Nasional

Mengenal Mustahab dalam Fikih Islam: Membedakannya dari Sunnah untuk Halal Living Optimal

Dalam kehidupan sehari-hari, umat Muslim sering mendengar istilah mustahab. Istilah ini kerap muncul dalam diskusi seputar amal-amal yang disarankan dalam syariat Islam, terutama terkait dengan konsep halal living. Memahami mustahab dan perbedaannya dengan sunnah menjadi sangat penting agar praktik ibadah dan kehidupan sehari-hari dapat lebih terarah dan optimal.

Pengertian Mustahab Menurut Fikih Islam

Mustahab merupakan istilah hukum fikih yang merujuk pada perbuatan yang dianjurkan untuk dilakukan, namun tidak bersifat wajib dan tidak menimbulkan dosa apabila ditinggalkan. Konsep ini memberikan fleksibilitas bagi umat Muslim dalam menjalankan ibadah tanpa beban kewajiban mutlak.

Klik mureks.co.id untuk tahu artikel menarik lainnya!

Dalam jurnal Af‘al Rasul dan Implikasinya Terhadap Hukum Fikih karya Rizki Mustaqim, mustahab diposisikan sebagai implikasi hukum dari sebagian perbuatan Nabi SAW yang menunjukkan maksud qurbah (ibadah), tetapi tidak disertai dalil yang mengharuskan kewajiban, sehingga tidak termasuk dalam kategori perbuatan wajib. Menurut Mureks, pemahaman ini krusial bagi umat Muslim untuk mengoptimalkan ibadah dan menjalani gaya hidup halal.

Contoh Amalan Mustahab dalam Kehidupan Sehari-hari

Beberapa contoh amalan mustahab yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari antara lain:

  • Membaca doa sebelum tidur.
  • Memperbanyak sedekah.
  • Menggunakan siwak sebelum salat.

Perbuatan-perbuatan tersebut memberikan nilai tambah dalam ibadah, meskipun tidak ada keharusan mutlak untuk melakukannya setiap saat.

Perbedaan antara Mustahab dan Sunnah

Meskipun kerap disamakan, mustahab dan sunnah sebetulnya memiliki perbedaan penting dalam hukum fikih. Keduanya sama-sama dianjurkan, tetapi ada perbedaan dalam tingkat keutamaan dan sumber anjuran.

Sunnah biasanya merujuk pada amalan yang secara jelas dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan memiliki tingkatan anjuran yang lebih kuat. Sementara itu, mustahab lebih umum untuk amalan-amalan yang dianjurkan tanpa penegasan khusus. Dalam praktiknya, kedua istilah ini sering tumpang tindih, tetapi penting bagi umat Muslim untuk memahami konteksnya.

Memahami perbedaan ini membantu umat menjalankan halal living dengan lebih bijak. Amalan mustahab bisa menjadi pelengkap ibadah harian, sedangkan memperhatikan sunnah menjaga keseimbangan antara amalan wajib dan anjuran.

Kedudukan Mustahab dalam Af’al Rasul

Pembahasan mustahab berkaitan erat dengan Af‘al Rasul, yaitu perbuatan Nabi Muhammad SAW yang memiliki dimensi tasyri‘iyyah (penetapan hukum). Perbuatan Nabi yang menunjukkan maksud qurbah (ibadah) dan tidak disertai tuntutan kewajiban dapat menjadi dasar penetapan hukum sunnah atau mustahab.

Namun, tidak semua sikap dan kebiasaan Nabi SAW menjadi rujukan hukum, karena sebagian di antaranya bersifat kemanusiaan dan hanya menunjukkan kebolehan. Amalan mustahab dapat ditetapkan melalui perbuatan Rasulullah SAW yang bermuatan ibadah, dilakukan secara konsisten, dan tidak disertai perintah yang bersifat wajib. Perbuatan semacam ini menjadi teladan bagi umat Islam dalam meneladani sikap Rasulullah SAW, selama tidak termasuk perbuatan yang bersifat kemanusiaan atau kebiasaan semata.

Rizki Mustaqim dalam jurnalnya menjelaskan bahwa sebagian perbuatan Nabi Muhammad SAW tidak mengandung tuntutan kewajiban, namun tetap bermuatan ibadah. Perbuatan semacam ini berimplikasi pada hukum sunnah atau mustahab, yang berfungsi mendorong peningkatan kualitas ibadah umat tanpa menimbulkan tekanan kewajiban.

Kesimpulan

Pemahaman mengenai mustahab sangat membantu umat Muslim dalam mengoptimalkan ibadah dan menerapkan halal living. Dengan memahami perbedaan antara mustahab dan sunnah, setiap individu bisa lebih selektif dalam memilih amalan yang sesuai dengan kemampuannya. Mustahab menjadi salah satu strategi memperbaiki kualitas hidup spiritual tanpa beban kewajiban mutlak.

Mureks