Sebuah buku karya sejarawan muda Minangkabau, Fikrul Hanif Sufyan, kembali memantik diskusi mengenai sejarah pergerakan di Indonesia. Berjudul “Fort de Kock dan Depresi Ekonomi; Catatan Suksesnya Kongres XIX Muhammadiyah di Bawah Empasan Badai Malaise”, buku ini secara mendalam mengulas dampak sosial dan ekonomi dari penyelenggaraan Kongres Muhammadiyah ke-19 pada tahun 1930 di Fort de Kock, yang kini dikenal sebagai Bukittinggi.
Buku ini menarik perhatian karena mengaitkan suksesnya sebuah kongres organisasi besar di tengah badai resesi ekonomi dunia yang dikenal sebagai Great Depression. Krisis global yang bermula dari kejatuhan bursa saham Wall Street pada 1929 ini, memiliki dampak signifikan terhadap ekonomi dan kehidupan masyarakat di Nusantara, mengingat ekonomi Hindia Belanda sangat terintegrasi dengan pasar internasional melalui komoditas ekspor seperti kopi, teh, karet, dan tebu.
Simak artikel informatif lainnya di Mureks melalui mureks.co.id.
Latar Belakang Depresi Ekonomi Global
Era 1930-an dikenal sebagai “zaman meleset”, sebuah pelesetan dari kata malaise yang berarti lesu. Kondisi kehidupan serba sulit kala itu memang membuat istilah tersebut relevan. Banyak literatur yang mengulas periode kelam ini, termasuk disertasi Sumitro Djojohadikusumo, ayah Presiden Prabowo Subianto, yang berjudul “Kredit Rakyat di Masa Depresi” (1943). Disertasi ini bahkan membantah teori dualisme ekonomi Hindia Belanda yang dikemukakan JH Boeke, yang menyatakan ekonomi pribumi terpisah dari ekonomi kolonial.
Fort de Kock, Tuan Rumah Penuh Makna
Keputusan menunjuk Fort de Kock sebagai lokasi kongres diambil pada kongres ke-18 di Surakarta. Fort de Kock, yang awalnya merupakan nama benteng Belanda pasca-Perang Paderi, kemudian menjadi nama kota menggantikan Kurai V Nagari, sebelum akhirnya dikenal sebagai Bukittinggi dengan ikon Jam Gadang-nya. Awalnya, delegasi Minang sempat menolak menjadi tuan rumah karena Muhammadiyah di Minangkabau baru berdiri pada 1925, jauh setelah organisasi ini didirikan pada 1912. Namun, Kiai Fachrodin, yang ditugaskan mengembangkan Muhammadiyah di Minangkabau, bersikeras. Keputusan ini terbukti sangat tepat. Tokoh penting yang pertama kali mengembangkan Muhammadiyah di Minang adalah Haji Rasul (ayah Buya Hamka) dan AR Sutan Mansur.
Dinamika Sosial dan Modernisasi Minangkabau
Buku Fikrul Hanif Sufyan kaya akan data yang mengurai cepatnya perkembangan Muhammadiyah di tanah Minang. Perkembangan ini tidak lepas dari beberapa latar belakang historis, seperti kegagalan pemberontakan komunis di Silungkang pada 1926 dan 1927, ketegangan antara Kaum Tua dan Kaum Muda, serta dampak gempa bermagnituda 7,6 pada 1926. Masyarakat Minang kala itu membutuhkan saluran baru yang progresif dan modern, sejalan dengan watak mereka.
Salah satu warisan penting Muhammadiyah Minang bagi Muhammadiyah Jawa adalah adopsi setelan jas gaya Eropa lengkap dengan dasi, namun tetap dipadukan dengan kopiah. Gaya ini kontras dengan pakaian Kiai Ahmad Dahlan yang mengenakan kain jarik, surjan, dan blangkon, atau KH Hasyim Asy’ari dari NU yang mengenakan sarung, jubah, dan sorban. Foto-foto AR Sutan Mansur dan Haji Rasul jelas menunjukkan gaya berbusana modern ini.
Modernisasi yang dibawa Belanda setelah penemuan batubara di Ombilin, Sawahlunto, juga turut memengaruhi. Pelabuhan Teluk Bayur menjadi lebih ramai, jalur kereta api dan jalan-jalan dibangun. Kondisi ini memudahkan Muhammadiyah, sebagai gerakan kaum kota dan pedagang, untuk berkembang pesat.
