Sabtu, 10 Januari 2026 – Evaluasi pembelajaran siswa kerap menjadi tolok ukur penting dalam mengukur pemahaman materi. Salah satu materi yang menarik perhatian adalah kearifan lokal ‘Smong’ dari Simeulue, Aceh, yang dibahas dalam kunci jawaban Bahasa Indonesia kelas 9 halaman 130 Kurikulum Merdeka.
Materi ini, yang bersumber dari buku Bahasa Indonesia untuk SMP/MTs Kelas IX karya Eva Y. Nukman dkk. (2021), menyajikan serangkaian soal berdasarkan teks bacaan berjudul “Smong, Kearifan Lokal untuk Mitigasi Bencana”. Pembahasan ini tidak hanya menguji pemahaman bahasa, tetapi juga menyoroti pentingnya pengetahuan tradisional dalam menghadapi bencana.
Ikuti artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Melestarikan Pesan Leluhur Melalui Lagu
Mureks merangkum, tujuan utama Muhammad Riswan menciptakan lagu Smong adalah untuk melestarikan cerita dan pesan leluhur masyarakat Simeulue. Melalui medium lagu, pesan-pesan ini diharapkan mudah dipahami dan diingat oleh setiap generasi muda. Ini menjadi krusial mengingat jumlah penutur nafi-nafi, atau adat tutur lokal, yang semakin berkurang. Dengan demikian, kisah Smong tetap tersampaikan sebagai pedoman mitigasi bencana tsunami.
Smong dalam Kehidupan Sehari-hari Masyarakat Simeulue
Kearifan lokal Smong telah terintegrasi erat dalam kehidupan masyarakat Simeulue. Pesan-pesan mitigasi bencana ini disampaikan melalui berbagai cara, termasuk lagu, puisi, cerita, dan adat tutur yang dikenal sebagai nafi-nafi. Sejak usia dini, anak-anak di Simeulue telah diperkenalkan dengan Smong, memastikan bahwa pesan-pesan penting ini melekat dalam kesadaran kolektif mereka.
Daya Tarik Smong di Mata Dunia
Dunia internasional menaruh perhatian besar pada Smong sebagai model mitigasi bencana. Ketertarikan ini bukan tanpa alasan; Smong terbukti sangat efektif dalam menyelamatkan banyak penduduk Simeulue saat tsunami Aceh pada tahun 2004. Ini menunjukkan bahwa pengetahuan tradisional dapat menjadi sistem mitigasi bencana yang sederhana namun sangat ampuh.
Meskipun banyak masyarakat dunia juga memiliki kearifan lokal sejenis, tidak semuanya terdokumentasi dan diwariskan sekuat Smong. Oleh karena itu, Smong menjadi contoh inspiratif yang menunjukkan potensi besar pengetahuan tradisional dalam menghadapi ancaman bencana alam.
Memahami Nafi-nafi dan Nanga-nanga
- Nafi-nafi: Merujuk pada budaya lokal masyarakat Simeulue berupa cerita atau adat tutur yang berisi nasihat dan petuah kehidupan, termasuk di dalamnya kisah Smong.
- Nanga-nanga: Adalah seni bertutur atau seni bercerita, yang digunakan sebagai media penyampaian kisah Smong, selain melalui lagu dan puisi.
Relevansi Smong di Era Modern
Pentingnya mengajarkan kearifan lokal seperti Smong di masa kini tidak dapat dipandang sebelah mata. Smong mengandung pengetahuan mitigasi bencana yang nyata dan telah terbukti menyelamatkan nyawa. Selain itu, pengajaran Smong juga berfungsi untuk:
- Menumbuhkan kesadaran dan kesiapsiagaan sejak dini terhadap potensi bencana.
- Menjaga identitas budaya dan warisan leluhur agar tidak punah.
- Melengkapi ilmu pengetahuan modern dengan pendekatan budaya yang mudah dipahami oleh masyarakat luas.
Dengan mendalami kunci jawaban ini, siswa tidak hanya meningkatkan pemahaman mereka terhadap materi Bahasa Indonesia, tetapi juga memperoleh wawasan berharga mengenai pentingnya kearifan lokal dalam menghadapi tantangan zaman.






