Penyanyi Nadin Amizah baru-baru ini menjadi sorotan publik setelah secara terbuka membagikan pengalamannya terkait perubahan kualitas suaranya. Melalui platform media sosial, Nadin mengungkapkan bahwa ia didiagnosis mengidap spasmodic dysphonia, sebuah kondisi medis yang memengaruhi pita suaranya dan masih jarang dikenal masyarakat luas.
Pengakuan Nadin Amizah ini sontak membuka diskusi penting mengenai gangguan pita suara yang lebih dari sekadar kelelahan vokal atau masalah teknik bernyanyi. Spasmodic dysphonia merupakan gangguan saraf yang secara langsung memengaruhi fungsi pita suara, menyebabkan suara penderitanya terdengar terputus, tegang, serak, atau bahkan terlalu lemah saat berbicara.
Simak artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Apa Itu Spasmodic Dysphonia?
Menurut catatan Mureks, spasmodic dysphonia, yang juga dikenal sebagai laryngeal dystonia, adalah gangguan suara langka yang dipicu oleh kejang otot tak terkendali pada laring atau pita suara. Kejang ini mengganggu getaran normal pita suara saat seseorang berbicara, menghasilkan kualitas suara yang tidak stabil.
Kondisi ini diperkirakan memengaruhi sekitar 500.000 orang di Amerika Serikat. Dalam kondisi normal, pita suara bergetar secara seimbang untuk menghasilkan suara yang jernih. Namun, pada individu dengan spasmodic dysphonia, sinyal saraf yang mengontrol gerakan otot pita suara terganggu, mengakibatkan getaran yang tidak teratur.
Spasmodic dysphonia terbagi menjadi tiga jenis utama:
- Adductor spasmodic dysphonia: Jenis yang paling umum, ditandai dengan suara yang terdengar tegang, berat, dan serak karena pita suara menutup terlalu rapat.
- Abductor spasmodic dysphonia: Menyebabkan suara terdengar lemah dan berangin akibat pita suara yang terlalu terbuka.
- Mixed spasmodic dysphonia: Kombinasi dari kedua jenis di atas dan tergolong sangat jarang terjadi.
Pada beberapa kasus, gangguan ini juga dapat disertai dengan tremor vokal, yang membuat suara penderita terdengar bergetar atau tidak stabil.
Gejala yang Perlu Diwaspadai
Gejala spasmodic dysphonia umumnya berkembang secara bertahap dan seringkali bersifat fluktuatif, datang dan pergi. Penderita mungkin mengalami suara yang terputus-putus, tegang, serak, lemah, atau bergetar. Kondisi ini cenderung memburuk ketika penderita berada dalam situasi stres, berbicara di depan umum, atau berada di lingkungan yang bising.
Menariknya, gangguan ini lebih sering memengaruhi suara saat percakapan sehari-hari dibandingkan dengan aktivitas vokal lainnya seperti bernyanyi, tertawa, atau berbisik. Hal ini menunjukkan karakteristik unik dari spasmodic dysphonia yang membedakannya dari gangguan vokal lainnya.






