Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan kinerja ekspor Indonesia mengalami kontraksi signifikan pada November 2025. Total nilai ekspor tercatat sebesar 22,52 miliar dollar AS, atau setara Rp 371,58 triliun, anjlok 6,60 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Penurunan tajam ini, menurut BPS, terutama dipicu oleh melemahnya sektor pertambangan dan lainnya. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, menjelaskan bahwa sektor tersebut mencatat kontraksi paling dalam, yakni sebesar 22,28 persen, dengan andil penurunan mencapai 3,55 persen terhadap total ekspor.
Mureks juga menyajikan berbagai artikel informatif terkait. mureks.co.id
“Pelemahan ini dipicu oleh turunnya nilai ekspor sejumlah komoditas utama, seperti batu bara, bijih tembaga, lignit, bijih zirkonium, niobium dan tantalum, serta bijih titanium,” ujar Pudji dalam konferensi pers di kantor BPS, Jakarta, pada Senin (5/1/2026).
Rincian Kinerja Ekspor per Sektor
Secara lebih rinci, nilai ekspor migas pada November 2025 tercatat sebesar 0,88 miliar dollar AS (sekitar Rp 14,52 triliun), turun drastis 32,88 persen. Sementara itu, ekspor nonmigas juga terkoreksi 5,09 persen menjadi 21,64 miliar dollar AS, atau setara Rp 357,06 triliun.
Mureks mencatat bahwa dominasi ekspor nonmigas pada November 2025 masih dipegang oleh sektor industri pengolahan dengan nilai 18,11 miliar dollar AS (sekitar Rp 298,82 triliun). Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menyumbang 0,54 miliar dollar AS (Rp 8,91 triliun), sedangkan sektor pertambangan dan lainnya sebesar 2,99 miliar dollar AS (Rp 49,34 triliun).
Pudji menambahkan, secara tahunan, seluruh sektor tersebut mengalami penurunan kinerja ekspor pada November 2025.
Kinerja Kumulatif dan Komoditas Unggulan
Meski terjadi kontraksi pada November, secara kumulatif sepanjang Januari hingga November 2025, total nilai ekspor Indonesia mencapai 256,56 miliar dollar AS (setara Rp 4.233,24 triliun), tumbuh 5,61 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini terutama ditopang oleh kinerja ekspor nonmigas yang mencapai 244,75 miliar dollar AS (sekitar Rp 4.038,38 triliun), naik 7,07 persen secara tahunan.
BPS juga mencatat tiga komoditas unggulan yang menyumbang sekitar 28,35 persen dari total ekspor nonmigas Indonesia selama Januari-November 2025:
- Besi dan baja: Masih menunjukkan pertumbuhan positif sebesar 9,12 persen.
- Batu bara: Mengalami penurunan cukup dalam sebesar 20,27 persen.
- Minyak kelapa sawit (CPO) dan produk turunannya: Mencatat kenaikan signifikan sebesar 19,15 persen.
Negara Tujuan Ekspor Utama
Dari sisi negara tujuan, Tiongkok, Amerika Serikat, dan India menjadi tiga pasar utama ekspor nonmigas Indonesia sepanjang Januari hingga November 2025, dengan pangsa gabungan sekitar 42,02 persen.
- Ekspor nonmigas ke Tiongkok didominasi oleh komoditas besi dan baja dengan pangsa 28,04 persen dan pertumbuhan 12,80 persen.
- Ekspor ke Amerika Serikat terutama ditopang oleh mesin dan perlengkapan elektrik beserta bagiannya, dengan pangsa 19,66 persen dan lonjakan pertumbuhan sebesar 43,83 persen.
- Adapun ekspor nonmigas ke India masih didominasi oleh bahan bakar mineral dengan pangsa 29,74 persen. Namun, kinerja ekspor ke negara tersebut justru mengalami penurunan tajam sebesar 24,70 persen.






