Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tetap kokoh berkat kuatnya basis investor domestik, meskipun pasar dihadapkan pada tekanan jual dari investor asing dan sentimen geopolitik global yang memanas, termasuk ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Venezuela.
Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik menyatakan bahwa gejolak geopolitik bukanlah fenomena baru bagi pasar keuangan Tanah Air. Menurutnya, dalam kurun waktu 5 hingga 10 tahun terakhir, investor Indonesia telah menunjukkan kematangan yang signifikan dalam menyikapi berbagai risiko global. Mereka dinilai semakin mampu mengantisipasi dampak gejolak tersebut terhadap pasar maupun kinerja emiten secara individual.
Mureks juga menyajikan berbagai artikel informatif terkait. mureks.co.id
Jeffrey menambahkan, pola investasi saat ini memperlihatkan bahwa investor domestik semakin memahami profil risiko mereka dan tetap berfokus pada fundamental perusahaan, bahkan di tengah tekanan eksternal. Catatan Mureks menunjukkan, keberhasilan pendalaman pasar yang dilakukan BEI bersama para pemangku kepentingan justru tercermin dari aksi jual bersih investor asing.
Ia menjelaskan, pada periode sebelumnya, aksi jual bersih investor asing dalam skala besar hampir selalu diikuti oleh pelemahan indeks secara signifikan. Namun, kondisi ini mulai berubah drastis. Peran investor domestik, khususnya investor ritel, kini semakin meningkat dalam menyerap tekanan jual dari investor asing, sehingga mampu menjaga stabilitas IHSG.






