Keuangan

Saham Rolls-Royce Terus Melaju, Cetak Rekor Harian Sepanjang 2026 Didorong Bisnis Pertahanan dan Energi

, perusahaan kedirgantaraan dan pertahanan asal Inggris, terus mencetak rekor tertinggi baru pada setiap hari perdagangan sepanjang tahun 2026. Kinerja impresif ini didorong oleh berbagai lini bisnis strategis, mulai dari sektor pertahanan, power systems, hingga reli pasar saham FTSE 100 secara keseluruhan.

Dalam lima tahun terakhir, saham Rolls-Royce telah melonjak hampir 1.200 persen. Peningkatan belanja pertahanan global menjadi tema besar yang mengangkat kinerja saham perusahaan belakangan ini, seiring dengan memanasnya tensi geopolitik dunia.

Mureks juga menyajikan berbagai artikel informatif terkait. mureks.co.id

Meskipun telah menguat sekitar 10 persen sepanjang 2026, kinerja Rolls-Royce masih sedikit tertinggal dibandingkan sejumlah saham pertahanan Eropa lainnya seperti Rheinmetall, Leonardo, Saab, dan BAE Systems. Catatan Mureks menunjukkan, ketegangan geopolitik di awal tahun 2026, termasuk serangan besar Amerika Serikat ke Venezuela dan penangkapan Presiden Nicolás Maduro, serta pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait rencana mengambil alih Greenland, turut memicu lonjakan saham-saham sektor pertahanan secara umum.

Bisnis Power Systems Jadi Penopang Utama

Namun, Rolls-Royce tidak semata-mata bergantung pada bisnis pertahanan. Segmen ini hanya menyumbang sekitar 25 persen dari pendapatan dasar perusahaan dan pertumbuhannya relatif terbatas pada laporan kinerja semester terakhir.

Chief Financial Officer Rolls-Royce, Helen McCabe, menjelaskan kepada CNBC bahwa dampak pertumbuhan jangka pendek justru terlihat di bisnis power systems. “Menariknya, dalam jangka pendek, dampak pertumbuhan [pertahanan] itu tidak terlihat di bisnis pertahanan kami, tetapi justru di bisnis power systems, yang memiliki siklus pemerintahan, dan kami punya posisi terdepan di pertahanan darat dan laut, yang biasanya bergerak dalam siklus lebih pendek,” ujar McCabe.

Segmen power systems Rolls-Royce memproduksi mesin untuk kapal dan kapal selam, sekaligus menaungi bisnis pusat data (data center). McCabe menyebut potensi bisnis ini “sangat besar”, dengan pesanan yang melonjak 85 persen secara tahunan.

Prospek Jangka Panjang dan Target Harga

Sementara itu, unit civil aerospace yang menjadi kontributor pendapatan terbesar Rolls-Royce—produsen mesin pesawat untuk Boeing dan Airbus—dinilai analis UBS Ian Douglas-Pennant sebagai kisah pemulihan jangka panjang.

UBS pun menaikkan target harga saham Rolls-Royce menjadi 1.625 pence dari sebelumnya 1.350 pence. Kenaikan target tersebut didorong oleh revisi proyeksi pertumbuhan penjualan pembangkit listrik menjadi 26 persen hingga 2028, dari sebelumnya 20 persen untuk periode 2024–2028. Dengan proyeksi tersebut, laba operasional (EBIT) bisnis power systems diperkirakan bisa melonjak hingga 60 persen pada tahun 2028.

Rolls-Royce juga tengah mengembangkan bisnis pembangkitan energi. Pada Juni lalu, perusahaan mendapat dukungan pemerintah Inggris untuk membangun reaktor nuklir modular kecil pertama di negara tersebut, menunjukkan diversifikasi portofolio yang menjanjikan.

Meski prospeknya positif, valuasi saham menjadi perhatian investor. Rasio harga terhadap laba (price-to-earnings ratio) Rolls-Royce untuk 12 bulan ke depan telah melampaui 36 kali, lebih tinggi dibandingkan sebagian besar pesaingnya, menurut data LSEG.

Investor kini menantikan laporan keuangan tahunan Rolls-Royce yang dijadwalkan rilis pada 26 Februari, sekaligus mencermati perkembangan rencana pembelian kembali saham (buyback) yang diumumkan perusahaan pada Desember lalu.

Mureks