Tren

Menlu Sugiono: Serangan AS ke Venezuela ‘Preseden Berbahaya’, Indonesia Desak Dialog dan Kepatuhan Hukum

Pemerintah Indonesia menyampaikan keprihatinan mendalam atas serangan Amerika Serikat ke Venezuela yang dilancarkan pada Sabtu, 3 Januari 2026. Insiden yang menewaskan sedikitnya 80 orang dan berujung pada penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro beserta istrinya, Cilia Flores, ini disebut Indonesia sebagai “preseden berbahaya” dalam hubungan internasional.

Menteri Luar Negeri RI Sugiono, dalam pernyataannya pada Minggu, 4 Januari 2026, menegaskan bahwa tindakan tersebut berisiko mengganggu stabilitas dan perdamaian kawasan. “Indonesia menyampaikan keprihatinan yang mendalam atas setiap tindakan yang melibatkan penggunaan atau ancaman kekuatan, yang berisiko menciptakan preseden berbahaya dalam hubungan internasional serta dapat mengganggu stabilitas dan perdamaian kawasan, serta melemahkan prinsip kedaulatan dan diplomasi,” ujar Sugiono.

Artikel informatif lainnya dapat dibaca di Mureks mureks.co.id.

Sugiono mendesak semua pihak untuk “mengedepankan dialog dan menahan diri.” Ia juga menekankan pentingnya kepatuhan terhadap hukum internasional. “Mematuhi hukum internasional, termasuk prinsip-prinsip yang tertuang dalam Piagam PBB dan hukum humaniter internasional, khususnya perlindungan terhadap warga sipil, yang keselamatan dan kondisinya harus tetap menjadi prioritas utama,” tambahnya.

Detail Operasi Militer AS dan Penculikan Presiden Maduro

Serangan militer AS dilaporkan melibatkan lebih dari 150 jet tempur yang menargetkan wilayah utara Venezuela, termasuk sekitar ibu kota Caracas. Pasukan AS berhasil mendarat di Caracas dan menculik Presiden Nicolas Maduro serta istrinya, Cilia Flores.

Presiden AS Donald Trump melalui akun Truth Social-nya, memperlihatkan gambar Maduro di kapal perang USS Iwo Jima dalam kondisi mata tertutup dan tangan terborgol. Setelah penculikan, Maduro dan istrinya dibawa ke New York dan ditahan di rumah tahanan Brooklyn. Sebuah video yang beredar menunjukkan Maduro digiring oleh beberapa aparat.

Keduanya menghadapi dakwaan federal di AS terkait perdagangan narkoba dan tuduhan kerja sama dengan organisasi teroris. Maduro sendiri sebelumnya telah membantah tuduhan tersebut. Sementara itu, para pejabat di Caracas menyerukan pembebasan pasangan presiden tersebut.

Mureks mencatat bahwa jumlah korban tewas akibat operasi militer AS di Venezuela pada Sabtu mencapai sedikitnya 80 orang, termasuk para pengawal pribadi Maduro, sebagaimana dilaporkan oleh New York Times pada Minggu, 4 Januari 2026. Seorang pejabat senior Venezuela memperkirakan jumlah korban tewas masih akan bertambah.

Presiden Trump menyatakan bahwa AS akan mengambil alih kendali sementara pemerintahan Venezuela pasca-serangan tersebut.

Menanggapi situasi ini, Menlu Sugiono juga mendesak komunitas internasional “untuk menghormati hak dan kehendak rakyat Venezuela dalam menjalankan kedaulatan mereka serta menentukan sendiri arah dan masa depan bangsa mereka.”

Mureks