Ketegangan hubungan antara Venezuela dan Amerika Serikat (AS) kembali memanas, menjadi sorotan utama pelaku pasar global pada Senin, 5 Januari 2026. Eskalasi geopolitik ini memunculkan kekhawatiran akan potensi dampak buruk terhadap pasar keuangan global, termasuk pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Situasi ini memanas menyusul langkah keras yang diambil Amerika Serikat terhadap Venezuela, yang kemudian memicu penolakan tegas dari pemerintahan Caracas. Ketegangan tersebut terjadi di tengah kondisi global yang masih rapuh, ditandai oleh perlambatan ekonomi dunia, konflik geopolitik yang belum mereda di sejumlah kawasan, serta ketidakpastian arah kebijakan moneter global.
Artikel informatif lainnya dapat ditemukan dalam liputan Mureks. mureks.co.id
Kombinasi faktor-faktor tersebut membuat pasar keuangan global cenderung lebih sensitif terhadap sentimen negatif. Menurut Mureks, kondisi ini memerlukan perhatian serius dari para investor.
Dampak pada Pasar Keuangan dan IHSG
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menilai memanasnya hubungan Venezuela dan AS berpotensi menambah tekanan sentimen di pasar keuangan. Meskipun dampaknya terhadap Indonesia bersifat tidak langsung, Nico menekankan bahwa konflik geopolitik yang melibatkan negara produsen energi tetap perlu dicermati oleh pelaku pasar.
Meski Venezuela tidak termasuk dalam jajaran 20 besar produsen minyak mentah dunia, ketegangan yang terjadi tetap dapat memengaruhi persepsi risiko global, khususnya terhadap pasokan energi dan stabilitas harga komoditas.
“Apa yang akan terjadi hari ini? Kami melihat saham berbasis harga minyak akan mengalami kenaikkan, meskipun Venezuela tidak masuk ke dalam 20 terbesar produsen minyak mentah. Hal ini tentu saja akan memberikan potensi tekanan inflasi khususnya dan akan menimbulkan risiko bagi pasar,” ujar Nico dalam analisa hariannya, Senin (5/1/2026).
Menanggapi pergerakan IHSG, Nico menilai kondisi geopolitik ini dapat menahan laju penguatan indeks dalam jangka pendek. Investor, khususnya investor asing, cenderung bersikap lebih berhati-hati sambil menunggu kejelasan arah konflik, serta respons negara-negara lainnya terhadap langkah Amerika Serikat.
“Untuk pasar saham dan obligasi, kami melihat ada potensi koreksi meskipun pelaku pasar dan investor akan cenderung wait and see pada perdagangan hari ini,” paparnya.
Berdasarkan analisa teknikalnya, Nico melihat IHSG berpotensi melemah terbatas dengan level support dan resistance di kisaran 8.645-8.775. Meskipun demikian, fundamental ekonomi domestik Indonesia dinilai masih cukup solid untuk menopang pasar saham, terutama dari sisi konsumsi domestik, stabilitas sistem keuangan, serta prospek kinerja emiten.






