabtu (3/1) menegaskan bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya berorientasi pada perbaikan fisik, melainkan juga mengembalikan rasa aman dan kenyamanan masyarakat dalam menjalani aktivitas harian. “Masjid, sekolah, dan pesantren adalah ruang hidup masyarakat. Ketika air bersih tersedia di sana, warga bisa kembali beribadah dengan tenang, anak-anak bisa belajar dengan layak, dan risiko penyakit dapat dicegah,” ujar Menteri Dody.
Artikel informatif lainnya dapat ditemukan dalam liputan Mureks. mureks.co.id
Pekerjaan pengeboran sumur bor air tanah telah dimulai sejak 28 Desember 2025 di sejumlah lokasi ibadah dan fasilitas umum. Mureks mencatat bahwa satu titik telah fungsional, yakni Masjid Simpang Lhee di Kecamatan Manyak Payed, yang selanjutnya akan dilengkapi fasilitas pendukung seperti rumah pompa dan MCK.
Lokasi Pengeboran Sumur Bor
Beberapa titik yang telah memasuki tahap pengeboran meliputi:
Kabupaten Aceh Tamiang:
- Puskesmas Karang Baru
- Puskesmas Tamiang Hulu
- Puskesmas Sekerak
- Puskesmas Bandar Pusaka
- Puskesmas Kuala Simpang
- Puskesmas Rantau
- Puskesmas Bendahara
- Polindes Manyak Payed
- Pasar Manyak Payed
- Masjid Babul Falah-Karang Baru
- Masjid Al Ikhlas-Banda Mulia
- Kantor Kecamatan Kuala Simpang
- Huntara DPRK-Aceh Tamiang
- Ponpes Darul Muchlisin – Karang Baru
- TK Nurul Ikhlas Telaga Muku II – Bunda Mulia
- Meunasah Meurandeh – Manyak Payed
Kabupaten Pidie Jaya:
- Komplek Dishub Pidie Jaya
- Komplek Perpustakaan dan Arsip Pidie Jaya
- Meunasah Gampong Beurawang
- Meunasah Balek
- Meunasah Gampong Dayah Kruet
Kabupaten Bener Meriah:
- Huntara Blang Rakal
- Huntara Tunyang
Kedalaman pengeboran bervariasi antara 60 hingga 82 meter, disesuaikan dengan hasil survei geolistrik untuk memastikan kualitas dan keberlanjutan sumber air. Lokasi-lokasi ini dipilih agar air bersih dapat dimanfaatkan bersama oleh masyarakat sekitar, terutama pada masa darurat dan pemulihan.
Kementerian PU menerapkan pendekatan berbasis data hidrogeologi dan mitigasi risiko bencana dalam pelaksanaan pengeboran air tanah pascabencana banjir bandang di Kabupaten Aceh Tamiang. Upaya ini dilakukan untuk memastikan ketersediaan air bersih yang aman, berkelanjutan, dan tetap berfungsi pada kondisi darurat akibat bencana hidrometeorologi ekstrem.
Secara keseluruhan, Kementerian PU merencanakan pembangunan 47 titik sumur bor air baku yang tersebar di 12 kecamatan di 30 lokasi untuk Kabupaten Aceh Tamiang, terdiri atas 14 titik sumur bor dangkal dan 33 titik sumur bor dalam. Setiap titik sumur dirancang sebagai cadangan air bersih jangka menengah bagi masyarakat.
Pembangunan sumur bor ini dilaksanakan secara terintegrasi oleh Direktorat Jenderal Cipta Karya dan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian PU, sejalan dengan penyediaan sarana pendukung lain seperti IPA Mobile, mobil tangki air, hidran umum, toilet darurat, dan toren air yang telah dioperasikan di wilayah Aceh Tamiang dan kabupaten lain yang terdampak bencana.






