Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian melepas praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) untuk membantu pemulihan pemerintahan di Kabupaten Aceh Tamiang pascabencana. Ia menekankan pentingnya penerapan ilmu yang telah didapatkan para praja selama masa penugasan.
Penugasan ini disampaikan Mendagri saat memberikan arahan langsung kepada para praja di Bandar Udara Soekarno-Hatta, Kota Tangerang, Banten, pada Sabtu (3/1). “Adik-adik spesialisasi belajar ilmu pemerintahan. Praktikkan bersama dengan nanti ASN Kemendagri, pengasuh, untuk bantu menghidupkan pemerintahan kabupaten, kecamatan, desa-desa,” ujar Mendagri.
Baca artikel informatif lainnya di Mureks melalui laman mureks.co.id.
Mureks mencatat bahwa penugasan praja IPDN ke Aceh Tamiang merupakan misi kemanusiaan yang krusial, mengingat dampak bencana di wilayah tersebut sangat parah. Seluruh kecamatan terdampak, dengan lebih dari 200 desa mengalami kerusakan. Kantor pemerintahan dari tingkat kabupaten hingga desa masih dipenuhi lumpur, menyebabkan sistem administrasi terganggu, serta layanan kependudukan dan teknologi informasi belum berjalan optimal.
Mendagri menyampaikan bahwa penugasan ini adalah sebuah kehormatan dan kebanggaan, karena praja yang diberangkatkan telah dipilih dari ribuan praja lainnya. Ia menyebut pengalaman terjun langsung menangani persoalan pemerintahan pascabencana sebagai pengalaman langka.
“Adik-adik akan berhadapan langsung dengan masalah di lapangan. Praktikkan [ilmunya], bantu, dan jangan membuat masalah … jadi bawa nama baik IPDN, Institut Pemerintahan Dalam Negeri, institut kebanggaan bangsa Indonesia,” tegasnya.
Penugasan ini juga merupakan bagian dari Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan masuk dalam kurikulum pembelajaran, sehingga menjadi bahan penilaian bagi praja.
Lebih lanjut, Mendagri mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo Subianto sangat mengapresiasi langkah Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dalam mengirimkan praja IPDN ke daerah bencana. Presiden juga mendukung apabila sekolah kedinasan lain dapat mengerahkan siswanya untuk membantu daerah terdampak sesuai dengan keilmuannya masing-masing.
“Misalnya sekolah kedinasan di bidang perhubungan itu untuk melihat bagaimana sistem perhubungan, bandara ada yang terdampak enggak, pelabuhan termasuk pelabuhan-pelabuhan kecil,” jelasnya.






