Tren

Krisis Ekonomi Picu Protes Nasional, Iran Tangkap Lebih dari 2.300 Orang di Seluruh Provinsi

TEHERAN – Gelombang protes nasional di Iran terus meluas pada Sabtu (10/1) di tengah memburuknya kondisi ekonomi. Pemerintah Iran merespons dengan memutus akses internet dan jaringan telepon, sementara lebih dari 2.300 orang dilaporkan ditangkap dalam aksi demonstrasi tersebut.

Situasi ini semakin menekan pemerintahan teokratis Iran yang sebelumnya telah terdampak konflik regional dan tekanan internasional. Menurut laporan Human Rights Activists News Agency (HRANA), lebih dari 500 aksi protes telah terjadi di seluruh 31 provinsi Iran. Dalam catatan Mureks, setidaknya 65 orang dilaporkan meninggal dunia akibat gelombang demonstrasi ini.

Liputan informatif lainnya tersedia di Mureks. mureks.co.id

Pembatasan terhadap jurnalis dan pemutusan internet oleh pemerintah Iran menyulitkan peliputan di lapangan, menyebabkan informasi dari media pemerintah sangat terbatas. Meskipun demikian, protes terus berlanjut bahkan setelah Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei mengeluarkan peringatan keras kepada para pengunjuk rasa.

Krisis ekonomi yang meluas dipicu oleh runtuhnya nilai mata uang rial. Dilansir dari AP News pada Sabtu (10/1), lonjakan harga bahan pokok seperti daging dan beras, serta tingkat inflasi tahunan sekitar 40 persen, menjadi pemicu utama kemarahan publik. Pada Desember lalu, keputusan pemerintah untuk menaikkan harga bensin bersubsidi semakin membebani masyarakat.

Aksi protes yang awalnya dimulai oleh para pedagang di Teheran dengan cepat menyebar ke berbagai wilayah di Iran. Tuntutan awal yang berfokus pada isu ekonomi kemudian berkembang menjadi seruan antipemerintah. Sebagian pengunjuk rasa bahkan secara terbuka menyuarakan dukungan kepada Putra Mahkota Iran di pengasingan, Reza Pahlavi.

Di sisi lain, kekhawatiran Barat terhadap program nuklir Iran semakin meningkat, dengan tudingan bahwa program tersebut mendekati kemampuan senjata nuklir. Tekanan ekonomi terhadap Iran semakin parah sejak Perserikatan Bangsa-Bangsa kembali memberlakukan sanksi pada September terkait program nuklir. Sanksi tersebut menyebabkan nilai mata uang rial terjun bebas hingga lebih dari 1,4 juta per dolar AS, setara dengan sekitar Rp23,5 miliar.

Mureks