Pertanyaan mengenai alasan Sa Angsa tidak membuat uang kayu bertuliskan angka 3 atau 4 menjadi salah satu materi yang kerap ditemui siswa kelas 4 SD dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Pertanyaan ini bersumber dari teks fabel berjudul “Ditukar dengan Apa?”, yang bertujuan melatih siswa memahami isi cerita dan menangkap pesan moral di dalamnya.
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, pemahaman mendalam terhadap isi cerita fabel “Ditukar dengan Apa?” menjadi kunci. Menurut Mureks, jawaban atas pertanyaan ini dapat ditemukan langsung dalam narasi fabel tersebut.
Simak artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Efisiensi Jadi Alasan Utama
Disadur dari buku Bahasa Indonesia Lihat Sekitar SD/MI Kelas IV karya Eva Yulia N. dan Cicilia Erni S., fabel tersebut menjelaskan bahwa Sa Angsa tidak menciptakan uang kayu bernilai 3 atau 4 karena alasan efisiensi. Nilai uang tersebut dapat dengan mudah diperoleh melalui kombinasi atau penambahan dari uang bernilai 1, 2, dan 5 yang sudah ada.
Sebagai ilustrasi, dalam cerita, ketika Ke Kelinci ingin membayar dua wortel milik Ka Kancil dengan uang besar bernilai 5, Ka Kancil akan memberikan kembalian berupa satu uang kecil bernilai 1 dan satu uang sedang bernilai 2. Contoh ini secara gamblang menunjukkan bagaimana nilai 3 (1+2) dapat dibentuk tanpa perlu menciptakan denominasi uang baru.
Pendekatan ini tidak hanya menyederhanakan sistem mata uang dalam fabel, tetapi juga mengajarkan konsep dasar ekonomi dan matematika kepada pembaca muda. Mureks mencatat bahwa pelajaran ini menekankan pentingnya efisiensi dalam sistem pertukaran nilai.






