Harga emas dunia terus mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah, bahkan menembus 4.500 dollar AS per troy ons pada Desember 2025. Sepanjang tahun 2025, komoditas logam mulia ini melesat lebih dari 70 persen, mengungguli performa indeks saham AS, Eropa, dan bahkan Bitcoin. Fenomena ini tidak hanya menarik, tetapi juga mengindikasikan adanya krisis kepercayaan global yang semakin membesar.
Setelah era pasca-Perang Dunia, banyak negara meninggalkan emas sebagai acuan dan beralih ke mata uang dolar AS. Amerika Serikat, sebagai pemenang perang dan pemimpin ekonomi global saat itu, mendorong globalisasi yang menjadikan dolar AS sebagai acuan transaksi internasional dan cadangan devisa bank sentral berbagai negara.
Artikel informatif lainnya dapat dibaca di Mureks mureks.co.id.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, tren ini berbalik. Bank-bank sentral seperti China, Rusia, dan Polandia, secara konsisten membeli emas dalam jumlah besar. Mureks mencatat bahwa World Gold Council (WGC) melaporkan pembelian sekitar 1.000 ton emas setiap tahunnya oleh bank sentral selama tiga tahun terakhir. Lonjakan harga emas ini memunculkan pertanyaan mendasar: apa yang sebenarnya terjadi?
Krisis Kepercayaan Global Memicu Lonjakan Emas
Meletusnya perang antara Rusia dan Ukraina menjadi titik tolak krusial bagi sistem keuangan global. Amerika Serikat dan sekutunya memberlakukan sanksi-sanksi keras terhadap pemerintah hingga korporasi Rusia.
Para elite keuangan dunia kemudian membentuk Russian Elites, Proxies, and Oligarchs (REPO) Task Force, yang melibatkan AS, Australia, dan negara-negara G7. REPO Task Force membekukan seluruh aset dan transaksi bank sentral Rusia senilai total 300 miliar dollar AS. Rekening-rekening besar di berbagai bank di AS dan Eropa dikunci, dan akses Rusia terhadap sistem kliring internasional seperti SWIFT dan Euroclear ditutup total.
Rentetan sanksi tersebut tidak hanya menghantam pemerintah Rusia, tetapi juga korporasi dan pengusaha yang masuk dalam daftar Specially Designated Nationals (SND). Contoh paling ikonik adalah Roman Abramovich, yang terpaksa menjual Chelsea FC serta aset-aset mewahnya di London.
Pembekuan kekayaan negara Rusia yang terjadi dalam sekejap oleh REPO Task Force ini menjadi “alarm” bagi berbagai negara. Peristiwa ini mengirimkan sinyal kuat bahwa jika hal serupa menimpa Rusia, maka di masa depan, hal yang sama bisa terjadi pada negara manapun, memperkuat sentimen krisis kepercayaan global.






