Keuangan

Kemensos Kaji Transformasi Program Permakanan Lansia dan Disabilitas, Integrasi MBG dengan Pengasuh Bersertifikat

Kementerian Sosial (Kemensos) tengah mengkaji secara mendalam transformasi program permakanan bagi kelompok lansia dan penyandang disabilitas. Inisiatif ini bertujuan mengintegrasikan program tersebut dengan skema Makan Bergizi Gratis (MBG) sekaligus memperkenalkan peran pengasuh atau caregiver bersertifikat. Langkah ini diharapkan tidak hanya memastikan penyaluran makanan, tetapi juga memberikan pendampingan, perawatan harian, serta dukungan psikososial bagi para penerima manfaat yang hidup sendiri.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf menjelaskan, program permakanan pada tahun 2025 telah menjangkau lebih dari 100 ribu lansia. “Sasaran utama adalah warga berusia di atas 75 tahun yang tinggal sendirian, dibuktikan melalui data kartu keluarga. Jika anggaran memungkinkan, program ini juga bisa diperluas bagi lansia di bawah usia tersebut,” ujarnya pada Sabtu, 10 Januari 2026.

Simak artikel informatif lainnya di Mureks melalui mureks.co.id.

Selain lansia, penyandang disabilitas juga menjadi target program ini berdasarkan usulan dari pemerintah daerah dengan kriteria tertentu, didukung oleh alokasi anggaran yang telah disiapkan.

Tantangan Distribusi dan Solusi Integrasi

Selama ini, penyaluran permakanan dilakukan oleh petugas dengan skema pengantaran langsung ke rumah penerima manfaat. Model distribusi ini menimbulkan biaya operasional yang signifikan, berkisar antara Rp25 ribu hingga Rp30 ribu per titik penyaluran. Dengan transformasi ke model MBG terpadu, Kemensos berharap distribusi menjadi lebih efisien sekaligus menyediakan pendampingan personal melalui pengasuh.

“Program ini kemudian kita usulkan untuk bertransformasi menjadi program makan bergizi gratis khusus untuk lansia dan penyandang disabilitas,” jelas Saifullah. Pengasuh yang dilibatkan tidak hanya bertugas menyalurkan makanan, tetapi juga melakukan pendampingan harian, perawatan dasar, serta dukungan lain sesuai kebutuhan spesifik penerima manfaat.

Langkah ini merupakan respons terhadap kebutuhan kelompok rentan yang tinggal sendiri, yang memerlukan perhatian lebih dari sekadar logistik makanan. Dengan kehadiran pengasuh bersertifikat, Kemensos berharap kualitas layanan meningkat, memastikan lansia dan penyandang disabilitas mendapatkan dukungan holistik yang meliputi aspek nutrisi, kesehatan, dan psikososial.

Pengasuh Bersertifikat untuk Layanan Holistik

Saifullah menambahkan, Kemensos sedang mengkaji mekanisme pelatihan bagi para pengasuh agar sesuai dengan standar pelayanan yang ditetapkan. Pengasuh ini akan diberikan pelatihan khusus, mencakup kompetensi dasar perawatan lansia dan penyandang disabilitas, etika pendampingan, serta keterampilan menangani kondisi darurat. “Pengasuh ini tidak hanya mengantarkan makanan, tetapi menjadi mitra dalam pemeliharaan kualitas hidup penerima manfaat,” katanya.

Penerapan program ini direncanakan secara bertahap, dimulai dari wilayah dengan jumlah lansia dan penyandang disabilitas yang paling membutuhkan. Integrasi MBG dengan peran pengasuh diharapkan dapat meringankan beban distribusi sekaligus memastikan adanya pemantauan berkala terhadap kondisi penerima manfaat.

Dalam ringkasan Mureks, program ini akan memanfaatkan data akurat dari pemerintah daerah, termasuk catatan kependudukan, kondisi kesehatan, dan kebutuhan spesifik masing-masing penerima manfaat. Pendekatan ini memastikan program tidak hanya bersifat kuantitatif, seperti jumlah porsi makanan yang disalurkan, tetapi juga kualitatif, memperhatikan dampak terhadap kesejahteraan fisik dan mental.

Sinergi dan Evaluasi Berkelanjutan

Menurut Saifullah, transformasi ini sejalan dengan visi Kemensos dalam memperluas cakupan perlindungan sosial berbasis data, sekaligus meminimalkan risiko penyalahgunaan atau ketidakoptimalan distribusi. “Dengan sistem yang lebih terintegrasi, kami bisa memastikan program MBG sampai ke tangan yang benar, dan penerima manfaat mendapatkan perhatian yang layak,” ujarnya.

Kemensos juga mengevaluasi kemungkinan kolaborasi dengan lembaga swasta dan komunitas lokal untuk mendukung operasional pengasuh. Sinergi ini diharapkan dapat memperluas jangkauan program tanpa membebani anggaran pemerintah secara berlebihan, serta menciptakan model pendampingan yang berkelanjutan.

Transformasi ini juga menjadi respons terhadap tantangan sosial yang semakin kompleks, di mana lansia dan penyandang disabilitas yang tinggal sendirian memiliki kebutuhan beragam. Kehadiran pengasuh profesional diharapkan menjadi jawaban praktis bagi kebutuhan nutrisi seimbang, dukungan psikososial, dan keamanan sehari-hari.

Saifullah menegaskan, transformasi MBG ini akan terus dipantau dan dievaluasi agar setiap langkah implementasi dapat disesuaikan dengan kebutuhan riil di lapangan. “Pendekatan berbasis data dan integrasi dengan pengasuh adalah kunci agar program ini berjalan efektif, tepat sasaran, dan memberikan manfaat maksimal bagi lansia dan penyandang disabilitas,” pungkasnya.

Mureks