Internasional

Dirut Bulog Ahmad Rizal Ramdhani Minta Dukungan APBN 2026: “Bunga Pinjaman Bank Tinggi”

Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, memaparkan sejumlah rencana strategis perusahaan untuk tahun 2026. Fokus utama Bulog mencakup target serapan beras dan jagung dalam jumlah besar, pembangunan infrastruktur pascapanen, serta penyaluran bantuan pangan dan Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) sepanjang tahun.

Rizal menegaskan bahwa untuk merealisasikan seluruh penugasan tersebut, Bulog sangat membutuhkan dukungan pendanaan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). “Harapan kami, kita dapat dukungan dana APBN, sehingga tidak ada bunga-bunga lagi. Kalau di bank-bank himbara kan bunganya agak tinggi, mudah-mudahan kita dapat APBN ataupun dapat dana bantuan OIP yang bunganya hanya 2%,” ujar Rizal dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Jumat (2/1/2026).

Mureks menghadirkan beragam artikel informatif untuk pembaca. mureks.co.id

Target Serapan Komoditas dan Infrastruktur

Pada tahun 2026, Bulog ditugaskan untuk menyerap beras sebanyak 4 juta ton setara beras, sesuai keputusan rapat koordinasi terbatas (rakortas). Selain beras, Bulog juga akan menyerap jagung sebanyak 1 juta ton guna menjaga stabilitas pasokan dan harga pakan ternak.

  • Serapan Beras: 4 juta ton setara beras.
  • Serapan Jagung: 1 juta ton.

“Rencana strategis untuk 2026 ini yang pertama adalah ke depan Bulog yang akan menjalankan serapan sesuai dengan keputusan Rakortas kemarin adalah 4 juta ton beras,” kata Rizal. Ia menambahkan, “Dan kemudian yang kedua rencana berikutnya adalah penyerapan jagung 1 juta ton tahun 2026.”

Untuk mendukung peningkatan serapan tersebut, Bulog menyiapkan pembangunan 100 infrastruktur pascapanen. “Ditambah lagi berikutnya pembangunan 100 infrastruktur pasca panen baik gudang maupun RMU (rice milling unit) dan sebagainya,” sebutnya.

Penyaluran Bantuan Pangan dan SPHP

Bulog juga akan menjalankan penugasan penyaluran Minyakita, sebesar 35% dari skema Domestic Market Obligation (DMO) nasional. Selain itu, pada 2026 Bulog direncanakan menyalurkan bantuan pangan selama empat bulan kepada 18 juta penerima manfaat, dengan total sekitar 720 ribu ton.

“Kemudian yang berikutnya adalah penyaluran bantuan pangan untuk 4 bulan, tahun 2026 itu sekitar 720 ribu ton untuk 18 juta penerima bantuan penerima manfaat,” jelas Rizal.

Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) akan tetap menjadi instrumen utama Bulog pada 2026, dengan target penyaluran 1,5 juta ton sepanjang tahun. “Kemudian berikutnya adalah penyaluran SPHP. Nah SPHP ini juga sama 1,5 juta ton dan direncanakan ini sepanjang tahun. Kalau kemarin kan putus-putus, jadi sehingga cuma ada 8 bulan kemarin kan,” tutur Ahmad Rizal.

Penyaluran SPHP tahun ini akan dilakukan sepanjang tahun, namun dengan penyesuaian volume saat puncak musim panen. “Nah ini harapannya untuk SPHP tahun 2026 itu sepanjang tahun, namun nanti di saat musim panen, di saat puncak musim panen bulan Maret dan bulan April termasuk bulan Agustus itu kita penyaluran di daerah-daerah sentra produksi pangan, penyaluran SPHP ini dikurangi, dikecilkan volumenya tapi tetap dilakukan,” terang Rizal.

Pengurangan volume hanya dilakukan di wilayah sentra produksi pangan seperti Jawa, Sumatera, Sulawesi Selatan, dan NTB, agar tidak menekan harga di tingkat produsen. “Supaya tidak tidak tumpah banyak di pasaran, tapi yang di daerah-daerah yang tidak sentra produksi pangan, SPHP-nya tetep jalan seperti biasa,” katanya. “Tapi khusus di daerah-daerah sentra produksi pangan seperti Jawa, Sumatera, Sulawesi Selatan, NTB itu SPHP-nya dikecilkan volumenya, tapi yang lain tetep berjalan seperti,” lanjut dia.

Bulog juga menyiapkan cadangan khusus untuk bantuan pangan dalam kondisi darurat sebesar 25.000 ton, sesuai hasil rakortas.

Kebutuhan Anggaran dan Koordinasi dengan Pemerintah

Untuk merealisasikan seluruh penugasan tersebut, Bulog tengah mengoordinasikan kebutuhan anggaran dengan pemerintah, khususnya Kementerian Keuangan (Kemenkeu). “Terkait dengan anggaran sedang kita siapkan, dalam hal ini kami sedang koordinasikan dengan Kementerian Keuangan. Kita akan rapat secepatnya khususnya untuk tugas penyerapan yang 4 juta ton beras, ditambah 1 juta ton jagung,” ujarnya.

Mureks mencatat bahwa dukungan APBN menjadi krusial untuk efisiensi operasional Bulog dalam menjalankan penugasan pemerintah. Ahmad Rizal menegaskan bahwa Bulog akan segera berkoordinasi langsung dengan Kementerian Keuangan agar penyerapan beras dan jagung pada 2026 dapat segera dijalankan. “Ini mungkin kami nanti akan menghadap Menteri Keuangan dalam hal ini supaya segera kita lanjut penyerapan beras maupun jagung,” pungkasnya.

Mureks