Keuangan

IHSG Dekati 9.000 di Awal 2026, Herman Tjahjadi Prediksi Sentuh 10.000 Didukung Penurunan Suku Bunga The Fed

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan tren positif yang berkelanjutan di awal tahun 2026. Pada perdagangan Rabu, 7 Januari 2026, IHSG terpantau berada di level 8.900-an, menandakan kepercayaan pasar yang kuat terhadap prospek ekonomi domestik.

Optimisme ini diperkuat oleh pandangan Herman Tjahjadi, Chief Investment Officer BRI Manajemen Investasi, yang memproyeksikan IHSG berpotensi menyentuh level 10.000 pada tahun 2026. Prediksi ini sejalan dengan ramalan Menteri Keuangan Purbaya yang sebelumnya juga mengemukakan target serupa.

Baca artikel informatif lainnya di Mureks melalui laman mureks.co.id.

Faktor Pendorong Kenaikan IHSG

Kinerja positif IHSG dalam empat bulan terakhir menjadi salah satu indikator utama. Mureks merangkum, indeks saham domestik mampu melesat signifikan, terutama ditopang oleh performa gemilang sektor metal dan mining, serta saham-saham konglomerasi yang menunjukkan ketahanan di tengah dinamika pasar.

Selain itu, fundamental ekonomi Indonesia yang masih sangat kuat menjadi daya tarik tersendiri bagi investor asing. Arus modal asing terus mengalir ke pasar negara berkembang (emerging market), termasuk Indonesia, mencari peluang investasi di tengah stabilitas makroekonomi.

Sentimen Penurunan Suku Bunga The Fed

Dari sisi global, prospek penurunan suku bunga acuan oleh Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) juga menjadi sentimen positif yang signifikan. Upaya The Fed untuk mendorong pertumbuhan ekonomi AS diperkirakan akan menciptakan iklim yang lebih kondusif bagi pasar keuangan global, termasuk Indonesia.

Penurunan suku bunga The Fed biasanya berimplikasi pada pergeseran investasi ke aset-aset berisiko lebih tinggi di negara berkembang, yang menawarkan imbal hasil lebih menarik dibandingkan pasar maju.

Prospek Investasi di Awal 2026

Dalam kondisi pasar saat ini, reksa dana pendapatan tetap (RDPT) masih dianggap memiliki prospek imbal hasil yang menarik. Instrumen ini menawarkan stabilitas di tengah volatilitas, menjadikannya pilihan yang relevan bagi investor yang mencari keseimbangan antara risiko dan potensi keuntungan.

Sementara itu, sektor metal dan mining juga terus mendapatkan keuntungan dari sentimen ketegangan geopolitik global. Harga komoditas yang cenderung naik di tengah ketidakpastian geopolitik memberikan dorongan positif bagi kinerja perusahaan-perusahaan di sektor ini.

Analisis mendalam mengenai arah pergerakan pasar keuangan Indonesia dan prospek investasi awal tahun 2026 ini sebelumnya dibahas dalam dialog antara Andi Shalini dengan Herman Tjahjadi di program Power Lunch, CNBC Indonesia, pada Rabu, 7 Januari 2026.

Mureks