Tren

Dari Thailand ke Puncak Penjualan Nasional: Mengulas Perjalanan Panjang Honda Brio di Indonesia

telah lama menancapkan posisinya sebagai salah satu favorit di Tanah Air. Kendaraan mungil ini bahkan pernah mencatatkan era keemasan, menjadi mobil terlaris di Indonesia sepanjang tahun 2022 hingga 2023. Perjalanan Brio di pasar otomotif nasional merupakan kisah adaptasi dan inovasi yang berkelanjutan.

Debut global Honda Brio pertama kali terjadi pada tahun 2011, diperkenalkan di India dan Thailand. Setahun kemudian, tepatnya pada 2012, Brio resmi mengaspal di Indonesia. Kehadirannya langsung mengisi segmen city car, diposisikan di bawah Honda Jazz yang kala itu sudah memiliki basis penggemar.

Ikuti artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id

Awal Mula dan Karakteristik Generasi Pertama

Pada generasi perdananya, Honda Brio hadir dalam dua varian utama: tipe E sebagai varian tertinggi dan tipe S sebagai versi dasar. Unit-unit Brio pada masa itu masih berstatus Completely Built Up (CBU) atau impor utuh dari Thailand. Ciri khas desain Brio generasi awal sangat sederhana, ditandai dengan lampu depan berukuran besar, grille krom, serta pintu bagasi belakang yang seluruhnya berbahan kaca.

Perbedaan antara tipe E dan S terlihat dari detail-detail kecil, seperti warna handle pintu dan spion, serta jenis pelek yang digunakan. Di bagian kabin, tipe E sudah dilengkapi dengan head unit double-din, sementara tipe S masih mengandalkan single-din. Untuk pasar Indonesia, Brio generasi awal dibekali mesin berkapasitas 1.339 cc yang mampu menghasilkan tenaga sebesar 99 Tk.

Era LCGC dan Pengembangan Varian

Memasuki tahun 2013, Honda melakukan ekspansi signifikan pada lini Brio dengan memperkenalkan Brio 1.2 dan Brio Satya. Varian Brio Satya secara khusus dirancang untuk mengisi segmen Low Cost Green Car (LCGC) yang sedang populer. Pada periode ini, Brio bermesin 1.3 yang sebelumnya diimpor, berganti nama menjadi Brio Sport sebagai varian tertinggi, namun tak lama kemudian pemasarannya dihentikan.

Brio 1.2 dan Brio Satya mengandalkan mesin berkapasitas 1.198 cc, yang mampu menyemburkan tenaga 89 Tk dengan torsi puncak 110 Nm. Khusus untuk Brio Satya, pada awalnya hanya tersedia dengan pilihan transmisi manual dan dilengkapi fitur keselamatan yang lebih sederhana dibandingkan varian non-LCGC. Catatan Mureks menunjukkan, langkah ini merupakan strategi Honda untuk menjangkau segmen pasar yang lebih luas dengan harga yang kompetitif.

Facelift dan Generasi Kedua

Pada tahun 2016, PT Honda Prospect Motor (HPM) melakukan facelift besar-besaran pada Brio. Momen ini juga menjadi debut bagi Brio RS, varian paling sporty yang mudah dikenali dari tampilan bumper yang berbeda, grille depan yang lebih agresif, aksen hitam, serta emblem RS. Pembaruan ini juga membawa perubahan pada sistem transmisi otomatis, di mana transmisi lima percepatan digantikan oleh teknologi CVT (Continuously Variable Transmission).

Tidak hanya itu, Brio Satya yang sebelumnya hanya tersedia dalam transmisi manual, mulai mendapatkan opsi transmisi CVT, memberikan pilihan yang lebih beragam bagi konsumen. Empat tahun setelahnya, tepatnya pada 2018, Honda Brio generasi kedua resmi meluncur. Perubahan paling mencolok terlihat pada bagian eksterior, memberikan tampilan yang lebih modern dan segar, melanjutkan dominasinya di segmen city car Indonesia.

Mureks