Nasional

Menguak Jejak Sejarah dan Pesona Budaya Bengkulu: Dari Kerajaan Lokal, Kolonial, hingga Modern

Bengkulu, sebuah provinsi yang terletak di pesisir barat Pulau Sumatra, dikenal kaya akan warisan sejarah dan budayanya. Wilayah ini telah melewati perjalanan panjang, mulai dari masa kerajaan-kerajaan lokal, periode kolonial Eropa, hingga era modern. Berbagai tradisi dan kebiasaan masyarakat Bengkulu masih lestari hingga kini, menjadikannya daerah yang menarik untuk ditelusuri lebih dalam.

Lansekap dan Keunikan Geografis Bengkulu

Wilayah Bengkulu memiliki ciri geografis yang khas, terutama di bagian barat yang didominasi oleh dataran rendah dan dataran pantai yang berhadapan langsung dengan Samudera Indonesia. Berdasarkan dokumen Bengkulu Riwayatmu Dulu yang diterbitkan oleh Balai Arkeologi Palembang, kondisi geografis ini membentuk lanskap unik serta menjadi dasar pemanfaatan ruang pesisir, penggunaan lahan, dan pola kehidupan masyarakat yang berkembang di sepanjang kawasan pantai.

Baca artikel informatif lainnya di Mureks melalui laman mureks.co.id.

Karakteristik pesisir Bengkulu ditandai oleh bentang alam alami berupa hutan belukar berawa dan padang rumput. Batas langsung dengan Samudera Indonesia di sebelah barat mendukung beragam aktivitas masyarakat, khususnya dalam pengelolaan sumber daya alam dan ekonomi lokal yang berpusat di sepanjang pantai.

Jejak Sejarah Bengkulu

Sejarah Bengkulu mencakup perjalanan panjang sejak era kerajaan lokal hingga masa kolonial Eropa. Pembentukan wilayah ini tidak lepas dari dinamika kekuasaan di pesisir Sumatra serta pengaruh kuat dari luar.

Asal Mula Berdirinya Bengkulu

Menurut dokumen Sejarah Daerah Bengkulu (Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah, Depdikbud, 1977/1978), Bengkulu pada mulanya tumbuh dari beberapa kerajaan kecil. Kerajaan-kerajaan ini meliputi Silebar, Sungai Serut, Sungai Lemau, Tanah Serawai, dan Renah Sekalawi, yang berkembang di wilayah pesisir dan pedalaman. Pembentukan wilayah Bengkulu sangat berkaitan dengan dinamika kekuasaan di pesisir Sumatra, di mana pusat-pusat kerajaan umumnya muncul di sekitar muara sungai sebagai pelabuhan dan jalur perdagangan. Interaksi antarkerajaan dan pengaruh dari luar melalui aktivitas perdagangan inilah yang kemudian membentuk identitas masyarakat setempat, cikal bakal Bengkulu.

Pengaruh Kolonial di Bengkulu

Pada masa kolonial, Bengkulu pernah menjadi pusat kekuasaan Inggris selama sekitar 150 tahun, khususnya sebagai pusat penguasaan perdagangan lada. Mureks mencatat bahwa berdasarkan dokumen Sejarah Daerah Bengkulu (Depdikbud, 1977/1978), wilayah ini kemudian diambil alih oleh Belanda pada abad ke-19. Peralihan kekuasaan ini ditandai dengan ditempatinya Benteng Marlborough oleh pasukan Belanda pada tahun 1843. Hingga kini, pengaruh kolonial masih terlihat jelas melalui peninggalan infrastruktur, arsitektur bangunan, dan tata kota yang kuat menunjukkan jejak Inggris di Bengkulu.

Perkembangan Wilayah dan Kota Bengkulu

Seiring masuknya pemerintahan modern, wilayah Bengkulu terus mengalami pertumbuhan dan perubahan. Hal ini ditandai oleh peralihan penggunaan lahan dari lahan tidur dan rawa menjadi kawasan terbangun, permukiman, dan perdagangan. Artikel Analisis Kesesuaian Lahan Wilayah Pesisir Kota Bengkulu melalui Perancangan Model Spasial dan Sistem Informasi Geografis (SIG) karya Yulian Fauzi dkk. menjelaskan bahwa pengembangan wilayah pesisir, khususnya di kawasan Pantai Panjang, turut mendorong tumbuhnya aktivitas ekonomi seperti pariwisata, perhotelan, dan pusat perbelanjaan. Kondisi ini berdampak signifikan pada perubahan pola pemukiman serta dinamika ekonomi masyarakat Bengkulu.

Kekayaan Budaya dan Tradisi Bengkulu

Budaya Bengkulu memiliki keberagaman yang kaya, mencakup seni tradisional, adat istiadat, dan kepercayaan lokal. Keberagaman ini tumbuh dan diwariskan secara turun-temurun, tercermin dari lahirnya berbagai aturan adat dan bentuk kesenian yang berkembang di perkampungan sebagai bagian dari kebutuhan hidup rohani masyarakat.

Kesenian dan Adat Istiadat

Kesenian dan adat istiadat merupakan bagian integral dalam kehidupan masyarakat Bengkulu. Berbagai bentuk seni tradisional, seperti tari, musik, dan upacara adat, meskipun banyak dipengaruhi unsur luar, telah berkembang menjadi kesenian khas daerah. Dokumen Sejarah Daerah Bengkulu (Depdikbud, 1977/1978) menyebutkan bahwa di wilayah pesisir dikenal kesenian Bimbang-Gedang. Sementara itu, di Kota Bengkulu terdapat kesenian rakyat yang diselenggarakan secara rutin setiap tahun, khususnya pada 1–10 Muharram, sebagai bagian dari ritual dan perayaan adat untuk menghormati leluhur.

Ragam Bahasa dan Suku di Bengkulu

Bengkulu dihuni oleh beragam suku bangsa dengan latar bahasa dan adat istiadat yang berbeda. Menurut Sejarah Daerah Bengkulu (Depdikbud, 1977/1978), masyarakat pesisir umumnya berasal dari suku Melayu, sedangkan wilayah pedalaman dihuni oleh suku Rejang, Lembak, dan Serawai. Keberagaman suku dan bahasa ini hidup berdampingan dengan adat masing-masing, memperkaya khazanah budaya Bengkulu dan menciptakan kehidupan masyarakat yang relatif harmonis.

Kesimpulan

Sejarah dan budaya Bengkulu menyimpan kekayaan yang layak untuk dipelajari dan dilestarikan. Dari perjalanan kerajaan-kerajaan lokal, pengaruh kolonial yang mendalam, hingga keragaman tradisi yang masih hidup, Bengkulu menawarkan pengalaman unik bagi siapa saja yang ingin mengenal lebih dekat daerah ini. Keberagaman budaya dan keunikan geografis menjadi modal penting bagi masyarakat Bengkulu untuk terus berkembang di masa mendatang.

Referensi penulisan: m.kumparan.com

Mureks