Tren

Manchester United Pecat Ruben Amorim, Polemik Peran Manajer dan Pelatih Jadi Pemicu Utama

Manchester United resmi memecat Ruben Amorim dari kursi pelatih pada Selasa, 06 Januari 2026. Keputusan ini bukan semata karena performa buruk di lapangan, melainkan juga dipicu oleh polemik mendasar mengenai perbedaan tafsir peran dan kewenangan antara pelatih dan manajer yang tak kunjung menemukan titik temu.

Isu ini mencuat ke publik setelah Amorim secara terbuka menyatakan posisinya dalam sesi jumpa pers usai laga melawan Leeds United. Ia menegaskan bahwa dirinya datang ke Old Trafford sebagai manajer, bukan sekadar pelatih kepala.

Artikel informatif lainnya dapat dibaca melalui Mureks. mureks.co.id

Awal Mula Polemik Status

Ketika Manchester United merekrut Ruben Amorim pada 1 November 2024, Mureks mencatat bahwa statusnya adalah pelatih kepala, sebagaimana dilaporkan BBC Sport. Dalam struktur tersebut, fokus utama peran Amorim adalah pada aspek teknis dan taktis tim. Urusan perekrutan pemain dan arah kebijakan klub berada di tangan departemen lain, bukan di bawah kendalinya.

Namun, masalah mulai muncul ketika Amorim merasa ruang geraknya terlalu dibatasi. Ia menilai perannya tidak sesuai dengan ekspektasi seorang manajer yang seharusnya mengendalikan tim secara utuh. Perbedaan pandangan ini kian terasa di tengah performa tim yang menurun drastis.

Sebelum pemecatannya, Amorim hanya mampu memenangkan satu dari lima laga terakhir di Premier League. Kondisi ini memperkeruh suasana internal yang sudah tegang akibat perbedaan interpretasi peran.

Pernyataan Publik yang Mempercepat Krisis

Ketegangan mencapai puncaknya setelah hasil imbang melawan Leeds United. Amorim, yang merasa posisinya tidak dihargai, secara terbuka menegaskan keyakinannya di hadapan media.

“Saya hanya ingin mengatakan bahwa saya datang ke sini untuk menjadi manajer, bukan untuk menjadi pelatih,” kata Amorim, dikutip dari BBC Sport. Pernyataan ini dinilai sebagai kritik langsung terhadap struktur klub dan dianggap melampaui batas komunikasi internal oleh manajemen.

Statistik juga tidak berpihak padanya. Amorim menutup masa baktinya dengan catatan 24 kemenangan, 18 imbang, dan 21 kekalahan dari total 63 pertandingan. Persentase kemenangannya hanya mencapai 38,1 persen, sebuah angka yang jauh dari harapan klub sekelas Manchester United.

Manajer vs. Pelatih: Perbedaan yang Tak Sepele

Perbedaan antara manajer dan pelatih kepala di sepak bola modern memang memiliki cakupan kerja yang signifikan. Pelatih UEFA, Pedro Mendonca, menjelaskan hal ini kepada Football Now.

“Perbedaan utama antara pelatih dan manajer adalah bahwa fokus utama pelatih kepala selalu pada tim, dalam permainan, mengembangkan aspek taktis dan teknis permainan,” ujar Pedro.

Sementara itu, peran manajer jauh lebih luas. “Manajer lebih fokus pada pengembangan tim. Mengembangkan aspek pelatihan, tetapi juga fasilitas, proses pencarian bakat, dan negosiasi dengan para pemain,” jelas Pedro, seperti dilansir Euro News.

Dalam konteks Manchester United, perbedaan definisi inilah yang tidak pernah benar-benar terselaraskan. Amorim merasa dirinya adalah seorang manajer yang seharusnya memiliki kendali penuh, sementara klub tetap memperlakukannya sebagai pelatih kepala. Polemik istilah ini, pada akhirnya, berujung pada perpisahan yang tak terhindarkan.

Mureks