Internasional

Kemenkeu Pastikan Ekonomi RI Resilien di Akhir 2025, Didukung Manufaktur dan Inflasi Terkendali

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menegaskan perekonomian Indonesia menunjukkan ketahanan yang kuat hingga akhir tahun 2025. Kondisi ini menjadi fondasi penting untuk kinerja ekonomi yang lebih solid di tahun 2026.

“Perekonomian Indonesia di penutup tahun 2025 tetap resilien, didukung aktivitas manufaktur yang ekspansif, inflasi yang terkendali, serta neraca perdagangan yang terus mencatatkan surplus. Faktor-faktor tersebut menjadi modal penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat di tahun 2026,” ujar Febrio Kacaribu, Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan, pada Selasa (06/01/2026).

Baca liputan informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id

Kinerja Manufaktur dan Neraca Perdagangan Menguat

Aktivitas manufaktur Indonesia menunjukkan performa positif. Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur pada Desember 2025 tercatat sebesar 51,2, menandai ekspansi selama lima bulan berturut-turut. Mureks mencatat bahwa angka ini menunjukkan geliat sektor industri yang signifikan.

Febrio menjelaskan, “Kinerja positif ini didukung kuatnya permintaan domestik, peningkatan ketenagakerjaan, serta aktivitas pembelian bahan baku. Optimisme pelaku usaha juga menguat dan mencapai level tertinggi dalam tiga bulan terakhir, mencerminkan keyakinan terhadap prospek sektor manufaktur ke depan.”

Secara global, aktivitas manufaktur negara mitra utama Indonesia juga berada di zona ekspansif. Amerika Serikat mencatat PMI 51,8, China 50,1, dan India 55,7. Di kawasan ASEAN, PMI manufaktur Thailand (57,4) dan Malaysia (50,1) turut menguat, memberikan sinyal positif bagi permintaan ekspor Indonesia.

Sementara itu, neraca perdagangan Indonesia pada November 2025 mencatatkan surplus sebesar US$ 2,66 miliar, melanjutkan tren positif sejak Mei 2020. Secara kumulatif dari Januari hingga November 2025, surplus neraca perdagangan mencapai US$ 38,54 miliar, meningkat US$ 9,30 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year).

Ekspor pada periode Januari-November 2025 tercatat sebesar US$ 256,56 miliar, naik 5,61% (cumulative-to-cumulative). Peningkatan ini terutama disumbang oleh sektor industri pengolahan dengan kontribusi 10,41%, yang mencerminkan peningkatan nilai tambah ekspor nasional. Impor pada periode yang sama tercatat sebesar US$ 218,02 miliar, naik 2,03% (cumulative-to-cumulative), dengan penyumbang utama dari impor barang modal sebesar 3,28%, sejalan dengan aktivitas produksi yang ekspansif.

Febrio menambahkan, pemerintah akan terus memperkuat hilirisasi sumber daya alam, meningkatkan daya saing produk ekspor nasional, serta diversifikasi mitra dagang utama untuk mengantisipasi dinamika global.

Inflasi Terkendali di Tengah Tantangan Pangan

Kemenkeu juga menyoroti stabilitas harga sepanjang tahun 2025, tercermin dari tingkat inflasi yang terkendali sebesar 2,92% (year-on-year). Tingkat inflasi Desember 2025 dipengaruhi oleh kenaikan harga beberapa komoditas pangan, di tengah menguatnya inflasi inti dan rendahnya inflasi administered price (AP).

“Gangguan cuaca dan kendala distribusi mendorong naiknya inflasi volatile food hingga mencapai 6,21% (yoy), dipengaruhi oleh komoditas aneka cabai, beras, dan ikan segar. Inflasi AP tercatat sedikit meningkat menjadi 1,93% (yoy) yang didorong oleh kenaikan harga bensin nonsubsidi dan tarif transportasi di periode Nataru,” jelas Febrio.

Inflasi inti tercatat stabil pada level 2,38% (year-on-year), dipicu oleh kenaikan harga emas perhiasan. Sepanjang tahun 2025, inflasi tetap berada dalam rentang sasaran nasional, didukung oleh kebijakan intervensi harga dan pasokan untuk menjaga keterjangkauan harga pangan.

Indikator Domestik Positif dan Arah Kebijakan Pemerintah

Berbagai indikator ekonomi domestik juga menunjukkan perkembangan positif di akhir tahun 2025. Hingga November, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) menguat ke level 124, sementara Indeks Penjualan Riil (IPR) tumbuh 5,94% (year-on-year), didorong oleh peningkatan penjualan makanan dan minuman serta mobilitas masyarakat.

Penguatan aktivitas ekonomi juga tercermin dari meningkatnya penjualan listrik sektor bisnis sebesar 6,2% (year-on-year), dengan penjualan listrik rumah tangga dan industri yang tumbuh stabil.

Febrio menutup pemaparannya dengan menegaskan komitmen pemerintah. “Pemerintah terus berupaya menjaga stabilitas serta memperkuat momentum pertumbuhan ekonomi. Kebijakan fiskal diarahkan mendukung program pembangunan nasional guna memastikan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.”

Mureks