JAKARTA – Kinerja pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) di Indonesia sepanjang tahun 2025 dinilai belum memenuhi target yang ditetapkan. Institute for Essential Services Reform (IESR) menyoroti bahwa meskipun pemerintah mencatat adanya peningkatan bauran energi terbarukan, realisasi di lapangan masih jauh dari harapan.
Chief Executive Officer IESR, Fabby Tumiwa, menyampaikan penilaian ini sebagai respons terhadap laporan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengenai capaian sektor energi sepanjang 2025. Menurut Fabby, penambahan kapasitas EBT pada tahun tersebut sangat minim.
Selengkapnya dapat dibaca melalui Mureks di laman mureks.co.id.
Target Bauran Energi Terbarukan yang Belum Tercapai
“Kinerja energi terbarukan tidak sesuai target. Bila dibandingkan dengan realisasi total kapasitas energi terbarukan terpasang di 2024 sebesar 14,3 GW, di tahun 2025 penambahan kapasitas hanya berkisar 1,3 GW,” ujar Fabby dalam keterangan resminya pada Sabtu, 10 Januari 2026.
Sebelumnya, Kementerian ESDM melaporkan bahwa kapasitas terpasang pembangkit energi terbarukan kumulatif pada 2025 mencapai sekitar 7 gigawatt (GW), dengan bauran energi terbarukan sebesar 15,75 persen. Angka ini menunjukkan kenaikan 1,1 persen dibandingkan capaian 2024 yang berada di level 14,65 persen.
Namun, Fabby menegaskan bahwa capaian 15,75 persen tersebut masih di bawah target Kebijakan Energi Nasional (KEN) terbaru, yang menetapkan kisaran 17 hingga 19 persen untuk tahun 2025. “Walaupun target bauran ET telah dikoreksi dari 23 persen menjadi 17 persen sampai 19 persen di 2025 dalam Kebijakan Energi Nasional (KEN) yang baru, namun bauran energi terbarukan untuk listrik hanya mencapai 15,75 persen, di bawah target KEN,” jelasnya.
Fabby juga mengkritisi klaim penambahan pembangkit EBT terbesar pada 2025. Menurutnya, penambahan tersebut sebagian besar ditopang oleh Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap yang dipasang oleh konsumen listrik, bukan proyek berskala besar. Sementara itu, realisasi proyek EBT yang telah direncanakan dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN tidak sesuai target.
Dampak pada Emisi dan Pertumbuhan Ekonomi
IESR turut menyoroti implikasi pengembangan energi terbarukan terhadap penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) dan pertumbuhan ekonomi. Catatan Mureks menunjukkan, berdasarkan studi Indonesia Energy Transition Outlook (IETO) 2026, dalam skenario No Further Effort, porsi energi terbarukan hanya akan mencapai 41 hingga 43 persen dari bauran energi primer pada tahun 2060.
Kondisi ini diproyeksikan akan menyebabkan emisi GRK terus meningkat seiring pertumbuhan produk domestik bruto (PDB), mencapai 1.104 juta ton CO2 ekuivalen (MtCO2e) pada 2060, dengan asumsi pertumbuhan ekonomi 8 persen.
Sebaliknya, dalam skenario Extra Effort, dengan porsi energi terbarukan mencapai 77 persen, Indonesia dapat meraih pertumbuhan PDB yang sebanding sekaligus menurunkan emisi GRK secara signifikan menjadi sekitar 436 MtCO2e pada tahun 2060.
Realisasi Investasi EBT Melebihi Target
Di sisi lain, Kementerian ESDM mencatat adanya kabar baik dari sisi investasi. Realisasi investasi energi baru terbarukan dan konservasi energi (EBTKE) pada tahun 2025 mencapai 2,4 miliar dollar AS. Angka ini melampaui target yang ditetapkan sebesar 1,5 miliar dollar AS.






