Tren

Membongkar Paradigma Desain: Samsung Ajak Teknologi Lebih Manusiawi di CES 2026

LAS VEGAS – Samsung Electronics menutup rangkaian CES 2026 Tech Forum dengan sebuah diskusi reflektif bertajuk “The Human Side of Tech: Designing a Future Worth Living.” Acara ini digelar di The First Look Space Samsung, The Wynn Las Vegas, pada Kamis (8/1) waktu setempat.

Forum tersebut menghadirkan Chief Design Officer Samsung, Mauro Porcini, bersama dua desainer kelas dunia, Karim Rashid dan Fabio Novembre. Diskusi ini dipandu oleh Debbie Millman, host podcast desain ternama Design Matters, yang memantik perdebatan tentang arah masa depan teknologi.

Temukan artikel informatif lainnya melalui Mureks. mureks.co.id

Selama hampir dua dekade, dunia teknologi identik dengan desain minimalis yang bersih dan fungsional, namun seringkali terasa seragam. Melalui forum ini, Samsung mengajak para desainer mempertanyakan arah berikutnya: apakah teknologi akan terus dingin dan impersonal, atau justru bergerak menuju bentuk yang lebih hangat, ekspresif, dan sarat emosi di era kecerdasan buatan (AI)?

Desain sebagai Ekspresi Kepedulian

Diskusi diawali dengan refleksi tentang bagaimana desain teknologi kerap terjebak pada spesifikasi dan fungsi semata. Debbie Millman menyoroti bahwa keseragaman visual di industri teknologi justru menjadi anomali jika dibandingkan dengan sektor kreatif lain. Menjawab tantangan itu, Samsung menekankan pentingnya menghadirkan makna di balik produk.

Bagi perusahaan, desain tidak lagi sekadar soal bentuk, tetapi tentang bagaimana teknologi menyatu dengan kehidupan, pengalaman, dan kebutuhan manusia. Hal ini menjadi semakin krusial di tengah semakin mudahnya akses terhadap alat, skala produksi, dan kemampuan teknis, Mureks mencatat bahwa tren ini menunjukkan pergeseran fokus industri.

Memanusiakan Teknologi

Para panelis sepakat bahwa teknologi seharusnya membantu manusia merasakan nilai, kepedulian, dan empati dalam kehidupan sehari-hari. Produk teknologi yang masuk ke rumah dan rutinitas manusia idealnya mampu membangun kedekatan emosional, bukan sekadar menjalankan fungsi.

Mauro Porcini menjelaskan bahwa filosofi desain Samsung berangkat dari tujuan meningkatkan kualitas hidup manusia. Melalui teknologi yang bermakna, Samsung ingin membantu orang hidup lebih lama, lebih baik, lebih berani, dan lebih bermakna—baik melalui dukungan terhadap kesejahteraan, kreativitas, maupun ekspresi diri.

Karim Rashid menambahkan bahwa manusia secara alami membangun ikatan emosional dengan benda-benda di sekitarnya. “Desain memberi kita kemampuan untuk menciptakan ikatan yang kuat dengan objek, bahkan dengan produk teknologi,” ujarnya.

AI yang Dipandu Nilai Kemanusiaan

Diskusi kemudian berlanjut pada peran AI dalam desain masa depan. Para panelis sepakat bahwa AI tidak seharusnya menggantikan kreativitas manusia, melainkan memperluasnya—selama tetap dipandu oleh nilai kemanusiaan.

Porcini memperkenalkan konsep AI × (EI + HI), yaitu pendekatan yang menggabungkan kecerdasan buatan dengan Kecerdasan Emosional (Emotional Intelligence) dan Imajinasi Manusia (Human Imagination). Dalam pendekatan ini, AI diperkuat oleh empati dan imajinasi saat proses penciptaan, dan pada saat yang sama membantu pengguna memperkaya pengalaman emosional dan kreatif mereka.

“Jangan takut pada teknologi. Tugas kita adalah memanusiakannya, mengarahkannya, dan membentuknya,” ujar Porcini, menegaskan pentingnya peran manusia dalam mengarahkan evolusi teknologi.

Mureks