Tren

Mengungkap Fakta di Balik Mitos: Benarkah Transmisi Matik CVT Lemah Saat Melibas Tanjakan Curam?

Transmisi matik Continuously Variable Transmission (CVT) telah menjadi pilihan populer di kalangan pengendara perkotaan. Sistem girboks otomatis ini dikenal menawarkan kenyamanan berkendara dan efisiensi bahan bakar yang optimal, berkat karakteristik perpindahan rasio yang halus tanpa hentakan. Tak heran, mobil bertransmisi CVT banyak ditemukan pada segmen city car hingga SUV modern.

Namun, di balik berbagai keunggulannya, sebuah anggapan umum kerap terdengar: mobil matik CVT dianggap kurang kuat saat melibas tanjakan. Pertanyaan ini seringkali menjadi pertimbangan utama bagi calon pembeli mobil, terutama mereka yang tinggal di daerah dengan kontur jalan menanjak. Lantas, benarkah mitos tersebut?

Simak artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id

Pakar Otomotif Beri Penjelasan

Hardi Wibowo, Pemilik Aha Motor Yogyakarta, menegaskan bahwa transmisi CVT memang didesain khusus untuk penggunaan di perkotaan. Menurutnya, sistem ini kurang cocok jika dipaksakan untuk melibas tanjakan ekstrem.

“Khusus transmisi matik CVT sebaiknya tidak dipaksakan untuk melibas tanjakan, karena jika dipaksakan dengan menginjak pedal gas dalam akan berisiko merusak puli dan sabuk bajanya,” ucap Hardi kepada Kompas.com, pada Sabtu, 10 Januari 2026.

Senada dengan Hardi, Iwan, pemilik Iwan Motor Honda Auto Clinic di Solo, juga menjelaskan bahwa desain matik CVT memang ditujukan untuk jalanan datar. Tujuan utamanya adalah untuk menghemat bahan bakar minyak (BBM) dan memberikan perpindahan gigi yang sangat halus.

Iwan menambahkan, mobil CVT yang cenderung tidak kuat menanjak umumnya adalah yang menggunakan komponen puli dan sabuk baja (steel belt) berukuran kecil. “Desain CVT yang menggunakan dua pulley yang saling berhubungan untuk menentukan percepatan. Biasanya yang tidak kuat nanjak menggunakan pulley yang ukurannya kecil dan stel belt juga kecil,” kata Iwan kepada Kompas.com.

Faktor Ukuran Puli dan Penggerak Roda Depan

Lebih lanjut, Iwan menjelaskan bahwa ukuran puli dan steel belt yang kecil berdampak pada torsi yang dihasilkan. Torsi yang kurang inilah yang menjadi penyebab utama mobil jenis city car dengan transmisi CVT kecil kesulitan saat menanjak.

Namun, tidak semua mobil CVT memiliki kelemahan ini. Mobil dengan ukuran puli dan sabuk baja yang lebih besar, atau bahkan menggunakan sabuk ganda (belt double), tidak akan bermasalah saat digunakan di jalan menanjak. “Mobil-mobil SUV sudah menggunakan ini,” imbuh Iwan.

Selain ukuran komponen transmisi, faktor penggerak roda juga turut memengaruhi performa mobil matik CVT di tanjakan. Iwan menyoroti bahwa umumnya CVT diaplikasikan pada mobil dengan penggerak roda depan. “Ini juga menambah kelemahan tenaga mobil untuk menanjak,” jelasnya.

Mureks merangkum, meskipun ada beberapa keterbatasan di tanjakan, mobil bertransmisi CVT tetap unggul dalam hal efisiensi bahan bakar dan kenyamanan saat dikendarai di jalan datar. “Kesimpulannya, matik CVT lebih banyak kehilangan torsi saat menanjak dan beban berat,” pungkas Iwan.

Mureks