Internasional

Kementerian Perhubungan Kaji Skytrain, Hubungkan Jonggol hingga Tangsel ke Jaringan Angkutan Massal

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) tengah mengkaji pengembangan moda transportasi baru bernama Skytrain untuk memperkuat jaringan angkutan massal di wilayah Jabodetabek. Proyek ini diproyeksikan menjadi solusi penghubung kawasan permukiman menuju simpul transportasi utama seperti MRT dan LRT yang telah beroperasi.

Direktur Jenderal Integrasi Transportasi dan Multimoda Kementerian Perhubungan, Risal Wasal, mengungkapkan bahwa Skytrain akan menggunakan sarana berpenggerak mandiri dan dirancang khusus sebagai jalur pengumpan (feeder), berbeda dengan kereta gantung.

Artikel informatif lainnya dapat dibaca di Mureks mureks.co.id.

Rencana Rute Skytrain: Menjangkau Jonggol dan Tangerang Selatan

“Kami mencoba ada satu jenis kereta baru yang kita sebut dengan Skytrain. Skytrain yang kereta api berpenggerak tapi ya, sarananya itu berpenggerak, bukan cable train. Tapi sarana berpenggerak ini kita coba dua feeder yang kita lakukan,” ungkap Risal kepada CNBC Indonesia pada Senin, 5 Januari 2026.

Salah satu fokus pengembangan Skytrain diarahkan ke kawasan timur Jabodetabek. Pemerintah membuka opsi perpanjangan feeder LRT Jabodebek di Cibubur agar menjangkau wilayah Bogor bagian timur, termasuk Cariu di Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Hal ini bertujuan untuk mendekatkan akses transportasi massal ke permukiman warga.

“Yang satu lagi yang mendukung LRT Jabodebek di Cibubur. Di Cibubur dari Mekarsari atau sampai sana lagi dari Cariu (Kabupaten Bogor) sampai ke Stasiun Cibubur ini,” jelas Risal.

Selain itu, pengembangan juga mengarah ke wilayah selatan Jakarta dan sekitarnya. Kemenhub tengah mengkaji jalur yang akan berfungsi sebagai feeder MRT Jakarta, khususnya untuk menghubungkan kawasan penyangga dengan Stasiun MRT Lebak Bulus.

“Bagaimana feeder MRT yang di Lebak Bulus itu kita konsepkan dari BSD sampai ke MRT Lebak Bulus. Nah dia bisa lewat Mas Bintaro atau masuk Tangerang Selatan yang nantinya lewat ke Pondok Cabe, bisa dua jalur,” tambah Risal.

Mengatasi Tantangan ‘First Mile’ dan ‘Last Mile’

Risal menilai, persoalan utama transportasi Jabodetabek saat ini bukan lagi pada jalur utama. Menurutnya, jaringan MRT, LRT, hingga BRT sudah tersedia, namun konektivitas dari dan menuju simpul transportasi masih menjadi tantangan besar. Mureks mencatat bahwa masalah ‘first mile’ dan ‘last mile’ ini krusial untuk efektivitas angkutan massal.

“Jakarta kita punya feeder, punya trunk line dengan kereta api. Ada LRT Jabodebek, ada MRT Jakarta, ada BRT dan lain-lain. Namun kita punya masalah di first mile dan last mile-nya nih, bagaimana masyarakat di daerah itu di Bogor, Bekasi, Tangerang menuju simpul pertamanya tadi naik LRT MRT. Mencari suatu moda transportasi yang benar-benar dibutuhkan masyarakat yang mudah, aman, nyaman, selamat, murah akhirnya nantinya,” sebut Risal, menekankan pentingnya solusi transportasi yang terintegrasi dan terjangkau bagi masyarakat.

Mureks