Data ekonomi Amerika Serikat (AS) pada pekan ini menunjukkan laju pertumbuhan tercepat dalam dua tahun terakhir. Namun, di tengah gemuruh angka makro yang impresif, jajak pendapat justru memperlihatkan suasana hati masyarakat di tingkat akar rumput tetap suram dan merasa tidak lebih sejahtera.
Fenomena ini, menurut pantauan Mureks, mengingatkan bahwa dua tren yang tampak berlawanan bisa sama-sama benar pada saat bersamaan. Pertumbuhan ekonomi yang pesat tidak serta-merta berarti semua lapisan masyarakat ikut merasakan dampaknya secara merata.
Mureks menghadirkan beragam artikel informatif untuk pembaca. mureks.co.id
PDB Melonjak, Inflasi Tetap Membayangi
Produk Domestik Bruto (PDB) sebagai indikator kinerja ekonomi AS memang melonjak pada musim panas ini. Angka pertumbuhan mencapai laju tahunan 4,3 persen, jauh melampaui ekspektasi para ekonom. Namun, lonjakan PDB tersebut tidak diikuti oleh ledakan perekrutan tenaga kerja yang signifikan, dan juga belum disertai kembalinya inflasi ke level normal yang diharapkan.
Mark Zandi, Kepala Ekonom Moody’s Analytics, menyoroti perbedaan persepsi antara data abstrak dan realitas harian warga. “PDB adalah konsep yang abstrak. Tapi orang paham soal pekerjaan. Mereka tahu betapa sulitnya mencari kerja jika kehilangan pekerjaan,” ujar Zandi kepada CNN, dikutip Kamis (01/01/2026).
Ia menambahkan, “Dan mereka tahu mereka membayar lebih mahal untuk kopi, daging sapi, listrik, penitipan anak, dan hampir semua kebutuhan lainnya.” Pernyataan ini menegaskan bahwa biaya hidup yang tinggi menjadi beban nyata bagi masyarakat, terlepas dari angka pertumbuhan ekonomi.
Ekonomi Berbentuk Huruf K Masih Berlanjut
PDB dapat diibaratkan sebagai rapor ekonomi suatu negara. Namun, seperti rapor pada umumnya, ia tidak selalu menggambarkan keseluruhan kondisi yang terjadi di lapangan. Salah satu alasan utama percepatan PDB pada kuartal ketiga adalah meningkatnya belanja konsumen.
Pola ini, Mureks mencatat, berulang di era pemerintahan Biden maupun Trump: belanja konsumen tetap tangguh meski dihadapkan pada berbagai tekanan ekonomi. Namun, laporan tersebut tidak menjelaskan secara rinci konsumen mana yang meningkatkan pengeluarannya.
Para ekonom menilai, kenaikan belanja pada kuartal ketiga kemungkinan besar didorong oleh kelompok berpendapatan tinggi. Mereka adalah pihak yang paling diuntungkan dari rekor harga properti dan lonjakan pasar saham. Sebaliknya, banyak masyarakat berpendapatan rendah dan menengah justru kesulitan bertahan. Sebagian dari mereka terpaksa mengurangi belanja dan mulai tertinggal dalam pembayaran tagihan.
“Para pensiunan dan 10 persen kelompok teratas masih menjadi penggerak utama ekonomi. Ini tetap merupakan ekonomi berbentuk huruf K,” ungkap Mike Reid, Ekonom Senior AS di RBC Capital Markets.
Ekonomi berbentuk huruf K adalah model pemulihan ekonomi di mana dua kelompok berbeda mengalami hal yang sangat berlawanan. Satu kelompok, biasanya yang kaya, makin kaya dan tumbuh (garis atas K), sedangkan kelompok lain, dalam hal ini kelas menengah bawah, terus berjuang bahkan terpuruk (garis bawah K). Kondisi ini menciptakan kesenjangan ekonomi yang makin lebar di tengah pertumbuhan PDB yang tinggi.
Meskipun masyarakat mungkin tidak merasakan tingginya PDB, mereka sangat merasakan tingginya harga kebutuhan pokok dan jasa. Inflasi yang terus terasa menjadi faktor utama yang menekan daya beli dan kesejahteraan mereka.






