Aulia Anindya Rahmadani, seorang mahasiswi Ilmu Komunikasi di Universitas Sebelas Maret, seringkali menemukan ketenangan dalam kesendirian. Ketika pikirannya terasa penuh, ia memilih menyalakan motor dan melaju tanpa tujuan, membiarkan angin malam meredakan gejolak batinnya.
Bagi Aulia, ada hal-hal yang tidak selalu bisa diselesaikan dengan kata-kata. Terkadang, menjauh sejenak dan berdiam diri justru menjadi cara paling aman untuk bertahan menghadapi berbagai tekanan hidup.
Liputan informatif lainnya tersedia di Mureks. mureks.co.id
Perjalanan Mandiri Sejak Dini
Sejak kecil, Aulia terbiasa melakukan banyak hal sendiri. Bukan karena ia merasa paling mampu, melainkan karena ia tidak selalu menemukan tempat untuk bersandar. Ia belajar menyelesaikan urusannya tanpa banyak bertanya, menelan perasaan tanpa sering mengeluh, dan terus melangkah meski semangatnya terkadang runtuh oleh perkataan orang lain.
Aulia mengungkapkan, dirinya tidak tumbuh dengan banyak pelukan atau kalimat penyemangat. Bahkan, beberapa kali apa yang ia anggap mimpi justru terdengar terlalu tinggi untuk dijangkau. “Saya belajar diam, menyimpan, lalu berjalan lagi seolah tidak terjadi apa-apa,” tuturnya, menjelaskan bagaimana kebiasaan ini terbentuk secara perlahan.
Sempat terbersit dalam benaknya bahwa semua itu tidak adil. Ia bertanya-tanya mengapa harus belajar berdiri sendiri lebih dulu, sementara orang lain tampak mudah mendapatkan dukungan dan bimbingan.
Adaptasi di Perantauan dan Kekuatan Diri
Hidup kemudian membawa Aulia ke perantauan, menghadapi ruang dan lingkungan baru yang asing. Hari-hari di sana menuntutnya untuk beradaptasi dengan kemampuan seadanya. Ia harus belajar bertahan, menyesuaikan diri, dan mengenali kekuatannya lebih jauh.
Aulia menyadari, jika sejak awal ia tidak terbiasa mengurus diri sendiri, mungkin ia tidak akan bertahan hingga hari ini. “Jika semuanya selalu dipermudah, barangkali saya tidak pernah benar-benar belajar mengenali kekuatan saya sendiri,” ujarnya.
Di perantauan, Aulia bertemu dengan orang-orang yang mengajarkannya arti kehadiran. Mereka hadir untuk mendengarkan, saling membantu, dan tidak buru-buru menghakimi saat seseorang sedang lelah. Dari pengalaman ini, ia belajar bahwa bertumbuh juga bisa dilakukan bersama.
Pengalaman tersebut secara perlahan mengubah cara Aulia memandang banyak hal, termasuk masa lalunya. Ia kini melihatnya dengan jarak yang lebih tenang, tanpa keinginan untuk menyalahkan siapa pun. Mureks mencatat bahwa perjalanan Aulia ini menunjukkan pentingnya resiliensi dan kemampuan beradaptasi dalam menghadapi tantangan hidup.
Memahami Cinta Orang Tua
Aulia mulai memahami bahwa orang tuanya membesarkannya dengan cara yang mereka pahami, cara yang lahir dari pengalaman hidup dan pengetahuan mereka. Ada kalanya cara itu terasa keras dan menyisakan perih, namun kini ia mengerti bahwa mereka menjalani peran tersebut dengan bekal yang mereka miliki.
Ia menyadari, tanpa kerja keras orang tuanya, ia tidak akan berada di titik ini, tidak akan memiliki kesempatan untuk berkuliah dan mengejar pendidikan sejauh yang ia bisa hari ini. “Apa pun caranya, merekalah yang lebih dulu membuka jalan,” tegas Aulia.
Aulia menegaskan, ia tidak sepenuhnya menyalahkan mereka, pun tidak sepenuhnya membenarkan semua yang pernah menyakitkan. Ia hanya belajar memahami bahwa setiap orang tua memiliki cara yang berbeda dalam mencintai.
Menerima dan Bertahan
Hingga kini, Aulia masih terus belajar menerima. Menerima bahwa hidup tidak selalu memberi apa yang kita inginkan, tetapi seringkali memberi apa yang kita perlukan. Ia membawa semua pengalaman yang sudah dilewati sebagai bagian dari proses bertumbuh, tanpa dendam dan kebencian.
“Saya mungkin tidak selalu dikuatkan, tapi saya bertahan,” kata Aulia. Baginya, bertahan hingga hari ini sudah lebih dari cukup, menjadi bukti kekuatan dan penerimaan diri yang telah ia capai.






