Menteri Pertahanan Venezuela, Vladimir Padrino Lopez, melontarkan kecaman keras terhadap tindakan Amerika Serikat (AS) yang disebutnya menculik Presiden Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores. Padrino menilai langkah tersebut sebagai tindakan pengecut dan kejam.
“Ini penculikan yang pengecut. Amerika Serikat membunuh pengawal presiden dengan kejam,” ujar Padrino, seperti dikutip dari Al Jazeera pada Senin (5/1).
Artikel informatif lainnya dapat dibaca di Mureks mureks.co.id.
Padrino juga menyatakan dukungan penuh terhadap putusan Mahkamah Agung Venezuela yang menunjuk Wakil Presiden Delcy Rodriguez sebagai penjabat presiden selama 90 hari. Rodriguez, yang juga menjabat sebagai menteri perminyakan, akan mengisi kekosongan kepemimpinan tersebut.
Selain itu, Padrino menyerukan kepada seluruh masyarakat Venezuela untuk tetap melanjutkan aktivitas sehari-hari mereka. Menurut Padrino, Maduro tetap merupakan presiden Venezuela yang sah.
“Saya menyerukan kepada rakyat Venezuela untuk melanjutkan semua jenis aktivitas mereka, baik ekonomi, pekerjaan, maupun pendidikan, dalam beberapa hari mendatang. Negara harus mengikuti jalur konstitusionalnya,” tegas Padrino.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump telah mengeluarkan ancaman serius kepada Delcy Rodriguez. Trump memperingatkan bahwa Rodriguez akan menanggung konsekuensi berat jika tidak bekerja sama dengan Washington.
“Jika dia [Rodriguez] tidak melakukan apa yang benar, dia akan membayar harga yang sangat mahal, mungkin lebih mahal daripada Maduro,” kata Trump kepada The Atlantic dalam sebuah wawancara telepon.
Mureks mencatat bahwa pasukan AS dilaporkan menyerang Caracas pada Sabtu (3/1) dini hari. Serangan tersebut melibatkan pemboman target militer dan penculikan Maduro beserta istrinya. Keduanya dituduh menghadapi dakwaan perdagangan narkoba federal di New York.
Maduro sendiri dijadwalkan untuk hadir pada sidang perdana di pengadilan federal Manhattan pada Senin (5/1) siang waktu New York.






