Kisah Hutan Kelayau, sebuah narasi ekonomi sederhana yang termuat dalam Buku Bahasa Indonesia: Lihat Sekitar untuk SD Kelas IV Kurikulum Merdeka, kerap memunculkan pertanyaan menarik. Salah satunya adalah mengapa Sa Angsa, salah satu tokoh sentral, tidak menciptakan uang kayu yang bertuliskan angka 3 atau 4.
Pertanyaan ini bukan sekadar teka-teki, melainkan pintu gerbang untuk memahami prinsip dasar nilai, efisiensi, dan kesepakatan bersama dalam sistem ekonomi.
Pembaca dapat menelusuri artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Awal Mula Uang Kayu: Mengatasi Kelemahan Barter
Cerita dimulai dengan gambaran aktivitas tukar-menukar di Hutan Kelayau. Pada mulanya, sistem barter berjalan lancar bagi beberapa hewan, seperti Ka Kancil dan Dak Bebek yang saling bertukar jagung dan kangkung karena kebutuhan mereka saling melengkapi.
Namun, tidak semua transaksi semudah itu. Ela Pelatuk, misalnya, kesulitan menukar sendok kayu miliknya dengan bunga dari Ke Kelinci. Ke Kelinci tidak membutuhkan sendok kayu tambahan karena persediaannya sudah mencukupi. Kondisi ini secara jelas menunjukkan kelemahan fundamental sistem barter yang sangat bergantung pada kecocokan kebutuhan ganda.
Untuk mengatasi kebuntuan tersebut, para penghuni Hutan Kelayau bersepakat untuk menciptakan alat tukar baru: uang kayu. Awalnya, uang kayu ini dibuat dengan bentuk dan ukuran seragam, dimaksudkan agar mudah digunakan sebagai alat tukar bersama.
Namun, penggunaan uang kayu seragam justru menimbulkan masalah baru. Jumlah uang kayu yang harus dibawa menjadi terlalu banyak dan tidak praktis. Beberapa hewan bahkan merasa dirugikan karena kerepotan menghitung dan menyimpan uang kayu yang semuanya bernilai sama.
Efisiensi Transaksi: Alasan Angka 3 dan 4 Dihindari
Melihat permasalahan tersebut, perbaikan pun dilakukan. Uang kayu kemudian diciptakan dengan nilai yang berbeda-beda dan diberi tanda angka. Tujuannya jelas: memudahkan perhitungan harga dan mempercepat proses transaksi di pasar Hutan Kelayau.
Dalam konteks inilah alasan tidak digunakannya angka 3 atau 4 menjadi krusial. Menurut Mureks, nilai uang kayu perlu dirancang agar sederhana, mudah dihitung, dan praktis saat digunakan dalam transaksi. Angka 3 atau 4 dianggap kurang efisien untuk mempermudah pembagian harga sederhana, yang justru bisa menyulitkan pengelompokan nilai.
Sebaliknya, nilai genap tertentu atau kelipatan yang mudah dijumlahkan jauh lebih membantu dalam melancarkan jual beli. Prinsip ini menekankan bahwa alat tukar harus ringkas, mudah dipahami, dan mendukung kelancaran aktivitas ekonomi.
Sa Angsa, sebagai salah satu tokoh yang terlibat dalam kesepakatan ini, mengikuti prinsip tersebut demi kepentingan seluruh penghuni pasar. Pemilihan angka pada uang kayu mencerminkan sebuah kesepakatan bersama agar pasar tetap tertib dan efisien.
Cerita “Ditukar dengan Apa?” ini secara tidak langsung mengajarkan konsep dasar ekonomi kepada pembaca sekolah dasar. Mulai dari nilai uang, pentingnya kesepakatan sosial, hingga urgensi efisiensi dalam transaksi, semua diperkenalkan melalui alur kisah yang sederhana dan mudah dicerna.
Penafsiran mengenai alasan tidak digunakannya angka 3 atau 4 memang bersifat kontekstual dalam cerita tersebut. Namun, inti pesannya jelas: alat tukar dibuat berdasarkan kebutuhan bersama dan kemudahan penggunaan dalam aktivitas pasar.
Secara keseluruhan, keputusan Sa Angsa untuk tidak membuat uang kayu bernilai 3 atau 4 sangat berkaitan dengan prinsip efisiensi dan kesepakatan nilai yang paling mudah diterapkan demi kelancaran ekonomi di Hutan Kelayau.
Referensi penulisan: kumparan.com






