Nasional

Ismah dalam Ajaran Islam: Menyingkap Makna Kesucian dan Perlindungan Para Nabi dari Kekeliruan Risalah

Dalam ajaran Islam, terdapat sebuah konsep fundamental yang dikenal sebagai ismah. Istilah ini merujuk pada kesucian dan perlindungan ilahi dari kesalahan, khususnya yang dianugerahkan kepada para Nabi dan Rasul. Memahami ismah menjadi kunci untuk menelaah bagaimana ajaran Islam menjaga otentisitas risalah yang dibawa oleh para utusan Allah.

Pengertian Ismah dalam Islam

Ismah merupakan bagian esensial dalam keyakinan Islam, terutama terkait kepercayaan bahwa para Nabi dan Rasul senantiasa terjaga dari dosa. Menurut buku Konsep Ismah Dalam Diskursus Ahlussunnah & Syi’ah Imamiyah (2016) karya Dr. Faisol Nasar Bin Madi, M.A, ismah secara istilah adalah sifat terjaga dari dosa dan kesalahan yang diberikan Allah kepada para Nabi dan Rasul agar terhindar dari kekeliruan dalam menyampaikan risalah.

Liputan informatif lainnya tersedia di Mureks. mureks.co.id

Secara etimologi, ismah berasal dari kata Arab yang berarti perlindungan atau penjagaan. Dalam konteks terminologi agama, ismah dimaknai sebagai sifat terjaga dari perbuatan dosa, baik yang bersifat besar maupun kecil, serta bebas dari kesalahan fatal. Sifat ini menjadi syarat mutlak agar risalah yang disampaikan selalu benar dan tidak tercampur kekeliruan.

Pentingnya Konsep Ismah dalam Keyakinan Islam

Kepercayaan terhadap ismah menumbuhkan keyakinan bahwa Nabi dan Rasul wajib menjadi teladan yang sempurna bagi umat manusia. Hal ini krusial agar umat dapat percaya sepenuhnya pada ajaran yang mereka bawa, tanpa sedikit pun keraguan terhadap kemurnian wahyu. Oleh sebab itu, konsep ismah sangat dijaga dan dihormati dalam tradisi keislaman.

Diskursus Ismah dalam Tradisi Islam

Pembahasan mengenai ismah telah berkembang luas dalam tradisi pemikiran Islam. Setiap mazhab memiliki pandangan yang berbeda terkait cakupan dan penerapannya. Bahasan ini menjadi salah satu diskursus penting yang memperkaya khazanah intelektual Islam.

Pandangan Ahlussunnah tentang Ismah

Berdasarkan penjelasan Dr. Faisol Nasar Bin Madi, M.A, Ahlussunnah memandang bahwa ismah adalah perlindungan Allah terhadap para Nabi dari dosa besar dan kecil, baik sebelum maupun sesudah kerasulan. Namun, dalam beberapa kasus, Nabi tetap bisa melakukan hal yang sifatnya bukan dosa, seperti kelupaan atau kesalahan teknis yang tidak berdampak pada risalah ilahi.

Pandangan Syi’ah Imamiyah tentang Ismah

Sementara itu, Syi’ah Imamiyah berpendapat bahwa ismah tidak hanya berlaku bagi Nabi, melainkan juga untuk para Imam yang maksum setelah Nabi Muhammad SAW. Seperti dijelaskan dalam buku karya Dr. Faisol Nasar Bin Madi, M.A, Syi’ah Imamiyah meyakini bahwa para Imam juga terjaga dari dosa dan kesalahan, sehingga mereka layak menjadi rujukan utama dalam memahami syariat.

Dalil-dalil Ismah dalam Al-Qur’an dan Hadis

Al-Qur’an menyebutkan berbagai ayat yang menegaskan bahwa para Nabi dijaga dari kesalahan dalam menyampaikan wahyu, seperti yang termaktub dalam surah An-Najm ayat 3-4. Hadis-hadis Nabi juga turut memperkuat pemahaman bahwa Allah memberikan perlindungan khusus agar risalah yang disampaikan selalu benar dan terjaga dari penyimpangan.

Refleksi Ismah dalam Kehidupan Para Nabi dan Imam

Ismah tidak sekadar konsep teoretis, melainkan terefleksi secara nyata dalam kehidupan para Nabi dan Imam. Keteladanan mereka menjadi acuan moral bagi umat Islam sepanjang zaman.

Ismah pada Nabi Muhammad SAW

Nabi Muhammad SAW diyakini memiliki ismah yang sempurna sejak sebelum diangkat menjadi Rasul hingga akhir hayatnya. Beliau senantiasa dijaga dari perbuatan yang dapat mencoreng kehormatan dan kemurnian risalah. Setiap tindak-tanduknya menjadi pedoman utama bagi umat Islam.

Ismah pada Nabi-nabi Lain dalam Al-Qur’an

Para Nabi terdahulu seperti Ibrahim, Musa, dan Isa juga disebut dalam Al-Qur’an sebagai sosok yang terjaga dari dosa besar. Mereka menjalankan tugas kenabian dengan penuh integritas, sehingga ajaran yang mereka bawa tetap lurus dan otentik.

Ismah pada Para Imam Menurut Syi’ah

Dalam tradisi Syi’ah, para Imam diyakini memiliki ismah sebagai bentuk kepemimpinan spiritual setelah Nabi Muhammad SAW. Mereka dipercaya mampu memberikan bimbingan tanpa terjerumus pada kesalahan prinsipil, sehingga umat tetap memperoleh ajaran yang benar.

Hikmah dan Manfaat Konsep Ismah bagi Umat Islam

Konsep ismah memberikan rasa aman dan keyakinan bahwa ajaran Islam tetap murni serta tidak tercampur kesalahan. Selain itu, ismah juga menyajikan teladan moral yang tinggi, sehingga umat dapat meneladani akhlak mulia dan kejujuran para Nabi serta Imam dalam menjalani kehidupan.

Kesimpulan

Ismah dalam Islam menjadi fondasi penting yang menjaga kemurnian wahyu dan keteladanan utusan Allah. Konsep ini memastikan bahwa risalah yang disampaikan kepada umat benar-benar terjaga dari kekeliruan. Hingga kini, ismah tetap menjadi inspirasi dalam menjalani kehidupan dengan integritas dan kejujuran. Umat Islam dapat meneladani nilai-nilai luhur yang diajarkan Nabi dan para Imam dalam berbagai aspek kehidupan.

Mureks