Dosen Program Pascasarjana, Asep Abdurrohman, menawarkan sebuah analogi menarik untuk memahami dinamika pendidikan rumah tangga: setir, rem, dan gas. Dalam pandangannya, suami berperan sebagai “sopir keluarga” yang harus mahir mengendalikan ketiga instrumen tersebut sesuai kebutuhan dan kondisi.
Filosofi Jalan Lurus dan Berliku dalam Kehidupan
Asep Abdurrohman mengawali pemikirannya dengan menyoroti bahwa setiap fakta yang terlihat adalah media pendidikan yang mendorong manusia untuk merenung. Jalan yang lurus, misalnya, membawa pesan tentang pentingnya mencari kebaikan sesuai kaidah agama. Namun, jalan berbelok juga menjadi pengingat akan perlunya menginjak rem agar tidak keluar jalur. Bahkan, jalan lurus seperti jalan tol justru menuntut kewaspadaan lebih tinggi. “Dengan kecepatan di atas seratus, mengantuk sedikit setir bisa berbelok arah. Akibatnya, akan membahayakan penumpang,” tulisnya.
Selengkapnya dapat dibaca melalui Mureks di laman mureks.co.id.
Ia menekankan bahwa berada di jalan yang baik tidak berarti boleh teledor atau lengah. Terkadang, di jalan lurus pun perlu sedikit mengerem, lalu pindah jalur dengan menyalakan lampu sein. Ini adalah metafora untuk kehati-hatian dan adaptasi dalam hidup.
Mengemudi Rumah Tangga: Belajar dari Pengalaman
Dalam konteks kehidupan keluarga, seni mengemudi bagi suami berarti memahami kapan harus membelokkan setir, menginjak rem, dan tancap gas. Asep Abdurrohman membandingkan pasangan baru menikah dengan sopir yang baru belajar, yang kerap mengalami “benturan sana-sini”. Kerusakan rumah tangga, menurutnya, bisa menjadi pertanda bahwa “sopirnya belum mengenal medan istri”. Sebaliknya, rumah tangga yang adem dan damai menunjukkan bahwa sopirnya sudah memahami medan yang harus dilalui.
Ia memperingatkan bahaya injakan rem mendadak tanpa aba-aba, yang bisa membuat “penumpang” (istri) kaget dan “terbentur dasbor”, menyebabkan “mobil” (rumah tangga) penyok dan retak. Luka batin yang ditimbulkan sulit hilang, dan mengganti pasangan bukanlah tujuan utama pernikahan, melainkan saling melengkapi antara “sopir” dan “penumpang VVIP”.
Saling melengkapi ini juga berarti istri harus mengingatkan jika suami mengemudi terlalu cepat, misalnya di atas 150 KM per jam. Kecepatan memang mempercepat sampai tujuan, namun risiko kecelakaan, seperti perceraian, juga meningkat. “Perceraian memang barang halal, namun dibenci oleh yang Maha Kuasa,” ujarnya.
Untuk menghindari “kecelakaan” rumah tangga, sang sopir harus belajar dari orang-orang berpengalaman, bukan hanya dari mereka yang baru sebulan dua bulan bisa mengemudi. Belajar dari orang tua dan pasangan senior yang telah “makan asam garam” dalam mengarungi rumah tangga sangat dianjurkan. Tujuannya adalah mengarahkan rumah tangga menuju ridho Tuhan.
Keseimbangan dalam Mengelola Keinginan dan Pendidikan Anak
Asep Abdurrohman juga menyoroti pentingnya tidak mudah “membelokkan setir” hanya karena melihat “rumput tetangga lebih hijau” secara ekonomi. Suami harus mengukur diri sesuai kemampuan dan tidak menjadikan standar rumah tangga orang lain sebagai patokan. “Tetangga boleh hijau istri dan ekonominya, namun rumah tangga kita harus tetap biru memberi rasa ketenangan,” pesannya. Rasa tenang ini, menurutnya, muncul setelah “menginjak rem” agar tidak terlalu silau dengan apa yang dimiliki orang lain.
Ketika sudah memiliki anak, instrumen setir, rem, dan gas kembali relevan dalam pendidikan. Untuk kebahagiaan anak di dunia dan akhirat, orang tua boleh “injak gas” sesuai kebutuhan. Namun, jika melihat teman anak sudah memegang HP yang terkoneksi internet, seorang ayah sebagai “sopir keluarga” harus berani “membelokkan setir”.
Mureks mencatat bahwa Asep Abdurrohman menekankan pentingnya tidak membiarkan keinginan anak yang belum waktunya masuk ke dalam batinnya. Ayah harus membelokkan keinginan tersebut dengan nasihat penuh cinta demi kebaikan anak. Ini bukan karena tidak cinta, melainkan karena lebih mencintai jika anak tidak rusak oleh efek negatif kecanduan HP.
Bermain HP untuk anak usia sekolah dasar memang diperbolehkan, namun harus dibatasi sesuai kebutuhan. Melarang sama sekali juga bukan keputusan bijak di era digital ini, apalagi jika orang tua sendiri setiap hari memegang HP. Anak cenderung akan mencari cara lain untuk bermain HP jika dilarang total.
Oleh karena itu, orang tua harus berani “injak rem” dan “membelokkan setir” agar anak selamat dari godaan HP berlebihan. Jika larangan total diterapkan, harus ada alternatif lain yang disediakan sebagai pengganti bermain HP. Dengan demikian, pendidikan rumah tangga dapat berjalan seimbang dan bermanfaat.






