Tren

Inovasi Warga Jakarta: Kampung Hidroponik Pengadegan Buktikan Lahan Sempit Bisa Jadi Sumber Pangan Mandiri

Kelurahan Pengadegan, Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan, berhasil mengubah kawasan permukiman padat menjadi sebuah “Kampung Hidroponik” yang produktif dan asri. Pemandangan gang-gang yang dihiasi tanaman dalam pot besar dan rak bertingkat ini menjadi oase langka di tengah hiruk pikuk ibu kota.

Inovasi Warga RT 002 RW 03: Memanfaatkan Lahan Sempit

Konsep kampung hijau ini digagas dan digerakkan secara mandiri oleh warga RT 002 RW 03. Mereka secara cerdas memanfaatkan ruang sempit di sekitar rumah untuk menanam berbagai jenis tumbuhan. Penataan tanaman dilakukan secara rapi, menggunakan pot besar, pot kecil, hingga sistem bertingkat yang tidak hanya mempercantik lingkungan tetapi juga sangat fungsional.

Artikel informatif lainnya tersedia di Mureks melalui laman mureks.co.id.

Ketua RT 002 RW 03, Tedja Sukmana, menjelaskan bahwa penanaman pepohonan dalam pot besar bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang lebih asri. Sementara itu, pemilihan tanaman sayur dan tanaman obat dilakukan agar memiliki manfaat langsung bagi kebutuhan sehari-hari warga.

Akses Mudah Tanaman Obat dan Sayuran Segar

Inisiatif ini tidak hanya berfokus pada estetika, tetapi juga secara signifikan mendukung ketahanan pangan skala rumah tangga. Warga kini dapat memetik sayur dan tanaman obat langsung dari gang atau depan rumah mereka, tanpa perlu repot pergi ke pasar.

“Kami mempersilakan mereka memetik beberapa jenis tanaman obat yang diperlukan. Jika ada warga yang bingung mencari obat tradisional, kami juga dengan senang hati menunjukkan dan menjelaskan khasiatnya,” ujar Tedja Sukmana, menegaskan komitmen komunitas dalam berbagi pengetahuan dan sumber daya.

Kemudahan akses terhadap tanaman obat ini sangat membantu warga dalam mengatasi keluhan kesehatan ringan atau luka kecil. Selain tanaman obat, berbagai jenis sayuran juga ditanam secara mandiri, memastikan pasokan sayuran segar yang bisa dipetik kapan saja dibutuhkan, sekaligus menghemat biaya belanja.

Dukungan DPRD DKI dan Penguatan Ketahanan Pangan

Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta, Wa Ode Herlina, memberikan apresiasi tinggi terhadap langkah inovatif warga Pengadegan. Menurutnya, kebiasaan bertani di lahan terbatas merupakan solusi realistis dan cerdas untuk wilayah perkotaan seperti Jakarta.

“Selama ini kebutuhan sayur warga sangat bergantung pada pasokan dari luar Jakarta. Hampir semuanya didatangkan dari pasar tradisional maupun pasar modern,” kata Wa Ode, menyoroti urgensi kemandirian pangan di ibu kota.

Meskipun hasil panen masih dalam skala terbatas, Wa Ode menggarisbawahi pentingnya semangat warga untuk mandiri pangan. Upaya ini dinilai sebagai langkah awal yang krusial dalam menciptakan ketahanan pangan keluarga secara berkelanjutan. “Istilahnya, ini menciptakan ketahanan pangan untuk mereka dan keluarganya,” tambahnya.

Menghidupkan Kembali Semangat Gotong Royong

Lebih dari sekadar urusan pangan, program gang hijau ini juga membawa dampak sosial yang mendalam. Warga kembali aktif berinteraksi dan bekerja sama dalam merawat lingkungan, memperkuat ikatan komunitas.

Wa Ode Herlina menambahkan, keberhasilan Kampung Hidroponik Pengadegan turut berfungsi menghidupkan kembali nilai gotong royong yang kian penting di tengah kehidupan perkotaan yang cenderung individualistis. Tim redaksi Mureks melihat bahwa program ini tak hanya soal pangan, tetapi juga menghidupkan kembali semangat kebersamaan.

Program ini menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan lahan bukanlah penghalang untuk berinovasi. Kampung Hidroponik Pengadegan menunjukkan bagaimana lingkungan yang hijau, sehat, dan produktif dapat diwujudkan mulai dari level paling dasar, yakni partisipasi aktif warga.

Mureks