Nasional

Kisah Para Pelaut Nusantara: Mengungkap Rahasia Navigasi yang Diwariskan Lewat Cerita Lisan

Pengetahuan navigasi di Nusantara, yang menjadi tulang punggung pelayaran maritim sejak ribuan tahun lalu, ternyata tidak selalu tertuang dalam buku-buku teori. Sebaliknya, warisan berharga ini justru dibagikan secara lisan, menjadi serangkaian petunjuk praktis yang dihafal dan diterapkan oleh para pelaut.

Metode pewarisan ini memungkinkan para nakhoda dan awak kapal untuk memahami kapan waktu terbaik untuk berlayar, ke mana arah yang harus dituju, serta tanda-tanda alam apa saja yang perlu dibaca dari langit dan laut. Bagaimana tradisi lisan ini bertahan dan menjadi panduan utama bagi pelaut Nusantara?

Artikel informatif lainnya dapat dibaca di Mureks mureks.co.id.

Pewarisan Pengetahuan dari Nakhoda ke Awak Kapal

Tradisi turun-temurun menjadi kunci dalam transmisi pengetahuan navigasi di Nusantara. Merujuk jurnal Kajian Budaya Maritim Orang Bugis Makassar dan Arah Transformasinya karya Andi Muhammad Akhmar, dkk., pengetahuan navigasi tradisional masih diwariskan melalui cerita lisan dari generasi ke generasi.

Salah satu pola yang umum adalah dengan mengajak anak buah kapal (ABK) untuk mengikuti nakhoda dalam pelayaran berulang. Secara bertahap, ABK akan diberi tugas untuk membaca dan menginterpretasikan tanda-tanda alam. Proses ini juga melibatkan pengalaman langsung di lapangan, termasuk pemahaman mendalam tentang arus laut lokal dan teknik orientasi, baik di siang maupun malam hari.

Bintang sebagai Penunjuk Arah dalam Cerita Lisan

Di komunitas bahari, khususnya suku Bugis, bintang memiliki peran lebih dari sekadar hiasan langit. Bintang-bintang tersebut adalah penunjuk arah alami yang vital. Rasi bintang dikenali dengan nama-nama lokal yang mudah diingat, lalu diajarkan melalui cerita dan pengulangan yang terus-menerus.

Penelitian berjudul Implementasi Rasi Bintang Navigasi Bugis oleh Sadri Saputra dan Muammar Bakri menjelaskan bahwa pelaut Bugis menjadikan benda langit sebagai pedoman utama. Pengetahuan ini dipadukan dengan tanda alam lain seperti arah angin, pola arus, dan tinggi ombak. Bagi mereka, peta bukanlah lembaran kertas, melainkan gabungan antara langit dan laut yang terhampar luas.

Ketika satu nama rasi bintang disebutkan, awak kapal secara otomatis memahami arah yang dituju sekaligus perkiraan musim yang sedang atau akan datang. Cerita lisan ini berfungsi sebagai alat bantu ingatan yang efektif. Tanpa perlu menghafal istilah teknis yang rumit, para pelaut dapat menentukan jalur pelayaran hanya dengan mengingat kisah-kisah yang telah mereka dengar sejak muda.

Membaca “Bahasa Laut” Melalui Tanda Alam

Selain bintang, pelaut Nusantara juga memiliki kemampuan luar biasa dalam membaca laut sebagai “bahasa” yang penuh tanda. Arah angin, tinggi gelombang, perubahan warna air, hingga pola arus laut menjadi petunjuk penting dalam setiap perjalanan. Pengetahuan ini mencakup pemahaman rinci tentang arus lokal dan cara memanfaatkannya untuk memastikan perjalanan lebih aman dan efisien dalam penggunaan tenaga.

Mureks mencatat bahwa karena tidak semua awak kapal memiliki kemampuan membaca peta atau alat navigasi modern, pengetahuan ini disampaikan dalam kalimat yang sederhana dan mudah dipahami. Contohnya, dengan menyebut posisi tanjung, gunung di daratan, atau pergerakan matahari. Semua petunjuk tersebut kemudian diuji dan diasah melalui praktik berulang di laut. Dengan cara ini, pelaut belajar langsung dari pengalaman, bukan hanya dari teori semata.

Dari Tradisi Lisan Menuju Naskah Lontaraq Bugis

Meskipun tradisi lisan menjadi fondasi utama, sebagian pengetahuan pelayaran juga didokumentasikan dalam bentuk tulisan untuk mencegah hilangnya informasi. Lontaraq Attoreng Toriolo, sebuah naskah yang tersimpan di Arsip Nasional RI, merupakan salah satu contoh bentuk tulisan yang membahas pengetahuan tradisional ilmu pelayaran.

Namun, naskah-naskah tersebut tidak dimaksudkan untuk menggantikan tradisi lisan. Tulisan hanya berperan sebagai pengingat dan penguat. Kemampuan bernavigasi yang sesungguhnya tetap harus diasah melalui latihan langsung di laut. Oleh karena itu, tradisi lisan tetap bertahan hingga kini. Ia bersifat fleksibel, mudah diajarkan, dan mampu menyesuaikan diri dengan perubahan kondisi laut dari hari ke hari, memastikan warisan leluhur ini terus hidup di tengah modernisasi.

Mureks