Nasional

Membongkar Fenomena ‘Berondong-Tante’: Hasrat, Kekosongan, dan Pencarian Diri dalam Relasi Lintas Usia

Hubungan asmara antara laki-laki muda dengan perempuan yang lebih dewasa, atau yang akrab disebut fenomena “berondong-tante”, semakin sering terlihat di ruang publik. Dari linemasa digital hingga obrolan santai, relasi ini tak jarang memicu beragam respons, mulai dari tawa hingga pandangan sinis.

Namun, di balik persepsi yang kerap menganggapnya tak lazim, tersimpan narasi kompleks tentang hasrat, kekosongan, dan pencarian jati diri yang mendalam. Menurut Mureks, fenomena ini tidak bisa dibaca secara hitam-putih, melainkan perlu dipahami dari berbagai sudut pandang.

Artikel informatif lainnya dapat dibaca melalui Mureks. mureks.co.id

Memahami Hasrat Manusia Melalui Kacamata Lacan

Dalam kacamata psikoanalisis Jacques Lacan, relasi berondong dan tante bukan sekadar soal perbedaan usia atau preferensi asmara. Hubungan ini berkelindan dengan hasrat manusia yang, menurut Lacan, tidak pernah benar-benar merasa utuh.

Bagi sebagian laki-laki muda, fase jeda setelah lulus sekolah atau kuliah seringkali menjadi masa penuh tanda tanya. Belum bekerja, belum menapaki arah hidup yang pasti, dan kerap merasa tertinggal dari lingkungan sekitar.

Pada tahap pencerminan (mirror stage), individu mulai mengenali dirinya melalui pantulan, bukan hanya dari cermin fisik, tetapi juga dari sosok lain yang dianggap ideal. Dalam konteks ini, sebagian laki-laki muda yang sedang berada pada fase transisi, kerap melihat pasangan yang lebih dewasa sebagai figur yang stabil.

“Sosok pasangan yang lebih matang kerap menjadi cermin ideal bagi mereka yang merasa hidupnya masih kosong dan belum menemukan arah,” ujar seorang pengamat psikologi sosial.

Dinamika Relasi dalam Ranah Simbolik

Relasi tersebut kemudian berhadapan dengan tahap simbolik (symbolic stage), yakni ranah norma, bahasa, dan struktur sosial. Dalam tatanan sosial yang berkembang, hubungan ideal masih sering dilekatkan pada laki-laki lebih tua dan perempuan lebih muda.

Ketika pola ini terbalik, hubungan berondong dan tante kerap dianggap janggal atau menyimpang dari norma umum. Namun, menurut Lacan, ranah simbolik tidak hanya berfungsi sebagai aturan, tetapi juga sebagai ruang pencarian pengakuan.

Puncak dinamika relasi ini dapat dipahami melalui konsep the Others. Lacan menyatakan bahwa “hasrat manusia adalah hasrat akan hasrat orang lain”.

Bram (23), bukan nama sebenarnya, yang mengaku menjalin hubungan dengan perempuan lebih tua darinya, mengungkapkan perasaannya. “Aku sering ngerasa hidup lagi kosong. Ketemu dia bikin aku lebih tenang,” ujarnya.

Dalam hubungan lintas usia, pihak yang lebih muda dapat merasa bernilai ketika diinginkan oleh sosok yang dianggap matang dan mapan. Sebaliknya, pihak yang lebih dewasa menemukan kembali rasa diinginkan dan diakui melalui perhatian dari pasangan yang lebih muda.

Nad (29), yang mengalami hal serupa seperti Bram, juga mengakui adanya stigma. “Awalnya aku sendiri mikir ini enggak normal,” katanya.

Dalam konsep Lacan, manusia menginginkan bukan hanya objek cinta, tetapi juga ingin diinginkan oleh orang lain. Dalam relasi berondong dan tante, kedua pihak saling mengisi kekosongan. “Selalu ada kekurangan yang membuat manusia terus mencari, mengulang, dan berharap,” kata Lacan. Fenomena berondong dan tante pada akhirnya tidak bisa dibaca secara hitam-putih.

Mureks