Semangat Gotong Royong di Tengah Krisis
Meskipun keputusan kongres di Bukittinggi diambil sebelum krisis ekonomi melanda, panitia tetap gigih menggalang dana setelah peristiwa Black Thursday. Mereka berhasil mengumpulkan 2.552,3 gulden. Para saudagar Minang dari Padang, Bukittinggi, dan Semenanjung Malaya turut menyumbang. Catatan Mureks menunjukkan, jumlah tersebut setara dengan sekitar 255 gram emas, atau jika dikonversi ke harga emas saat ini, mencapai lebih dari Rp 637,5 juta.
Fikrul menyebutkan bahwa filosofi Minang “iduik bajaso mati bapusako” (hidup berjasa, mati berpusaka) berperan besar dalam kesuksesan kongres. Kongres di Bukittinggi kemudian dikenal sebagai yang paling meriah dibandingkan kongres-kongres sebelumnya. Seluruh komponen masyarakat Minang, termasuk jemaah tarekat dan warga organisasi Perti, bahu-membahu menyukseskan acara, mulai dari penyambutan di pelabuhan hingga pelayanan di arena.
Peserta kongres juga disuguhi keelokan Bukittinggi, yang dijuluki Parijs van Sumatra. Kota kelahiran Bung Hatta ini dikelilingi tiga gunung (Merapi, Singgalang, dan Tandikat) serta 27 bukit, ditambah keindahan Ngarai Sianok.
Muhammadiyah Pelopor Nasionalisme Organisasi
Muhammadiyah, yang berdiri pada 1912, awalnya mengadakan rapat tahunan (Algemene Vergadering/Jaar Vergadering), kemudian kongres (1923-1949), dan akhirnya muktamar (sejak 1950, kecuali Muktamar Seperempat Abad 1936). Hingga kongres ke-18, semua lokasi kongres selalu berada di Pulau Jawa. Kongres di Bukittinggi pada 1930 menjadi yang pertama kali diselenggarakan di luar Jawa.
Mureks merangkum, kongres ini kemungkinan merupakan pertemuan besar pertama di luar Jawa bagi organisasi sosial maupun politik di Hindia Belanda saat itu. Meskipun konsep nasionalisme belum sepenuhnya fasih bagi penduduk Nusantara, Muhammadiyah telah menunjukkan visi kebangsaan yang melampaui batas-batas regional. Muhammadiyah kemudian melanjutkan jejaknya dengan berkongres di Makassar (1932), Banjarmasin (1935), dan Medan (1939), menjangkau empat pulau utama di Indonesia.
Sebagai perbandingan, Nahdlatul Ulama (NU) pernah bermuktamar di Banjarmasin pada 1936, namun selebihnya lebih sering di Jawa. Organisasi politik seperti Sarekat Islam (SI), Partai Komunis Hindia (PKI), dan Partai Nasional Indonesia (PNI) bahkan tidak pernah mengadakan kongres di luar Jawa sebelum kemerdekaan. Budi Utomo, yang dianggap sebagai tonggak kebangkitan nasional, pun hanya menjadi organisasi orang Jawa hingga bubarnya pada 1935.
Pada titik ini, Muhammadiyah terbukti sebagai organisasi keagamaan yang paling progresif dan benar-benar menasional dalam mengamalkan asas kebangsaan. Tidak heran jika Muhammadiyah dan NU menjadi dua organisasi yang paling mengakar dan lestari hingga kini. Dengan demikian, Muhammadiyah bukan hanya organisasi sosial keagamaan pertama, tetapi juga organisasi pertama secara keseluruhan yang berkongres di luar Jawa, membuktikan kesadaran menasional yang teruji oleh sejarah.
Warisan dan Visi Strategis
Buku Fikrul juga menjelaskan dampak sosial dan ekonomi pasca-kongres di Minangkabau. Cabang-cabang baru Muhammadiyah bermunculan, mereka membeli Hotel Merapi (kini Kompleks Perguruan Muhammadiyah Kauman, Padang Panjang), dan mendirikan Tablighschool. Para tokoh Muhammadiyah sejak awal memiliki visi strategis tentang dampak penyelenggaraan kongres bagi perkembangan organisasi. Untuk detail lebih lanjut, buku karya Fikrul Hanif Sufyan ini sangat direkomendasikan, kaya data dan foto-foto masa lalu, mencerminkan latar belakang penulis sebagai wartawan.






