Sekuel film bencana yang dinanti, GREENLAND 2: MIGRATION, telah tayang di bioskop Tanah Air, melanjutkan kisah perjuangan keluarga Garrity menghadapi krisis pasca-komet. Film ini kembali menampilkan Gerard Butler sebagai John Garrity, bersama Morena Baccarin sebagai Allison dan Roman Griffin Davis sebagai putra mereka, dalam sebuah petualangan yang lebih dahsyat.
Setelah bencana hujan komet antar-bintang melanda bumi di film pertama pada tahun 2020, yang memicu gelombang kehancuran masif mulai dari badai radiasi hingga tsunami raksasa, para penyintas berlindung di bunker-bunker di Greenland. Keluarga Garrity adalah salah satu yang berhasil mencapai tempat aman tersebut. Namun, setelah bertahun-tahun bersembunyi, mereka memutuskan untuk meninggalkan bunker dan menantang dunia yang kini hancur dan beracun, demi menemukan tempat tinggal baru yang layak.
Baca artikel informatif lainnya di Mureks melalui laman mureks.co.id.
Intensitas Tanpa Henti dan Visual Memukau
Bagi penonton yang menyukai ketegangan tingkat tinggi namun bukan horor, GREENLAND 2: MIGRATION menawarkan pengalaman yang memuaskan. Sejak awal hingga akhir, film ini menyuguhkan rentetan rintangan yang membuat penonton hampir tidak diberi waktu untuk bernapas. Perjalanan migrasi keluarga Garrity dari bunker menuju dasar kawah baru yang diharapkan menjadi pemukiman, selalu dipenuhi tantangan ekstrem, baik dari cuaca maupun gangguan lainnya.
Sebagai film bencana, penggunaan Computer-Generated Imagery (CGI) menjadi elemen krusial. Dalam sekuel ini, CGI terasa pas dan tidak berlebihan, berhasil menciptakan suasana nyata kondisi bumi setelah kehancuran massal. Beberapa adegan terbaik yang menonjolkan kualitas CGI adalah momen tsunami yang melanda bunker di Greenland serta rombongan John Garrity yang bersandar di gedung tinggi di Liverpool yang sudah tenggelam.
Selain visual, detail kecil juga mendapat perhatian serius. Contohnya, perbedaan kemudi mobil yang ditampilkan saat keluarga John berada di London (kemudi kiri) dan setelah menyeberang ke Prancis (kemudi kanan), sesuai dengan sistem lalu lintas di masing-masing negara. Efek suara bencana seperti dentuman tanah retak, suara magma dari perut bumi, ombak, badai, petir, hingga komet jatuh ke hutan turut memperkaya pengalaman menonton, menciptakan sensasi eargasm yang memukau.
Konflik Kemanusiaan di Tengah Bencana
GREENLAND 2: MIGRATION tidak hanya mengandalkan dentuman petir atau sapuan badai untuk menghidupkan cerita. Film ini juga menyelipkan konflik kemanusiaan, seperti perebutan wilayah, zona perang, dan drama keluarga, yang memberikan kedalaman pada narasi. Meskipun secara umum hanya menjual satu plot utama tanpa sub-plot yang kompleks, hal ini dimaklumi mengingat tema “migrasi” yang diusung, fokus pada perjalanan keluarga Garrity mencari harapan baru.
Gerard Butler: Sang Penyelamat Film
Gerard Butler kembali menunjukkan performa standar tingginya sebagai protagonis utama. Ia memerankan sosok pria alpha yang tegas, cerdas, berani, sekaligus ayah dan suami yang hangat. Dalam sebuah adegan tembak-menembak, penonton mungkin akan teringat perannya di ‘Has Fallen Series’, di mana ia selalu sigap melindungi. Tanpa mengurangi rasa hormat terhadap pemeran lain seperti Morena Baccarin dan Roman Griffin Davis, akting dominan Gerard Butler dapat disebut “menggendong” film ini sendirian, menjadi daya tarik utama yang kuat.
Plot yang Mudah Ditebak dan Perbandingan dengan Film Pertama
Namun, film ini memiliki beberapa kekurangan. GREENLAND 2: MIGRATION mungkin kurang cocok bagi penikmat plot twist atau open ending. Alur ceritanya terbilang standar, dengan ketegangan yang terus menanjak seiring durasi dan mencapai klimaks di akhir. Catatan Mureks menunjukkan, bila dibandingkan dengan film pertamanya, sekuel ini terlihat lebih sederhana dari segi plot, setting, dan konflik. Penonton bahkan sudah bisa menebak akhir cerita di tiga perempat durasi penayangan.
Meskipun demikian, tim redaksi Mureks memberikan rating 8,2/10 untuk film yang kini sedang tayang di bioskop ini. Film ini direkomendasikan untuk ditonton secara kasual, bahkan tanpa perlu menyaksikan film pertamanya terlebih dahulu, berkat alur yang cukup mandiri dan ketegangan yang disajikan.






