Tren

Maduro: “Di Mana Pun Mereka Mau,” Venezuela Siap Berdialog dengan AS soal Perdagangan Narkoba

Presiden Venezuela Nicolas Maduro menyatakan kesiapan negaranya untuk berdialog dengan Amerika Serikat (AS) terkait isu perdagangan narkoba, minyak, dan migrasi. Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya tekanan militer AS terhadap Venezuela.

Maduro, dalam wawancara televisi pemerintah pada Kamis (1/1), menghindari pertanyaan langsung mengenai dugaan serangan AS terhadap fasilitas dermaga di Venezuela. Ia hanya mengatakan, “ini bisa menjadi sesuatu yang akan kita bicarakan dalam beberapa hari ke depan,” saat ditanya apakah ia mengkonfirmasi atau membantah serangan tersebut.

Selengkapnya dapat dibaca melalui Mureks di laman mureks.co.id.

Namun, ia menegaskan keterbukaan untuk bekerja sama dengan Washington. “Di mana pun mereka mau dan kapan pun mereka mau,” kata Maduro mengenai gagasan dialog dengan Amerika Serikat.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump pada Senin (29/12) mengumumkan serangan dan penghancuran area dermaga yang melayani kapal-kapal perdagangan narkoba Venezuela. Serangan ini disebut-sebut sebagai serangan darat pertama yang diketahui dari kampanye militer AS melawan perdagangan narkoba dari Amerika Latin. Mureks mencatat bahwa ketegangan antara kedua negara telah meningkat dalam beberapa minggu terakhir, terutama setelah kampanye militer AS di perairan Karibia.

Trump tidak merinci apakah itu operasi militer atau CIA, atau lokasi persisnya, hanya menyebut “di sepanjang pantai.” Ia menambahkan, “Terjadi ledakan besar di area dermaga tempat mereka memuat kapal-kapal dengan narkoba. Jadi kami menyerang semua kapal dan sekarang kami menyerang area tersebut, itu adalah area pelaksanaan, di situlah mereka melaksanakannya. Dan area itu sudah tidak ada lagi.”

Dalam wawancara yang sama, Maduro bersikeras bahwa Venezuela telah membela diri dengan baik di tengah kampanye militer AS di laut. “Rakyat kami aman dan damai,” ujarnya.

Rumor mengenai lokasi serangan sempat dipicu oleh Presiden Kolombia Gustavo Petro yang mengatakan, “Trump mengebom sebuah pabrik di Maracaibo” tempat “mereka mencampur pasta koka untuk membuat kokain.” Hal ini menyebabkan spekulasi di media sosial bahwa kebakaran di gudang distributor kimia grosir Primazol di Maracaibo mungkin terkait. Namun, Kepala Primazol, Carlos Eduardo Siu, membantah rumor tersebut dengan tegas. “Presiden Petro, tidak di sini — kami tidak mengemas atau memproduksi narkotika jenis apa pun,” kata Siu.

Mureks