Keuangan

Kemenhaj Pastikan Sebagian Tower Kampung Haji di Mekkah Siap Layani Jemaah pada Musim Haji 2028

JAKARTA – Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) menyatakan optimisme tinggi terhadap progres pembangunan Kampung Haji di Mekkah, Arab Saudi. Kemenhaj menargetkan sebagian tower akomodasi tersebut sudah dapat digunakan untuk melayani jemaah haji Indonesia pada penyelenggaraan haji tahun 2028.

Menteri Haji dan Umrah, Mohammad Irfan Yusuf, menjelaskan bahwa proyek ambisius ini merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk menyediakan akomodasi terintegrasi dan meningkatkan kualitas pelayanan bagi jemaah haji Indonesia. “Yang jelas tahun ini belum bisa, belum bisa. Tahun depan, karena membangun itu kan nggak cukup setahun. Kita harapkan paling lambat tahun 2028 itu ada sebagian tower yang bisa dipakai,” ujar Irfan Yusuf, Sabtu (10/1/2026).

Ikuti artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id

Menurut Irfan, pembangunan Kampung Haji sepenuhnya dikelola oleh Daya Anagata Nusantara (Danantara), dengan Kemenhaj berperan sebagai pengguna fasilitas. Ia juga menegaskan bahwa tidak ada kendala berarti dari sisi anggaran. “Saya kira (anggaran) nggak ada kendala. Danantara punya uang. Kemudian birokrasi Arab Saudi sangat welcome. Kita fokus persiapan jamaah haji kita. Kan, terkait dengan Kampung Haji tentu lebih banyak domainnya Danantara,” tambahnya.

Kawasan Thakher sebagai Fondasi Awal

Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) melaporkan bahwa pengembangan Kompleks Haji atau Hajj Complex telah dimulai di Kawasan Thakher. Kawasan ini mencakup Novotel Thakher Makkah dan telah beroperasi di lahan seluas sekitar 4,4 hektare, yang berjarak hanya 2-3 kilometer dari Masjidil Haram.

Saat ini, Kawasan Thakher memiliki tiga menara dengan total 1.461 kamar. Selain itu, terdapat 14 plot lahan yang telah direncanakan untuk pengembangan selanjutnya, termasuk area komersial dan pusat ritel. Chief Investment Officer (CIO) Danantara Indonesia, Pandu Sjahrir, menjelaskan bahwa Kawasan Thakher secara bertahap akan berkembang hingga sekitar 6.000 kamar dengan kapasitas menampung kurang lebih 22.000 jemaah.

“Jumlah ini diproyeksikan sekitar 10 persen dari total jemaah haji Indonesia setiap tahunnya,” kata Pandu. Dalam ringkasan Mureks, pengembangan ini merupakan langkah strategis untuk mengatasi keterbatasan akomodasi di sekitar Masjidil Haram.

Fokus pada Layanan Jemaah Terintegrasi

Pengembangan Kampung Haji tidak hanya berfokus pada pembangunan kamar tidur atau tower semata, melainkan juga mencakup ekosistem layanan yang mendukung kenyamanan dan kebutuhan jemaah. Fasilitas ritel, dukungan logistik, serta layanan penunjang lainnya akan dibangun secara terintegrasi. Hal ini memungkinkan jemaah untuk mengakses berbagai kebutuhan dari satu kawasan.

Strategi pengembangan ini, menurut Pandu, diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelayanan sekaligus memberikan solusi akomodasi yang modern dan terstandarisasi. Ini menjadi krusial mengingat jumlah jemaah haji Indonesia yang mencapai ratusan ribu setiap tahunnya.

Sinergi Pemerintah dan Investor

Keberhasilan pembangunan Kampung Haji ditunjang oleh kerja sama erat antara pemerintah Indonesia melalui Kemenhaj dan pihak swasta sebagai pengelola utama, yaitu Danantara. Sinergi ini memungkinkan percepatan pembangunan tower, penataan fasilitas pendukung, dan pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan kawasan, tanpa membebani anggaran negara secara langsung.

Pemerintah Arab Saudi juga memberikan dukungan administratif dan birokrasi yang mempermudah proses perizinan dan koordinasi di lapangan. Dukungan ini dinilai sebagai kunci agar target penggunaan sebagian tower pada 2028 dapat tercapai sesuai rencana.

Dampak terhadap Kualitas Layanan Jemaah

Menteri Irfan Yusuf menekankan bahwa tujuan utama pengembangan Kampung Haji adalah meningkatkan kenyamanan, keamanan, dan efisiensi layanan bagi jemaah. Dengan adanya akomodasi modern di dekat Masjidil Haram, jemaah diharapkan bisa lebih fokus menjalankan ibadah tanpa terganggu masalah logistik atau transportasi yang jauh dari pusat kegiatan haji.

Fasilitas pendukung seperti ritel, area komersial, dan layanan logistik di dalam kawasan akan memenuhi kebutuhan sehari-hari jemaah, mulai dari konsumsi makanan, perlengkapan ibadah, hingga kebutuhan medis. Model layanan ini diharapkan menjadi tolok ukur bagi pengembangan akomodasi haji di masa depan.

Langkah Strategis Selanjutnya

Kemenhaj akan terus memantau progres pembangunan, memastikan pengelolaan berjalan profesional, serta menjalin koordinasi dengan seluruh pihak terkait, termasuk pihak swasta dan otoritas lokal Arab Saudi. Evaluasi berkala dan perencanaan terukur menjadi langkah strategis untuk memastikan sebagian tower siap digunakan pada 2028 dan operasional kawasan berjalan optimal.

Rencana pengembangan jangka panjang mencakup penambahan fasilitas komersial, pusat ritel, dan layanan pendukung lainnya. Dengan demikian, Kampung Haji diharapkan dapat menjadi kawasan terpadu yang tidak hanya berfungsi sebagai akomodasi, tetapi juga sebagai ekosistem layanan haji modern.

Mureks