Tren

Kemenhut Pastikan Ratusan Batang Kayu Hanyutan Banjir Aceh-Sumut Dimanfaatkan untuk Warga

Kementerian Kehutanan (Kemenhut) memastikan ratusan batang kayu yang terseret banjir di Sumatra siap dioptimalkan pemanfaatannya untuk membantu warga terdampak bencana di Aceh dan Sumatera Utara. Langkah ini diambil untuk mendukung pemulihan pascabencana secara tertib dan terkontrol.

Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL), Subhan, menjelaskan bahwa pemanfaatan kayu hanyutan ini sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 863 Tahun 2025. Regulasi tersebut mengatur pemanfaatan kayu hanyutan akibat bencana banjir sebagai sumber daya material untuk rehabilitasi dan pemulihan di wilayah Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Mureks juga menyajikan berbagai artikel informatif terkait. mureks.co.id

Pemanfaatan Terkontrol dan Terukur

“Dengan dukungan alat berat, pemilahan kayu hanyutan bisa dilakukan lebih cepat dan aman. Kayu yang layak kami manfaatkan untuk kebutuhan darurat warga,” kata Subhan, Kamis (8/1), dikonfirmasi dari Jakarta.

Di Aceh, khususnya Kabupaten Aceh Utara, pendataan hingga Selasa (6/1) mencatat 454 batang kayu hanyutan dengan volume 730,95 meter kubik telah diukur dan dinyatakan layak. Pemilahan dan pemanfaatan kayu di wilayah ini didukung oleh 35 alat berat yang dioperasikan Kemenhut, TNI, dan Kementerian Pekerjaan Umum (PU). Seluruh alat berat tersebut difokuskan untuk pembersihan di halaman rumah warga, sekaligus memilah kayu yang berada di dalam aliran air agar dapat dimanfaatkan.

Pemanfaatan kayu hanyutan ini diarahkan, antara lain, untuk mendukung pembangunan hunian sementara (huntara) yang dikembangkan berdasarkan hasil kajian dan riset Universitas Gadjah Mada (UGM). Mureks mencatat bahwa hingga saat ini, pemanfaatan kayu oleh masyarakat dan lembaga kemanusiaan tercatat mencapai 28,86 meter kubik, dengan progres dua huntara dalam pembangunan dan satu unit telah selesai dibangun.

Dukungan Alat Berat di Sumatera Utara

Di Sumatera Utara, tepatnya di Desa Garoga, Huta Godang, dan Aek Ngadol, Kabupaten Tapanuli Selatan, pemanfaatan kayu hanyutan juga dilakukan secara masif. Operasi ini melibatkan dukungan 20 alat berat dan 10 dump truck untuk memilah dan mengolah kayu guna kebutuhan pengungsian dan penanganan darurat.

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara, Novita Kusuma Wardani, menegaskan bahwa seluruh pemanfaatan kayu hanyutan dilakukan secara terkontrol dan sesuai ketentuan. “Sebanyak 430 keping kayu olahan dengan volume 6,95 meter kubik dimanfaatkan sebagai alas lantai 267 unit tenda darurat. Penatausahaan dan pengawasan terus kami lakukan agar pemanfaatannya tepat sasaran,” kata dia.

Upaya kolaboratif ini diharapkan dapat mempercepat proses rehabilitasi dan pemulihan kondisi masyarakat pascabencana banjir di kedua provinsi.

Mureks